Oct 22, 2011

Ajaran Bung Karno

Ajaran Bung Karno

Menghadapi Imperialisme/Kapitalisme
Tujuan Revolusi Tidak Bisa Diubah!

Pengkhianatan jendral Suharto yang sangat berbahaya dengan dampak serius dan berkepanjangan adalah apa yang dia kerjakan setelah dia merebut kekuasaan dari Presiden Sukarno. Pemban­taian bangsanya sendiri dan pemerkosaan ke­be­­basan warga­negara yang keji dan mengerikan masih kita hitung berada dalam posisi kedua ketimbang kelaknatannya yang paling puncak. Puncak laknat dan paling berbahaya yang kita maksud­kan di sini adalah program Suharto merealisasi dalam skala besar-besaran politik mengikis tuntas semua idee, ajaran dan wawasan Bung Karno. Ini berarti bahwa bangsa dan rakyat Indonesia ditrondoli habis-habisan dari segala pemikiran dan literatur progresif, kiri dan revolusi­oner. Padahal Bung Karno – cita-citanya bukan saja memerdekakan bang­sa­ – tetapi seluruh hidupnya berpuluh tahun sejak zaman kolonial Belanda ia bekerja untuk mendidik rakyat berpikir maju, berpikir dan bermental progresif/revolusioner.
     Militerisme dan otoriterisme kanan-reaksioner Suharto ber­sama Golkarnya sebagai kendaraan politiknya berlangsung lama, tetapi jelas tidak mungkin untuk selama-lamanya. Puncak segala ironi adalah bahwa Suharto dijatuh­kan secara hina oleh massa pemuda dan mahasiswa justru pada saat generasi muda kita mulai kembali berkenalan, mulai ber­sing­gungan, mulai mempelajari dan menyala-nyala semangat dan meningkat kemampuan berpikirnya karena diilhami lagi oleh idee dan literatur kiri progresif/revolusioner!
     Tidak perlu analisis macam-macam, tidak perlu daya observasi tajam, di hadapan mata kita semua tahu Suharto sudah jatuh, tetapi jelas senyata-nyatanya kendaraan politiknya yang bernama Golkar masih tetap eksis seutuh-utuhnya. Bukan sekedar eksis, mereka malah tetap aktif mengatur negara, duduk dalam kabinet, duduk di DPR/MPR, bahkan memimpin lembaga-lembaga tersebut yang seyogianya menyuara­kan aspirasi rakyat. Di semua kelembagaan negara, di era yang katanya reformasi sekarang ini, kendaraan-politik Suharto  itu tetap selalu hadir, di eksekutif, legislatif dan tak kurang-kurang pentingnya juga di lembaga yudikatif. Masih herankah kita bila seluruh cita-cita reformasi sosial-politik masih terus jalan di tempat?
     Paling tragis adalah bahwa kekuatan yang menamakan diri barisan reformasi, justru memelihara, membela dan bekerjasama dengan kendaraan-politik Suharto itu. Siapa sebenarnya yang diwakili oleh Golkar? Golongan apa?  Karya apa? Jawabannya : Jelas Golongan yang mempertahankan, membela dan menerus­kan Karya Suharto.
     Apa itu Karya Suharto? Tidak lain dua karya, dwi-fungsi utama! Pertama pembodohan rakyat dan penyeragam berpikir menurut maunya Suharto, dan kedua memperkaya diri, menguras bertrilyun rupiah harta-kekayaan bumi tanah-air Indonesia untuk dimasukkan ke kantong keluarga sendiri dan golongannya. Isi kantong itu masih melimpah-ruah, itulah keterangannya mengapa mereka masih mampu melakukan program-programnya karena pembeayaan tidak menjadi masalah, tetapi kantong masih terus harus diisi sebab hanya itulah yang menjamin kelestarian kekuasaannya.
     Ibarat kanker ganas mereka sekarang terus menggerogoti tubuh Ibu Pertiwi Indonesia. Satu-satunya remedie atau obat-penawar adalah pembedahan radikal : amputasi! Dan pisau amputasinya tidak lain adalah gunakan literatur progresif-revolusioner, gunakan ajaran-ajaran Bung Karno untuk meyelamatkan kelangsungan hidup Ibu Pertiwi.
Untuk itulah buku seperti yang ada di tangan pembaca sekarang, kita terbitkan!
                                                                                         N. Argya
Jakarta, 17 Agustus 2002

_____________

Tujuan Revolusi
Tidak Bisa Diubah


Amanat Presiden Sukarno pada Pembukaan Konperensi para Gubernur seluruh Indonesia di Istana Negara, pada tanggal 13 Desember 1965.

Bung Karno :

“….. ini adalah tujuan Revolusi yang dibuat oleh Revolusi sendiri, yang ditujukan oleh Revolusi sendiri, engkau tidak bisa meng­ubah. Demikian pula satu dunia baru tanpa exploitation de nation par nation. Itupun tujuan Revolusi yang tidak bisa kita ubah.
      Oleh karena itu maka kita, kita, kita sekalian, ya aku, ya engkau, ya engkau, ya engkau semua gubernur harus setia kepada tujuan Re­vo­lu­si ini. Dan siapa yang hendak mengubah, mencoba meng­ubah, tidak bisa dia. Siapa yang hendak mengubah tujuan Revolusi ini, dia adalah kanan, bukan saja, tapi dia akan rampal gigi­nya sendiri”.


Saudara-saudara sekalian,

Saya mau meniru Wakil Perdana Menteri Dr. H. Subandrio, dengan memulai amanat saya ini dengan salam : Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!
     Salam ini bukan salam hanya untuk orang Islam saja, tidak! Untuk semua. Tempo hari sudah saya tanyakan kepada Pak Leimena, salam assalamu’alaikum. Artinya, moga-moga damai dan sejahtera Tuhan jatuh kepadamu. Jadi kalau saya tadi berkata, assalamu’alaikum, jangan engkau Sutedja yang bukan agama Islam, atau engkau Tjilik Riwut yang bukan agama Islam, atau engkau Pak Leimena sendiri – tentu tidak – atau engkau Rumambi merasa, saya ini bukan orang Islam kok diuluq salami assalamu'alaikum.
      Saudara-saudara sekalian, benar waktu belakangan ini saya banyak donder, marah! Dan saya tidak menyesal bahwa saya sering marah. Sebab kemarahan saya itu untuk kebaikan Revolusi. Saya melihat di dalam sejarah, pemimpin-pemimpin revolusi = revolusi segala macam – sering marah. Bukan saja Muhammad, Nabi Muhammad sering marah, bahkan Nabi Isa marah. Sampai kadang-kadang beliau itu bukan saja marah mulut, tetapi marah dengan melabrak, misalnya geldwisselaar, orang-orang yang menukar uang dari kuil, dari tempel. Sudah diberi peringatan, sudah diberi pendidikan kok mereka masih saja menjalankan riba, akhirnya Isa habis sabar, labrak mereka itu. Apalagi Nabi-nabi lain! Maka demikian pula saya, jikalau marah, betul-betul untuk kebaikan Revolusi. Oleh karena apa? Oleh karena sya ini disuruh memimpin Revolusi, jalannya re­volusi dipertanggung-jawabkan kepada saya. Jadi kalau saya melihat sesuatu hal yang merugikan Revolusi, saya beri pendidikan, saya beri pengajaran. Nah, kalau pendidikan dan pengajaran saya itu kurang diterima dengan baik, ya saya donder.
