Satrio Piningit Imam Mahdi Kitab Suci Al-Qur'an

Satrio Piningit Imam Mahdi Kitab Suci Al-Qur'an
 
mbah subowo bin sukaris

Pasca gugurnya Osama bin Laden oleh pasukan khusus pemerintah Amerika Serikat beberapa bulan berselang, dalam sebuah operasi militer di Pakistan, kemudian selanjutnya Osama bin Laden dimakamkan secara misterius oleh para pembunuhnya yakni dengan cara ditenggelamkan di lautan yang lokasinya sangat rahasia. Kejadian selanjutnya mengiringi kematian martir itu berwujud gejolak politik di negeri Islam yang berawal dari Tunisia, melompati Libya, dilanjutkan Mesir, dan kembali lagi Libya, dan berlanjut terus menuju Yaman, Suriah, dan seterusnya sampai ke Indonesia yang sudah dianggap negeri muslim yang sukses berdemokrasi dibanding yang disebut di atas, sudah bermetamorfosa menjadi kemelut politik intern Partai Demokrat yang tengah berkuasa dengan aktor utama yang dianggap antagonis, kontroversial, dan misterius: Muhammad Nazaruddin.
     Para pengamat politik menyebut teori domino yang dipercayai dan dikhawatirkan oleh badan intelijen Amerika CIA, semasa terjadinya perang Vietnam kini menjadi afdol lagi menganalisa golakan dunia Islam. Teori domino yang dikhawatirkan oleh CIA dapat terjadi ialah jika Vietnam menjadi negeri komunis, maka seluruh Asia Tenggara satu persatu akan menjadi komunis. Sekarang ini terjadi golakan dunia Islam deduksinya ialah bukan seluruh Afrika Utara, Jazirah Arab, Asia Selatan, dan Asia Tenggara menjadikan syariat Islam menjadi ideologi negara Islam, akan tetapi teori domino yang terjadi ialah terjadinya konflik terus-menerus tiada akhir, di semua negeri yang penduduknya memeluk agama Islam.
      Negeri Islam di Afrika Utara dan Jazirah Arab seolah memulai revolusi politik dalam negeri masing-masing dipicu oleh terbunuhnya Osama bin Laden. Dan di pihak lain kematian Osama bin Laden sebenarnya adalah babak pembukaan untuk menyerang Libya secara besar-besaran dengan kekuatan militer Amerika Serikat dibantu kekuatan militer Nato. Libya yang sangat keras kepala, gigih anti-Amerika dibandingkan negeri Islam lainnya tentu menjadi sasaran tembak pihak Amerika dengan upaya mengganti rejim Khadafi dengan pemimpin baru yang pro-Amerika dan Barat, demi yang namanya demokrasi Barat.
      Bergolaknya negeri Islam di seluruh dunia, mengingatkan pada sebuah ayat dalam Al-Qur'an, surah al-Ahzhab 33:40 terjemahan isinya sebagai berikut:
      "Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
     Ayat tersebut memang memupuskan harapan akan munculnya seorang pemimpin baru yang luarbiasa bijak dan bermukjizat. Pemimpin yang muncul di negeri Islam yang sedang bergolak bisa saja seorang yang istimewa atau biasa saja. Akan tetapi sebagian kalangan muslim tertentu percaya entah kapan akan muncul pemimpin baru Islam bermukjizat, dan menyebutnya Imam Mahdi, yang paralel di Jawa dengan sebutan Ratu Adil atau lebih populer disebut Satrio Pinilih yang sebelumnya jadi Satria Piningit atau Satrio Piningit. Imam Mahdi artinya Pemimpin yang Terpilih. Walaupun sebagian kalangan muslim mempercayai adanya Imam Mahdi, di kubu muslim yang lain menentang habis-habisan adanya Imam Mahdi. Menurut kubu muslim yang tidak setuju adanya pemimpin baru bagi umat Islam tersebut bersandar pada ayat al-Qur'an surah al-Ahzhab 33:40 di atas, juga menggunakan argumentasi bahwa Imam Mahdi adalah upaya kaum Yahudi nomor kesekian untuk menghancurkan Islam, yakni dengan cara merekayasa boneka Imam Mahdi yang pro-Yahudi dan pro-Amerika. Oleh karena itu kubu yang bersangkutan juga menyerang keras kubu Islam Ahmadiyah yang dibenggoli Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Seperti telah menjadi opini umum Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menjembatani kaum Hindu dan kaum Islam dengan cara memberikan tafsiran al-Qur'an yang netral dan tengah-tengah yang sesuai dengan alam pemikiran penduduk setempat dalam upaya menarik simpati umat Hindu maupun Islam sendiri di India. Sama persis yang dilakukan oleh para wali di Jawa dalam upaya menarik penduduk yang selama berabad memeluk Hindu-Buddha agar dapat lebih mudah menerima ajaran baru agama Islam.
      Hasilnya sungguh tragis bagi kubu Ahmadiyah yang dianggap telah memproklamirkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi. Serangan terhadap Ahmadiyah oleh kaum muslim yang percaya datangnya Imam Mahdi adalah demi munculnya seorang Imam Mahdi yang baru, dan tentunya tidak mengakui yang lama seperti Mirza Ghulam itu.
     Akan tetapi bagi kaum muslim yang tidak percaya datangnya Imam Mahdi, di sisi lain mengharapkan keagungan dan kejayaan umat Islam di seluruh dunia bersikap netral terhadap upaya di berbagai negeri untuk memperjuangkan syariat Islam sebagai ideologi negara.
      Umat Islam yang bersilang pendapat mengenai Imam Mahdi tentu sah-sah saja karena pikiran tidak dapat diadili sebagai terdakwa. Karena itu terjadi hanya dalam wilayah akademis atau tulisan dan filosofis atau wilayah pemikiran. Orang Jawa bilang mengenai tulisan umum yang bersinggungan dengan wilayah agama, "itu kan cuma tulisan yang dibikin manusia biasa." Dan orang Jawa yang itu juga bilang mengenai pemikiran tertentu yang bersinggungan dengan agama, "itu kan pemikiran yang cuma otak-atik gathuk."
      Lantas apa yang akan terjadi di masa depan kekuatan sosial politik keagamaan umat dan negeri Islam? Muncul dan tidaknya seorang Imam Mahdi yang akan memimpin rakyat di seluruh dunia Islam akan lebih luas dari masa kejayaan Islam semasa Nabi Muhammad s.a.w. dan dilanjutkan oleh empat sahabat beliau menguasai wilayah mulai persia di Timur perbatasan India, Afrika Utara, seluruh jazirah Arab, dan juga separoh benua Eropah. Maka cuma satu pilihan yang tersedia yang terbaik bagi umat yang satu ini yakni kemunculan Imam Mahdi yang bermukjizatlah dapat mengakhiri semua perbedaan pendapat maupun cakar-cakaran sesama Muslim, jika tidak demikian maka yang akan terjadi selanjutnya ialah bertambah sulitnya medan peperangan bagi kaum muslimin dalam berjuang melaksanakan jihad agama Islam. Dan apapun yang akan terjadi kelak itu tentu saja semua itu sudah tertulis dalam kitab gaib Lauh Mahfuzh.
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 9:57 AM