Satrio Piningit Serat Darmogandul

Satrio Piningit Serat Darmogandul

Dalam rangka dan upaya kaum kolonialis kulit putih di Hindia menggelar 
politik pecah belah dan kuasailah (divide et impera), telah terjadi kesamaan yang persis seperti dilakukan oleh pemerintah kolonialis Inggris (British East Indies) di India dengan memberi dukungan terhadap karya Islami Mirza Ghulam Ahmad. Ternyata demikian pula yang terjadi di Hindia terhadap Serat Darmogandul yang penulisnya masih misterius pada kurun antara kekuasaan Inggris Gubernur Jenderal T.S. Raffles di Tanah Jawa hingga babak menjelang terjadinya Perang Jawa yakni perang yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro. Raffles malah sempat-sempatnya mempelajari peninggalan kebudayaan dan sastra Jawa yang kemudian dituangkan dalam History of Java terbit di London, dengan demikian dapat ditengarai pemerintah kolonial Hindia-Belanda bersama kolonialis Inggris meminjam jargon Orde Baru "patut diduga, tidak bisa tidak, langsung maupun tidak langsung"  terlibat dengan terbitnya Serat Darmogandul yang bertujuan memecah belah penduduk Pribumi Hindia.
      Sebagai bahan referensi memecahkan siapa penulis misterius Serat Darmogandul tatkala pertama kali terbit, pujangga klasik Jawa Ronggowarsito masih berusia 22 tahun, dan karya pujangga Pribumi tersebut dan juga para pendahulunya memiliki ciri khas karya mereka dalam bentuk syair nyanyian, antara lain gambuh. Sangat berbeda dengan Serat Darmogandul sudah berbentuk esai dalam bahasa Jawa campuran, ngoko dan krama inggil. Pada masa itu penulis Eropah sudah terbiasa menggunakan gaya tulisan demikian dalam bahasa Eropa, dan bisa jadi selanjutnya hasil karya penulis asing itu untuk keperluan penerbitan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sama sebagaimana bahasa yang dipergunakan dalam penulisan Serat Darmogandul.
      Selayang pandang Serat Darmogandul, pada babak perpisahan antara penasihat Majapahit, Sabdo Palon Noyo Genggong, dengan Prabu Brawijaya terjadi percakapan mengenai Satria Piningit atau Satrio Piningit (yang dimaksud di sini Ratu Adil) baru sebagai berikut:
    Sabdo Palon mengungkapkan kecewa hatinya kepada momongannya, Prabu Brawijaya, "Kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal." Kurang lebih artinya, "Saya akan mencari satrio asuhan yang bermata satu."
        Sang Prabu juga diminta oleh Sabdo Palon menjadi saksi kelak di masa depan mengenai munculnya Satria Piningit atau Satrio Piningit (yang dimaksud di sini ialah Ratu Adil) dalam percakapan berikut, "Ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon." kira-kira artinya "Kelak di masa depan akan muncul seorang Jawa menambahi pada nama aslinya nama yang dituakan: mbah, kyai, ki, dan lainnya, dan yang bersangkutan menguasai ilmu pengetahuan agama (Kejawen), dia lah yang diasuh oleh Sabdo Palon."
      Serat Darmogandul terlepas dari apakah di dalamnya itu asli atau plagiasi dari sumber lain (dari hasil karya sebelumnya oleh sang penulis Serat Darmogandul sendiri) dapat disebutkan isinya yang kontroversial ialah mengenai makar, subversif, atau upaya menggulingkan kekuasaan yang dilakukan oleh Walisongo terhadap kerajaan Majapahit. Sedangkan wali kesepuluh Syech Siti Jenar menentang makar terhadap Majapahit, maka dia harus disingkirkan dari muka bumi. Syech Jenar mengutuk salah seorang Sunan yang menghukumnya sebagai berikut, "Kelak di masa depan jika para raja (pemimpin) di Tanah Jawa hanya terdiri dari raja (pemimpin) yang sudah tua berusia lanjut, maka gantian aku yang menghukum gantung lehermu dengan lawe...."
      Serat Darmogandul sejak pertama kali diterbitkan tepat menjelang Perang Jawa meletus telah memecah belah kekuatan kaum agama (Islam) dalam melawan pemerintah Hindia-Belanda di samping itu juga telah menyurutkan dukungan massa rakyat jelata terhadap perang kaum santri tersebut. Konon pada bagian yang mengisahkan perjuangan salah seorang Sunan dalam upaya mengislamkan daerah Jawa Timur mulai Kertosono hingga Kediri dengan cara yang tidak disukai massa rakyat yakni merusak semua arca kuno berupa patung terbuat dari batu peninggalan leluhur dan mengikis habis berbagai bentuk budaya lainnya yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.
      Pertentangan antara massa rakyat Syiwa-Buddha terhadap para pendakwah dan pemeluk Islam itulah yang menjadi missi utama Serat Darmogandul sampai hari ini. Maka tidak mengherankan tatkala menjelang pemilu tahun limapuluhan Serat Darmogandul dimunculkan kembali, hingga akhirnya malahan dijadikan buku terlarang. Apakah dengan larangan itu dapat menutup jejak masa silam mengenai keruntuhan Majapahit dan cara penyebaran agama Islam oleh Walisongo tidak dilakukan secara damai? Atau berusaha menutupi bahwa Raden Patah, Sultan Demak dari kerajaan Islam pertama di Jawa itu berdarah Tiongkok keturunan Brawijaya sendiri dengan putri Campa yang sedang mengandung dihadiahkan kepada Adipati Majapahit Arya Damar dari Palembang? 
       Sebagai gambaran dalam ajaran Islam adalah halal hukumnya membasmi kekafiran dengan cara tertentu dan dalam batas tertentu. Cara kekerasan dan tanpa kekerasan dianggap relatif saja. Apalagi merusak benda yang membawa kemusyrikan adalah sangat halal. Dan di sisi lain di seberang sana tentu hal sebagai itu dianggap suatu bentuk kekerasan terhadap sebuah benda hasil budaya.
      Dan yang paling dikhawatirkan pihak tertentu dalam Serat Darmogandul ialah ucapan Sabdo Palon yang akan kembali menyebarkan agama tertentu limaratus tahun lagi sejak beliau berpisah dengan Prabu Brawijaya, dan itu dianggap kehancuran bagi agama yang lain. Anggapan demikian itu tentu saja tidak sesuai dengan roda berputarnya sejarah yang selalu menghasilkan sintesa baru, dan bukan kembali pada tesis awal. Dan sintesa yang baru itu adalah "sesuatu yang lebih unggul" yang menjadi hasil daripada pertarungan dari pihak yang saling bertentangan selama lima abad itu.

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 8:36 PM