      Tadi malam saya donder, saudara-saudara, donder kepada wartawan-wartawan. Tadi malam itu ada pertemuan di Istana Bogor antara wartawan-wartawan, terutama sekali yang tergabung dalam antara, dengan Presiden. Saya tidak tahu apakah Gubernur-gubernur tadi malam menyetel radio atau televisi. Maka ada baiknya saya ceriterakan sedikit pendonderan-pendonderan saya tadi malam.
      Begini, tatkala sudah terjadi Lobang Buaya, jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal dibawa ke sana dan dimasukkan ke dalam sumur. Ooh, itu wartawan-wartawan surat kabar-surat kabar menulis, bahwa jenderal-jenderal itu disiksa di luar perikemanusiaan. Semuanya katanya, maaf. Saudari-saudari, semua­nya dipotong mereka punya kemaluan. Chaerul ndak ngerti kemaluan itu apa! Malahan belakangan juga di dalam surat kabar ditulis bahwa ada seorang wanita, yang bernama Djamilah, menyatakan bahwa motongnya kemaluan itu dengan pisau silet. Bukan satu pisau silet, tetapi lebih dahulu 100 anggota Gerwani dibagi silet. Dan silet ini dipergunakan untuk ngiris-ngiris kemaluan. Demikian pula dikatakan, bahwa diantara jenderal-jenderal itu matanya dicungkil. Malahan dengan foto pisau cungkil itu, yang seketika saya melihat foto itu saya berkata, o ini bukan pisau yang untuk cungkil mata, saya kira. Saya sering melihat pisau demikian ini, yaitu pisau untuk menyadap latex daripada pohon karet.
      Gubernur harus tahu lho, bagaimana caranya menyadap latex dari pohon karet. Itu dengan pisau yang demikian itu, krik, krik, krik, krik. Miring, diujung miring itu ada semacam talang kecil, di bawah talang kecil itu ada semacam cangkir. Nah lihat, Ustami sudah mengerti, mantuk-mantuk, memang begitu. Nah, pisau itu difoto, dikatakan ini adalah pisau yang dibuat mencukil mata!
      Saya pada waktu itu memakai saya punya gezond verstand, Saudara-saudara. Dan dengan memakai saya punya gezond verstand itu saya betwijfelen, ragukan kebenaran kabar ini. Tetapi saya melihat akibat daripada pembakaran yang demikian ini. Akibatnya ialah, masyarakat seperti dibakar! Kebencian menyala-nyala, sehingga dikalangan rakyat menjadi gontok-gontokan, yang kemudian malahan menjadi sembelih-sembelihan.
     Saudara-saudara mengetahui, bahwa saya sejak mulanya berkata, jangan, jangan, jangan, jangan sembelih-sembelihan, ja­ngan gontok-gontokan, jangan panas-panasan!! Malahan saya berkata, kalau ada sesuatu partai yang membakar semangat rakyat, panaskan semangat di dalam hal ini, partai itu akan saya bubarkan, kataku. Dan saya sebut nama partai itu, tidak peduli partai itu namanya Partai Nasional Indonesia (PNI), tidak peduli Partindo, tidak peduli IPKI, tidak perduli Partai Katolik. Tidak perduli partai apapun. Nahdatul Ulama, jika partai itu membakar kebencian, saya akan bubarkan.
      Nah, saudara-saudara, waktu belakangan ini saya dapat bukti, bahwa memang benar sangkaan saya itu, bahwa jenderal-jenderal yang dimasukkan semua dalam Lobang Buaya itu tidak ada satu orangpun yang kemaluannya dipotong. Saya dapat bukti­nya dari mana ? Visum repertum daripada team dokter-dokter yang menerima jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal yang dimasukkan dalam sumur Lobang Buaya itu. Saya kemudian tanya, malahan sesudah itu tanya kepada Pak Leimena, itu lho orangnya, dan kepada Pak Bandrio, itulah orangnya, dua-dua­nya dokter : Dokter membuat visum repertum itu apa boleh bohong? Tidak, kata Pak Leimena. Tidak, kata Pak Bandrio. Visum repertum oleh dokter dituliskannya pro justitia. Bahwa sumpah pro justitia tidak boleh bohong, tidak boleh menambah, tidak boleh mengurangi. Apa kenyataan itu, harus dimasukkan dalam visum repertum itu harus menjadi pegangan, sebab ini satu kenyataan, bukan khayalan, tetapi visum repertum adalah satu kenyataan menurut apa yang didapatkan oleh dokter itu.
      Lha ini dokter-dokter, team dokter-dokter yang memeriksa jenazah-jenazah daripada jenderal-jenderal di Lobang Buaya itu menyatakan, tidak ada seorangpun jenderal-jenderal itu yang dipotong kemaluannya. Coba! Tetapi di dalam surat kabar dikatakan demikian. Sampai tadi malam saya marah! He, engkau itu dapat dari mana? Siapa yang memberi kabar kepadamu, yang memasukkan ke dalam surat kabarmu, bahwa jenderal-jenderal ini dipotong kemaluannya? Malah pada waktu itu, malam itu, saya tanya kepada Achmadi, Menteri Penerangan. Menteri Pe­nerangan, ini kabar dari mana? Saya tanya malahan kepada jenderal Ibnu Subroto, darimana ini kabar yang dimasukkan di dalam surat kabar ini? Saya tanyakan kepada Noor Nasution, Let.Kol yang mengawasi ANTARA, darimana kabar ini? Kok di dalam surat kabar dikatakan, bahwa jenderal-jenderal yang mati ini dipotong kemaluannya! Donder. Sebab akibat daripada kabar bohong ini, saudara-saudara, lebih jahat daripada fitnah. Bukan saja fitnah itu lebih jahat daripada pembunuhan, tetapi ini malahan lebih jahat daripada fitnah, sebab akibatnya ialah saudara-saudara kita menjadi gontok-gontokan, panas-panasan.
      Dikatakan juga, bahwa ini jenderal-jenderal dicukil mata­nya. Saya tanya kepada team-team dokter yang mengadakan visum repertum, ada yang dicukil matanya? Mereka berkata, tidak ada yang dicukil matanya. Ada seorang yang copot matanya, tetapi bukan karena cukilan. Copot, matanya oleh karena jenazahnya adalah waterlijk, jenazah di dalam air. Dan itu adalah satu hal yang tidak aneh, bahwa jenazah di dalam air, misalnya orang yang kintir di sungai, orang yang tenggelam di dalam telaga, orang yang mati tenggelam di dalam sumur, sesudah empat hari matanya copot. Nah, oleh karena sumur di Lobang Buaya itu berisi air, mungkin sekali sang jenderal ini matanya copot, – yah, sebagai waterlijk copot matanya tetapi tidak oleh karena cukilan. Sebab mata yang copot karena cukilan ada bekas cukilan itu. Dokter team tidak menemukan bekas cukilan. En toh di dalam surat kabar itu dituliskan cukilan. Saya donder, kena apa kau tulis begitu? Mereka terpukau diam saja. Dan saya tanya kepada Achmadi, Achmadi, engkau bertanggung jawab atas penerangan. Achmadi juga terpukau diam saja. Saya tanya kepada Noor Nasution, dari mana, Noor Nasution Cuma geleng-geleng kepala saja. Saya tanya kepada Ibnu Subroto, dari mana, belakang­an saya melihat Ibnu Subroto-pun tidak bisa menjawab.
      Nah, inilah saudara-saudara, keadaan Revolusi kita sekarang ini begini. Berulang-ulang saya katakan, jangan kita gontok-gontokan, jangan kita menyiarkan kebencian. Tetapi sebalik­nya, janganlah persatuan dan kesatuan daripada Rakyat Indonesia. Jangan gampang menuduh, jangan gampang menyangka. Terus terang saja, terus terang saja, saya di dalam sidang Koti – Koti lho, di sini tempat menilai operasi militer yang tertinggi – sudah memperingatkan, jangan terlalu kita menjalankan witch hunt. Wicht hunt, wicht artinya heks, hunt artinya nguber-uber. Mencari, memburu. Wicht hunt artinya hek-senjacht. Jangan, sebab heksenjacht berakibatkan orang yang tidak bersalah – sebagai tadi dikatakan oleh Pak Bandrio – lantas dituduh, ditangkap, mungkin dibunuh. Nah, ini tentu nanti ada akibatnya. Baik ditinjau daripada sudut Tuhan, sebagai dikatakan oleh Pak Bandrio, ada akibatnya juga dari sudut masyarakat. Sebab manusia di dalam masyarakat itu, saudara-saudara, tanyalah kepada tiap-tiap sosiolog, manusia di dalam masyarakat itu hidup di dalam wet van het behoud. Wet van het behoud, mau mempertahankan diri, mau overleven. The struggle for life itu sebe­tulnya tidak lain daripada pengutaraan daripada wet van het behoud. Ingin hidup terus, ingin berada terus. Kalau manusia terlalu dipletet-pletet, apalagi segolongan manusia terlalu dipletet-pletet, nah, sekarang mereka mungkin, – yah, wet van het behoud-, entah lusa, entah lusa lagi, entah sekian bulan lagi, akan menunjukkan bahwa ada reaksi terhadap kepada perbuatan kita yang lalim itu tadi.
      Gebernur Jawa Tengah, Gubernur Jawa Timur, ada ndak Wijono? Saya ini juga dapat info-info lho, dari Jawa Tengah, dan dari Jawa Timur. Katakanlah, Jawa Tengah dan Jawa Timur ditinjau daripada sudut militer pengamanan sudah selesai. Dari sudut sosial politis belum aman di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu? Gubernur Muchtar, bagaimana jawabmu? Demikian, hhh. Dari sudut sosial politis Jawa Tengah belum aman, meskipun dari sudut militer boleh dikatakan sudah aman. Bagaimana Jawa Timur, Wijono? Bagaimana? Nah, benar! Ditinjau dari sudut sosial politis Jawa Timur belum aman. Di sana masih gontok-gontokan. Masih gontok-gontokan.
      Pada satu hari saja didatangi orang, kawan saya, naik oto dia datang dengan gemetar. Kena apa engkau datang? Untuk lapor kepada Bapak. Lapor apa? Kami datang dari Jawa Timur. Ada apa? Kami pernah naik oto di Jawa Timur, ditengah jalan disetop. Lantas? Kan banyak itu, kadang-kadang ada orang nyetop mau jual semangkanya atau durennya. Malahan kadang-kadang ada yang nyetop minta derma. Tidak Pak, kami disetop dipersembahi bungkusan. Lho kan baik itu, dipersembahi bungkusan. Ya, Pak, tatkala kami buka bungkusan itu, ternyata isi apa? Kepala orang! Dan ditulis, ini adalah orang Pemuda Rakyat. Pemuda Rakyat dipotong kepalanya, dibungkus, dipersembahkan kepada oto yang lewat.
      Saudara-sauara, apakah tidak pantas saya marah-marah de­ngan keadaan demikian ini? Kita gontok-gontokan, sampai-sampai, saudra-saudara, saya memperingatkan, jangan terus-menerus begini, oleh karena jikalau terus-menerus begini, Revolusi kita akan tenggelam dengan sendirinya, karena bangsa kita akan tenggelam dengan sendirinya.   
      Saudara-saudara sudah beberapa kali mendengar uraian saya. Tetapi oleh karena saudara Gubernur, Bapak rakyat di daerah, baiklah memberi keterangan sekali lagi kepada saudara-saudara, supaya saudara-saudara mengerti, supaya saudara-saudara betul-betul merasa diri saudara sebagai Bapak rakyat. Jangan merasa diri saudara sebagai vertegenwoordiger daripada sutu partai, jangan! Bahwa ada Gubernur-gubernur yang merasa dirinya sebagai vertegenwoordiger dari pada sesuatu partai, itu memang satu kenyataan. Tetapi toh, saya berkata jangan, jangan, jangan ada Gubernur, seorang Guernurpun yang merasa dirinya sebagai satu vertegenwoordiger dari sesuatu partai.
Bahwa gebernuran itu sekarang masih menjadi rebutan an­tara partai, partai, partai, itupun saya tahu. Apalagi kalau waktu mengadakan pencalonan untuk gubernur, waduh, waduh, waduh! Saya terus terang saja ya, terus terang saja, sayapun dapat info-info! Nah, Menteri Dalam Negeri, benar apa tidak di Sulawesi Utara sekarang ini uang bukan jutaan, puluhan, mung­kin ratusan juta dilemparkan oleh golongan-golongan, agar supaya orangnya bisa mendapat suara terbanyak menjadi calon gubernur? Coba Menteri Dalam Negeri Sumarno jawab, yes or not! Lho saya kepingin tahu, info saya ini benar apa tidak! Kemungkinan benar. Menteri jawabnya kok plan plin begitu! Yes or no, benar apa tidak di Sulawesi utara orang lempar uang puluhan juta, mungkin ratusan juta untuk pencalonan Gubernur? Nah, jangan plan-plin! Ha….., nah sekarang Menteri Dalam Negeri manggut-manggut benar. Ini memang jadi re­butan, kedudukan Gubernur itu. Nah, sampai orang melemparkan uang puluhan atau ratusan juta untuk mendapat suara terbanyak.
      Wah, di negeri lain itu memang satu satu kebiasaan, di negeri-negeri liberal satu kebiasaan. Di Amerika misalnya, saudara-saudara, kalau mau ada pemilihan, wah bukan main! Bukan puluhan juta dollar, tetapi ratusan juta dollar beterbangan. Demikian pula ada satu negara Asia dekat ini, yah, baru saja, baru saja ini, bukan main, uang puluhan juta beterbangan untuk menang di dalam pemilihan.
      Nah, lantas sekarang saya tanya kepada Gubernur-gubernur yang sekarang : apakah saudara-saudara juga merasa wakil daripada golongannya, yang mungkin tadinya melemparkan uang sekian banyaknya, agar supaya saudara terpilih menjadi calon Gubernur? Nah, tidak! Saya mengharap agar supaya saudara-saudara sekalian jangan merasa diri saudara wakil dari pada sesuatu partai, atau semua golongan, tetapi wakil dari pada seluruh rakyat daerahmu, sebagai tadi dikatakan oleh Menteri Dalam Negeri.
      Nah, agar supaya saudara-saudara menjadi Bapak benar daripada rakyat daerahmu, saudara-saudara harus mengerti betul-betul Revolusi, mengerti betul-betul rakyat. Kalau tadi mulai dengan berkata ngamuk-ngamuk donder-donder, oleh karena rakyat kita sekarang ini gontok-gontokan satu sama lain, sebabnya ialah oleh karena, jikalau sesuatu rakyat gontok-gontokan satu sama lain, – tidak peduli untuk apa – bagsa itu akan runtuh. Kalau sesuatu bangsa gontok-gontokan satu sama lain, akan ­runtuh.
      Tempo hari di Bogor saya pernah menciteer ucapannya Lincoln. Dengan sengaja saya ambil pemimpin daripada satu negara kapitalis, Lincoln, tetapi ini pemimpin negara kapitalis Amerika, Lincoln, dia adalah betul-betul seorang pembentuk bangsa, bangsa Amerika, Lincoln berkata, ini saya ulangi, saya ulangi kepada Gubernur-gubernur, agar supaya gubernur-gubernur mengerti benar. Lincoln berkata, a nation divided against itself, cannot stand. A nation divided against itself, cannot stand.
      Perhatikan, demikianlah kataku di Bogor, Lincoln tidak berkata, a nation divided, cannot stand; dia berkata, a nation divided agains itself, cannot stand. Bedanya apa? Kalau sekedar divided, maka dividednya itu oleh satu kekuatan dari luar. Satu bangsa dipecah menjadi dua, menjadi tiga, dipecah oleh sesuatu tenaga dari luar, itu lantas menjadi nation divided. Kalau divided against itself, cannot stand, maka di dalam sejarah terbukti, kalau sekedar a nation divided, malahan nation itu mempunyai kehendak keras untuk bersatu kembali. Divided against itself, artinya gontok-gontokan dari kalbu sendiri, gontok-gontokan dari dalam sendiri, seperti kita sekarang ini.
      Tetapi dikatakan tadi oleh Pak Bandrio, syukur alhamdullilah, di dalam epiloognya 30 September ini penyakit itu sudah mengurang. Kalau benar demikian, saudara-saudara, maka saudara Bandrio bolehlah, yah saya tidak minta, tapi boleh berkata, berkat dondernya Presiden. Yah, kalau saya tidak donder, kalau saya tidak memperingatkan, memperingatkan, memperingatkan, memperingat-kan mungkin perpecahan diantara kita dengan kita itu makin menjadi-jadi. Mungkin bangsa kita sudah runtuh!
      Memang lho, coba ini tanya kepada Pak Bandrio, benar apa tidak, bahwa di dalam bulan Mei atau Juni pihak nekolim telah berkata, – Mei atau Juni lho, sebelum September, sebelum Oktober, nekolim telah berkata, nanti in October Indonesia akan runtuh. Bandrio, yes or not? Bandrio mantuk-mantuk, manggut-manggut. Sebelum Juni nekolim telah berkata, in October Indonesia will collapse. Lha, lha, lha, saudara-saudara, Gestapu 1 Oktober! Sebetulnya perkataan 30 September itu, yah, boleh dikatakan sedikit meleset. Sebetulnya harus 1 Oktober, sebab jam empat pagi sudah 1 Oktober, Pak Nasution? Dulu waktu Pak Nasution digerebeg itu, jam berapa itu? Jam berapa? (Sudah jam tiga, jawab Pak Nasution-Red). Sudah jam tiga, nah sudah jam tiga, belum jam empat. Jadi sudah 1 Oktober. Jadi barang kali, barangkali itu lebih tepat dikatakan bukan 30 ­September, tetapi 1 Oktober. G-1 Oktober. Iya, ya bagaimana? G-1 Oktober, jadi Gestok. Bukan Gestapu, tapi Gestok, OK Gestok!
      Nah, bulan Mei, bulan Juni nekolim telah berkata, in October Indonesia will collapse. Ini mungkin oleh karena nekolim memang bekerja keras, agar supaya kita pecah-belah dari dalam, – mereka yang nyogok-nyogok, mereka yang membakar-bakar, mereka yang membuat keadaan menjadi demikian –, the Indonesian people will be divided against itself and the Republic of Indonesia will collapse. Kalau sekedar divided begitu saja, kataku di Bogor tempo hari, tidak akan bikin collapse. Lihatlah Korea, kataku, ada Korea Utara, ada Korea Selatan. Korea is a divided nation. Ada utaranya, ada selatannya. Tetapi malahan rakyat Korea yang divided ini semangat nasionalismenya, semangat persatuannya makin berkobar-kobar dan menyala-nyala. Dan saya bisa mengetahui ini tatkala saya datang di Pyongyang. Dari Pyongyang saya mendengar keterangan yang demikian, dari utusan-utusan Korea selatan yang datang di Pyongyang saya dengar juga keterangan yang demikian.
     Lihat Vietnam, juga satu nation divided, utara-selatan. Tetapi bagaimana gigihnya rakya Vietnam, ya utara, ya selatan! Saya tidak bicara tentang pemimpin-pemimpinnya, pentolan-pentol­annya, tetapi rakyatnya bagaimana gigihnya, mengagumkan kepada semua orang yang melihat. Malahan dikatakan, that is the greatest phenomenon in the tweentieth century, bahwa satu rakyat kecil dihantam oleh satu bangsa yang besar, dihantam dengan segala senjata yang ada daripada rakyat yang besar itu. Bomber B-52 berpuluh-puluh menghantam kepada bangsa itu. Serdadu-serdadu dengan perlengkapan senjata yang sempurna, menghantam kepada rakyat itu. Pesawat-pesawat udara yang membawa gas, gas yang bukan saja mematikan binatang dan manusia, tetapi membuat hutan-hutan rontok daunnya di dalam lima menit. Hutan ini dirontokkan daunnya, agar supaya lantas kelihatan apa yang tersembunyi di hutan itu. Kan saudara sering melihat hutan gundul. Ambillah misalnya alas jati yang gundul. Orang tidak bisa sembunyi di alas jati yang gundul itu. Tetapi di dalam hutan yang lebat daunnya dari kapal udara saudara tidak melihat apa-apa, melainkan daun saja. Lha ini, daun ini dirontokkan di dalam tempo lima menit. Ini termasuk di dalam rencana dari apa itu, segi lima militer Pentagon. Iya, the brains of this, siapa? Staly, namanya Staly ini memikirkan bagaimana bisa menghancur-leburkan Vietcong. Lantas dia berkata, gaslah hutan-hutan ini dengan pesawat udara, jatuhlah gas, lima menit rontok daun-daun daripada hutan ini. Dan dengan rontoknya daun ini manusia mati, ikan-ikan di dalam sungai mati, kadal-kadal mati, segala binatang yang hidup mati. Pendek kata hutan itu lantas bersih sama sekali daripada apa yang dinamakan Vietcong.
En toh, Vietnam mengagumkan kepada kita, Vietnam tetap kuat, tetap menteles! Ho Chi Minh empat hari yang lalu berkata, jangankan satu tahun, sepuluh tahun kami bisa bertahan. Ja­ngankan sepuluh tahun, duapuluh tahun, kami bisa bertahan. Janganpun dua puluh tahun, seterusnya kami bisa bertahan, oleh karena kami mengetahui what we are fighting for and what we are defending.
      Nah, saudara-saudara, berhubung dengan hal ini semuanya, saya berkata, kalau sekedar a nation divided, itu malah dia pu­nya jiwa tumbuh. Korea, Vietnam, Jerman, – Jerman Barat, Jerman Timur. Pada waktu saya datang di Heidelberg, saya membuat pidato di Heidelberg, di universitas di sana terhadap kepada mahasiswa-mahasiswa. Dan mahasiswa-mahasiswa di Heidelberg itu ada yang anak-anak di Jerman Barat, tetapi yang orang-orang tuanya berdiam di Jerman Timur, mendengarkan pidato saya itu sampai meleleh air matanya. Ya betul, saya melihat sendiri air mata mereka itu meleleh, oleh karena di situ saya nyatakan kami Indonesia menentang division of nation. Kami di Indonesia berpendapat, bahwa dunia ini menjadi kacau, dunia ini tidak ada perdamaian, bukan saja oleh karena adanya imperialisme biasa, tetapi juga oleh division of nation. Saya sebutkan Vietnam, Korea, dan tanah airmu Jerman, yang dipecah-belah oleh imperialisme menjadi Barat dan Timur. Indonesia bekerja keras membantu usaha untuk mempersatukan Jermania kembali. Jatuh air mata mereka, saudara-saudara. Jadi kalau sekedar divided itu saja, malahan menjadi bibit bagi nasionalisme yang berkobar-kobar. Tetapi divided against itself membawa kehancuran.
      Lihatlah sejarah Majapahit, saudara-saudara, sejarah Majapahit. Apa sebab Majapahit gugur? Karena divided against self. Demak, Wilwatikta. Demak pusat utara, lantas Wilwatikta pusat timur. Gontok-gontokan satu sama lain. Majapahit hancur.
      Sriwijaya kenapa hancur? Karena gontok-gontokan antara satu sama lain. Gontok-gontokan yang menjadi satu peperangan antara Jawa dan Sumatera, yang dinamakan Pa Malayu. Pa Melayu, di dalam Prasasti ditulis Pa Malayu. Pa itu selalu menggambarkan gontokan. Bahasa Sunda sekarang masih banyak pa itu. Pa gebug-gebug, artinya menggebug satu sama lain. Pa, bentar, nabrak satu sama lain. Mungkin perkataan paceklik juga begitu, ya, apa asalnya daripada gontok-gontokan, tidak tahu, tapi paceklik itu satu keadaan yang tidak baik. Nah, Pa Melayu menjadi sebabnya Sriwijaya hancur lebur. Divided against itself, Sriwijaya hancur-lebur. Demikian pula Majapahit. Lha kok kita sekarang ini mau divided kita sendiri, against ourselves.
      Engkau Gubernur, he jaga rakyatmu, jangan ada lho gontok-gontokan satu sama lain. Jangan ada! Saya mengatakan demikian itu, oleh karena saya dapat info. Kecuali itu, Saudara-saudara, saya kuatir, kuatir, kuatir, kuatir, kuatir, kuatir, kuatir, kalau yang dinamakan orde en rust sekarang ini, dari hasil pembersih­an kita, adalah sekedar orde en rust yang temporair. Saya kuatir, oleh karena caranya kita ini, saya katakan di dalam Koti –, oleh karena kita membawa orde en rust sekarang ini dengan cara yang terlalu extreem. Terlalu mletet-mletetkan, sehingga orang-­orang yang tidak bersalah ikut-ikut dijebloskan dalam tahanan. Bukan saja ikut-ikut dijebloskan dalam tahanan, ada yang ikut-ikut dipotong lehernya, saudara-saudara. Ini, dat wreek zichzelf nanti.
      Tempo hari di Bogor saya peringatkan kepada Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional), sesudah saya menerangkan taktik gerilya di dalam lapangan peperangan militer, taktik gerilya yang saya sendiri dapat dari pengajaran Mao Tze Tung, dari pembicaraan-pembicaraanku dengan Jenderal Giap, bukan jenderal tempe lho, Giap ini, waah, jenderal yang bisa menjatuhkan Dien Bien Phu, ya, jenderal Vietnam yang bisa menjatuhkan maha kekuatan Perancis di Dien Bien Phu. Gugur oleh karena Giap ini.
      Saya tanya kepadanya, rahasiamu itu apa? Saudara Ho Chi Minh saya tanya, rahasiamu itu apa? Kepada MaoTze Tung saya tanya, rahasiamu apa? Kepada Chen Yi, baik di Peking maupun di Kairo, maupun di sini di Istana Merdeka beberapa kali saya tanya, rahasiamu apa? Mereka semuanya menjawab, nomor satu, we are defending. Kami mempertahankan tanah air. Kami mempertahankan bangsa. Kami mempertahankan ideologi. Kami mempetahankan cita-cita. War aim kami jelas, dan war aim kami itu semayam di dalam kalbu bangsa kami, rakyat kami. Bukan saja bersemayam di dalam bewuste-nya rakyat, tetapi sebagai dikatakan oleh Pak Bandrio tadi, juga bersemayam di dalam onderbewuste-nya rakyat. Rakyat kami secara onderbewust merasa, bahwa ideologi yang kami adakan itu adalah untuk mereka. Untuk kebaikan mereka, untuk keselamatan mereka, untuk kebahagiaan mereka. We know what we are fighting for, we know what we are defending. Oleh karena itu jangan satu tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun kami akan bertahan dan kami akan menang.
      Saya tanya, lha kemudian daripada itu apa? Taktikmu itu apa? Strategimu demikian, yaitu mempergunakan rasa love of country, love of idiology sebagai alat yang sehebat-hebatnya, itu ada­lah strategimu. Taktikmu apa? Lantas mereka berkata, – yang sudah kita kenal sebagai ditulis juga oleh Mao Tze Tung –, taktik peperangan gerilya. Kalau musuh diam, hatamlah musuh itu. Kalau musuh itu lari, kejarlah musuh itu. Kalau musuh mengejar kita, menghantam kita, larilah kita. Musuh diam harus kita hantam, musuh lari harus kita kejar, musuh mengejar, menye–rang, kita harus lari.
      Nah, itu yang dikerjakan oleh Ho Chi Minh, itu yang di–kerjakan oleh Mao Tze Tung, itu yang dikerjakan Giap. Sebab musuh menyerang, yah, mereka hilang. Sehingga keterangan daripada jenderal-jenderal Amerika di Vietnam sendiri, ya sudah mengerahkan ratusan helikopter, sudah mengerahkan bomber-52 berpuluh-puluh tiap-tiap kali, sudah memakai persenjataan konvensionil yang semodern-modernnya, kadang-kadang tidak menemui satu orang Vietcongpun. Misalnya hutan yang digas secara Staly tadi, saudara-saudara, sudah digas hampir habis samasekali hutan ini, – kecuali pohon-pohonnya, daunnya sudah tidak ada lagi –, Staly sendiri berkata, atau jenderal yang memimpin operasi ini sendiri berkata, and no Vietcong! Yaitu oleh karena mereka itu menjalankan taktik gerilya ini. Kalau diserang larilah, hilanglah, bersembunyilah.
Nah, saya di dalam pidato saya di Bogor, saya peringatkan, engkau jangan sekarang ini bergembira, bahwa dibeberapa tempat ada sesuatu partai membubarkan diri. Bukan dibeberapa tempat, tapi dibanyak tempat sesuatu partai membubarkan diri. Mungkin ini adalah gerilya taktik, sebab taktik ini bisa dipergunakan tidak hanya untuk operasi militer saja, tetapi juga untuk politik. Kalau musuh menghantam, menghilang, tunggu waktu yang baik, nanti muncul lagi. Dan saya berkata di Bogor, en dat heb ik zelf toegepast, saya sendiri dulu juga menjalankan politik gerilya ini terhadap kepada pemerintah Hindia Belanda. Sebetulnya ini sudah saya baca dalam buku tulisan Mao Tze Tung, sudah saya baca Edgar Snow di dalam ia punya buku “Red star over China”. Saya jalankan taktik politik gerilya itu. Saya dulu memimpin partai PNI. PNI diuber-uber, dipletet-pletet, digempur oleh pihak Belanda.O.K. PNI saya bubarkan. Yah, PNI saya bubarkan menurut taktik gerilya, kalau musuh menghantam, larilah. PNI saya bubarkan uitterlijknya. Dan pada waktu itu pihak Belanda yang tidak mengerti, hoho, dia sudah senang, nah, nou begint Sukarno te begrijpen Zendgraaf di dalam surat kabar. “Java Bode” menulis, nou begint Sukarno het te begrijpen, hij heeft zijn partij ontbonden.
      Tapi di Bogor aku berkata, waktu itu ada juga kita punya Bapak, ouweheer Ki Cokrodirjo. Muchtar tahu barangkali, di mana rumahnya, di Bringin atau di mana? Antara Semarang dan Salatiga, di situ rumahnya, di Srondol. Nah, Ki Cokrodirjo menulis di dalam satu majalah dengan – sebagai biasa dia punya bahasa Belanda yang indah sekali. Ki Cokrodirjo itu satu nasionalis tinggi, bijaksana, tetapi pandai betul bahasa Bendala. Tatkala ia melihat bahwa pihak Belanda senang-senang, merasa puas, karena Sukarno telah membubarkan ia punya partai PNI, Ki Cokrodirjo menulis dengan kalimat Belanda yang indah. Buitenzorg tempat Gubernur Jenderal, simbul daripada pusat pemerintah Hindia Belanda. Buitenzorg banketeert in groot festijn. Maar wie de Goden verdelgen willen, slaan ze met blindheid. Itu kalimat dari Injil.
      Pa Leimena? Darimana itu, maar wie de Goden verdelgen willen, slaan ze met blindheid; Pak Rumambi, darimana itu kalimat? Nou, daar zit je met je hand in je haar, met je mond vol tanden. Tapi ini adalah kalimat dari Ki Cokrodirjo. Buitenzorg banketeer in groot festijn, maar wie de Goden verdelgen willen, slaan ze met blindheld. Ha, benar? Saya kira itu dari Kitab Injil.
      Nah, saudara-saudara, itu yang saya kerjakan pada waktu itu. Ki Cokrodirjo memberi peringatan kepada pihak Belanda, he, jangan groot festijn dulu, jangan banketeren dulu, hala belum tentu ini, pembubaran PNI ini. Nah, memang benar, saya membubarkan PNI ini secara taktik gerilya politik. Saudara agak tenteram, pemerintah Hindia Belanda sudah tidak lagi, tiap-tiap orang yang dicurigai ditangkap, tiap-tiap orang yang dicurigai tangkap, tahan, bawa di dalam penjara, buang dan lain-lain sebagainya, kami membentuk partai Partindo. Dan Partindo, saudara-saudara, bergerak sehebat-hebatnya, sehingga akhirnya oleh karena Partindo itu saya ditangkap, dijebloskan dalam penjara, kemudian saya dijatuhi exorbitante rechten, dibuang ke Flores, kemudian ke Bengkulu. Partindo dihantam, kemudian taktik gerilya lagi. Bubarkan Partindo, timbul gerakan baru, yaitu Gerindo, saudara-saudara. Nah, ini satu pengajaran bagi kita. Jangan kita ini banketeer in groot festijn, kalau kita melihat sekarang ini dibeberapa tempat atau dibanyak tempat ada sesuatu partai membubarkan dirinya, satu les.
     Nomor dua, denk om de wet van het zelfbehoud. Kalau sesuatu manusia, sesuatu golongan, sesuatu partai terlalu dipletet-pletet, sehingga yang tidak salah juga ditangkap, juga dibunuh, juga dihantam, een dag zal komen, yang mereka itu mungkin akan bangkit kembali dan mengadakan pembalasan.
      Gubernur, jangan sampai daerahmu itu begitu. Sekarang namanya rust en orde verzekerd, tetapi jullie tadi sudah menga­kui ha, sosial politik belum. Tetapi nanti umpamanya tampak­nya, outlooknya, sosial politispun sudah aman, denk erom, mung­kin kataku, keamanan itu adalah sekedar keamanan aan de oppervlakte. Di bawah tetap bergolak, di bawah bumi tetap panas. Jadi Gubernur itu sukar, saudara-saudara, sebagaimana pula jadi Presiden sukar. Malah Gubernur itu sebetulnya Pre­siden in kleiner formaat! Saya dulu pernah berkata di dalam salah satu pidato saya dihadapan Kongres Pamong Praja, hh. Karena cinta saya kepada rakyat, karena saya ini ingin menjadi Bapak rakyat betul, kalau umpama bisa, nanti saya ini kepingin jadi camat. Jadi Presiden itu tidak enak. Tetapi jadi camat, bisa bergaul langsung dengn rakyat, bisa mendidik rakyat, bisa bergaul langsung dengan rakyat, bisa mendidik rakyat, bisa membrantas buta huruf di kalangan anak-anak perempuan dan lain-lain sebagainya! He, kenapa Muchtar ketawa itu?
Engkau sekalian Gubernur-gubernur lebih kompak dengan rakyat daripada saya. Saya ini disuruh diam di Istana Merdeka, dikurung tidak bisa keluar. Kalau keluarpun mesti dengan penjagaan. Saya tidak bisa nongkrong beli soto di Jalan Kramat. Saya tidak bisa naik becak, kepengin saya naik becak. Bagaimana kalau sedang sinar bulan purnama keliling kota naik becak? Ya tentu tidak sendirian, dengn istrikulah, jangan kira dengan orang lain! Tetapi lha ini lho, saya mengatakan kamu orang gubernur-gubernur, lebih rapat, lebih kontak kepada rakyat daripada Pre­siden. Lantas di bawah kamu, yaitu nanti sampai kepada Camat-camat dan Lurah-lurah, mereka kontak betul dengan rakyat. Jaga, agar supaya rakyatmu sebagai bagian daripada rakyat Indonesia seluruhnya dari Sabang sampai Merauke, sebagai bagian nation Indonesia, tetap bersatu, tetap bersatu, dengan memimpin dalam arti ngemong. Mereka di dalam revolusi ini ngemong. Kalau memakai perkataan Ki Hadjar Dewantoro, kawannya Ki Tjokrodirdjo itu tadi – tut wuri handayani. Tut wuri handayani kepada rakyat. Sebab – ini kukatakan diwaktu yang akhir-akhir ini beberapa kali – revolusi tidak bisa diwuruk, tidak bisa diajar. The revolution leads itself, we kunnen de revolutie niets leren. Kita Cuma bis mengemong revolusi ini. Kita hanya bisa mengabdi kepada revolusi ini, sebab revolusi itu bukan buatan kita.
      Saya beberapa kali menciteer ucapan pemimpin lain yang berkata, one can teach the leaders, yes, one can teach the masses as well, yes, but can we teach the revolution something? Kita bisa memimpin pemimpin-pemimpin, kita bisa mengajar pemimpin-pemimpinnya. Kita bisa mengajar Muchtar, kita bisa mengajar Jusuf, kita bisa mengajar, – maklum, saya punya mata sudah kabur, ini siapa ini -, Tjilik Riwut? Kita bisa mengajar Sutedja, kita bisa mengajar Bustami, kita bisa mengajar, maklum, mata saya sudah kabur, saudara-saudara. Pemimpin bisa kita ajar, malahan we can teach the masses as well, rakyat jelata, massa bisa kita ajar. Tetapi can we teach the revolution something? Apakah kita bisa mengajar kepada revolusi? Tidak! The revolution leads itself. Revolusi memimpin dirinya sendiri, leads itself.
      Di Bogor saya berkata, bagaimana sungai ke luar dari sumber menuju ke laut. Sungai ini tetap ke luar dari sumber itu menuju ke laut dan tidak bisa dibelokkan ke kanan atau ke kiri. Kita Cuma bisa ngemong sungai ini. Lho, kalau nabrak batu yang besar, batunya ini bisa kita alihkan. Kalau sungai ini nabrak tebing, kita bisa membikin terowongan dalam tebing itu, agar supaya sang sungai itu meliwati tebing. Tetapi terus dia berjalan ke laut dan kita tidak bisa halangi.
      Misalnya seperti sungai Brantas, saudara-saudara, apakah kita bisa menghalangi sungai Brantas yang datang dari kaki gunung Arjuno pergi ke laut? Dan dia mengambil jalan yang aneh sekali, dari kaki Arjuno dia lebih dulu ke timur, dari timur dia menggok ke selatan. Karena di timur ada gunung, dia melihat gunung di timur menggok ke selatan. Terus ke selatan, ee, ketabrak di situ kepada gunung Kendeng. Menggok lagi ke barat, dekat Tulungagung dia sudah melihat ada gunung lagi. Menggok dia ke utara. Dekat Kertosono dia melihat bahwa ada gunung Kendeng tengah lagi, menggok dia ke timur. Laut, laut, laut, laut tujuanaanya, meskipun dia harus lebih dulu ke timur, ke selatan, ke barat, ke utara, ke timur lagi. Apa bisa engkau penging (larang), air sungai Brantas itu pergi ke laut? Tidak bisa Malahan sampai-sampai pada waktu menyebutkan sungai Brantas ini saya berkata, door naar de zee toe te stromen is de rivier trouw aan haar bron, malahan dia setia kepada sumbernya, – lho, meninggalkan sumbernya pergi ke laut –, is de rivier trouw aan haar bron, malahan dia setia kepada sumbernya. Karena dia meninggalkan sumbernya, dia setia kepada sumbernya. Oleh karena tiap-tiap tetes air di sumber itu, tiap-tiap atom air di sumber itu berkata, ke laut, ke laut, ke laut, ayo ke laut, ayo ke laut, se­hingga sungai itu meninggalkan sumber itu menuju ke laut. Door naar de zee toe te stromen is de rivier trouw aan haar bron.
      Revolusi juga demikian. Revolusi itu – kataku, kata Pak Bandrio tadi – ke luar daripada bewuste en onderbewuste daripada massa, daripada rakyat. Hh, kalau kita menyelidiki Revolusi Indonesia itu, jangan Revolusi Indonesia itu mulai pada tanggal 17 Agustus 1945. Benih-benih onderbewust, untup-untupan daripada Revolusi itu sudah mulai paling sekidit 50 tahun sebelum ’45. Bahkan lebih daripada 50 tahun, untup-untupan daripada Revolusi itu sudah mulai timbul. Timbul meledak di sini, menjai misalnya pemberontakan Dermojoyo di Baron, Dermojoyo, ya di Baron. Siapa dari Jawa Timur, Jawa Timur? Wijono? Baron, Dermojoyo. Meledak lagi ditempat yang lain di lornya Sidoharjo, lantas satu halte, lantas halte lagi itu apa? Ha? Gedangan, nah, pemberontakan Gedangan. Baca buku tulisannya Snouk Hurgronje. Snouk Hurgronje, Professor Doctor Snouk Hurgronje, “Vergeten Jubilee”. Ha, di dalam “Vergeten Jubilee” itu Snouck Hurgronje menceritakan tentang de opstand in Cilegon, tidak jauh dari Jakarta, opstand in Baron dekat Kertosono, de opstand in Gedangan dekat Sidoharjo. Semuanya itu sebenarnya adalah untup-untupnya daripada Re­volusi.
      Kemudian datanglah pengaturan, mula-mula kecil-kecilan, yaitu partai-partai politik Budi Utomo, Sarekat Islam. Saya bisa mengatakan, saudara-saudara, bahwa saya inilah, hh, ikut, ikut, ikut, ikut hidup di dalam Sarekat Islam. Waktu saya – sebagai kukatakan – ngelesot di kakinya Cokroaminoto, saya tahu be­tul, Cokroaminoto itu mempunyai pengaruh di kalangan rakyat. Bukan oleh karena dia punya oratorisch talent, tidak! Cokro itu kalau pidato bukan main! Pernah saya katakan, seperti manuk perkutut manggung. Yah, seperti burung perkutut yang sedang manggung, saudara-saudara. Hebat sekali! Tetapi rahasia ia punya pengaruh kepada rakyat bukan, bukan, sekali lagi bukan karena dia adalah orator yang ulung. Oratorieknya itu sekedar alat baginya. Tetapi yang paling pokok dia punya pengaruh ialah, bahwa dia itu penyambung lidah daripada rakyat pada waktu itu. Apa yang dikatakan oleh Cokro, sebetulnya bahasa rakyat itu sendiri. Zijn woorden sloegen in als uit het hart geschreven van het volk.
      Coba Muchtar, meskipun engkau, – aku tahu, wah itu juga orator –, kalau engkau berpidato yang tidak slaan in het hart van de massa, apa engkau bisa mendapat enthusiasme? Sambutan? Tidak! Nah, Cokro inipun, saudara-saudara, penggali daripada onderbewustzijn van het volk. Dia menentang grondbezit yang terlalu kecil. Dia menentang buruh upahnya terlalu rendah. Dia menentang praktek-praktek daripada pabrik-pabrik gula. Dia menentang penindasan agama. Segala apa yang onderbewust dirasakan oleh rakyat itu diutarakan oleh Cokro. Cokro adalah dus salah satu sumber untup-untupnya Revolusi kita ini.

Buku Ajaran Bung Karno
Diikuti oleh Sarekat Rakyat dan PKI. Juga demikian. Apa dikira bahwa PKI, Sarekat Rakyat pada waktu itu, oo, mempunyai popularitas tinggi dikalangan rakyat oleh karena Semaun? Oleh karena Semaun itu pandai berpidato? Saya sering mende­ngarkan pidato Semaun, hh, tidak sak-dengkulnya Cokroaminoto. Semaun itu kalau berpidato, jelas, tetapi dia bukan orator. Malahan saban kalimat pakai, ek, ek berfikir ia pakai ek, “oleh karena itu, saudara-saudara ek, kita bersatu agar kita ek, bisa menang”. En toh Semaun, saudara-saudara, akibat dia punya gerakan ini tinggi sekali, dia mempunyai populariteit yang tinggi sekali. Oleh karena dia suka mengutarakan onderbewuste van het volk itu tadi.
Di sambung di dalam kalangan intelektuil, Pak Tom. Doctor Sutomo dengan ia punya PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), pun apa yang sebenarnya onderbewust di dalam kalangan intelectuelen Indonesia di keluarkan oleh Pak Tomo. Di Kalang­an kaum buruh, oleh PPPB, dan PSB; PPPB serikat pegadaian, PSB serikat kaum buruh pabrik gula.
      Suryopranoto siapa kenal? Siapa kenal Suryopranoto? Ouweheer Suryopranoto, halfbroer daripada Pak Ki Hajar Dewantoro. Diapun sama sekali bukan orator, saudara-saudara, bukan! Kalau bicara itu seperti ouwheer, en toh dia punya serikat PSB kuat sekali. Semaun juga demikian, meskipun dia ek, ek, ek, ek, dia punya serikat VSTP (Kereta api), kuat sekali.
      Sosrokardono, ya boleh dikatakan, bolehlah, boleh dikatakan sebagai orator, ahli pidato. Tetapi toh dia punya pengaruh besar di kalangan pegawai pegadaian, apa sebab? Oleh karena dia itu sebetulnya sekedar menggali apa yang sudah terkandung di dalam kalbu, onderbewustnya daripada buruh atau tani atau rakyat jelata yang lain.
      Nah, Revolusi yang meledak pada tanggal 17 Agustus 1945 itu sekedar peledakan daripada onderbewustzijn daripada rakyat itu. Malahan saya katakan, pertemuan antara onderbewustzijn dan bewustzijn daripada rakyat, daripada masyarakat, itulah yang dinamakan revolusi. Pertemuan antara onderbewustzijn yang sudah berpuluh-puluh tahun terkandung-, tetapi tidak bisa dikatakan sekedar onderbewust terkandung -, dengan bewustzijn, meladak bertemua. Revolusi 17 Agustus 1945. Jadi revolusi itu hasil daripada pertemuan antara bewustzijn dan onderbewust­zijn daripada masyarakat, bukan bikinan; bukan bikinan Hatta, bukan bikinan Sukarno, bukan bikinan Subandrio, bukan bikinan Leimena, bukan bikinan Chairul Saleh, bukan bikinan Sartono yang duduk di sana, bukan bikinan siapa sebelah Sartono itu? Wirjono Prodjodikoro, bukan bikinan Sri Sultan Hamengku Buwono, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, bukan bikinanmu, tetapi adalah sekedar ledakan daripada onderbewustzijn daripada massa rakyat yang bertemu dengan dia punya bewust­zijn. Karena itu revolusi mempunyai hukum sendiri.
      Saya tadi malam di dalam pidato saya kepada para wartawan berkata, the revolution leads itself. Revolution is selfbirth, kataku. Apa artinya selfbirth? Lahir sendiri, lahir dengan sendirinya. Bukan ada orang yang membikin bayinya itu, lantas di­pletetkan supaya keluar, tidak. Selfbirth. Dua revolusi seperti mempunyai jiwa sendiri. Revolusi mempunyai kehendak sendiri, revolusi mempunyai tujuan sendiri. Kita sekedar bisa onderkennen kehendak dan tujuannya revolusi itu. Kehendak dan tujuannya itu apa? Ampera, saya pakai satu perkataan yang singkat, Amanat Penderitaan Rakyat, Negara Kesatuan yang berwilayah kekuasaan Sabang-Merauke, satu. Masyarakat yang adil dan makmur, tanpa exploitation del’homme parl’homme, dua. Satu dunia baru tanpa exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation, tiga.
      Itu tujuan revolusi kita. Bukan bikinan kita, tetapi sekedar kita punya onderkenning, kita lihat, kita alami, o itu yang menjadi tujuan. Dus kita tidak bisa mengubah Ampera itu. Apakah eng­kau bisa mengubah, bahwa rakyat Indonesia menghendaki satu negara merdeka berwilayah kekuasaan dari Sabang sampai Me­rauke? Kerangka satu daripada revolusi itu, satu masyarakat yang adil dan makmur, tanpa exploitation de l’homme par l’homme? Dus satu masyarakat tanpa kapitalisme, satu masyarakat tanpa groot grondbezit? Satu masyarakat tanpa orang yang satu kaya, yang lain menjadi miskin? Tidak! Itu adalah tujuan revolusi yang dibuat oleh revolusi sendiri, yang ditujukan oleh revolusi sendiri. Engkau tidak bisa mengubah. Demikian pula satu dunia baru tanpa exploitation de nation par nation. Itupun tujuan revolusi yang tidak bisa kita ubah.
Oleh karena itu maka kita, kita, kita, kita sekalian, ya aku, ya engkau, ya engkau, ya, engkau, ya engkau semua gubernur harus setia kepada tujuan revolusi ini. Dan siapa yang hendak meng­ubah, mencoba mengubah, tidak bisa dia. Siapa yang hendak mengubah tujuan daripada revolusi ini, dia adalah kanan, bukan saja, tapi dia akan rampal ia punya gigi sendiri. Bukan revolusi yang akan hancur, atau akan membelok, tidak! Dia yang akan mengubah itu, akan membelokkan, dia akan rampal dia punya gigi. Seperti manusia menggigit kepada besi baja yang sekeras-kerasnya, bukan besi yang hancur, tetapi gigimu akan hancur lebur sama sekali. Engkau akan diganyang oleh revolusi!
      Oleh karena itu, maka benar apa yang kukatakan, kita semua adalah anak daripada revolusi. Ya, aku anak revolusi, engkau anak revolusi, engkau anak revolusi, Nasution anak revolusi, Achmadi anak revolusi, Sajarwo anak revolusi, Siwabessy, Professor Doctor Siwabessy anak daripada revolusi. Tetapi ada satu hukum revolusi : revolusi akan makan, ngganyang anaknya sendiri, jikalau anaknya itu tidak setia kepada orang tuanya. De revolutie eet haar eigen kinderen op. Semua anak revolusi yang tidak setia kepada tujuan revolusi, dia akan dimakan oleh induknya sendiri. Inilah yang saudara-saudara harus lalui ingat, jangan engkau dimakan oleh revolusi, jangan engkau dimakan oleh revolusi, jangan aku dimakan oleh revolusi. Oleh karena itu aku dengan gigih, saudara-saudara, menentang semua usaha yang akan membelokkan revolusi kita ini, sebab dipercayakan kepadaku akan pimpinan revolusi ini.
      Ada, memang ada, saudara-saudara, golongan-golongan yang mau membelokkan revolusi ini, – dengan kata yang populer yang juga dikatakan oleh Pak Marno tadi -, dari kiri, mau dibelokkan ke kanan. Apa yang dinamakan kiri? Kiri itu progresif revolusioner. Itu kiri. Sebetulnya perkataan Pak Bandrio progresif revolusioner kiri adalah pleonasme. Pleonasme itu satu perkataan terlalu banyak, kelebihan. Progresif adalah selalu kiri. Progresif revolusioner adalah kiri. Tidak perlu dikatakan progresif revolusioner kiri, tidak. Tidak ada progresif revolusioner kanan, tiak ada. Iya, tidak ada. Perkataan progresif itu saja sudah menggambarkan kekirian. Progresif itu maju. Sungai itu progresif dari sumber ke laut. Itu the progress of the river. Sungai ini kiri, oleh karena ia adalah progresif.
      Progresifnya apa di dalam masyarakat? Dulu masyarakat feodal, diubah menjadi masyarakat industrialisme, industrialisme kapitalisme. Itupun progresif, saudara-saudara. Dari masyarakat feodal kepada masyarakat industrieel-kapitalisme progresif pada waktu itu. Sebab dulu feodal, kekuasaan raja saja, yang menjadi pokok daripada masyarakat, ialah raja dengan aristokrat-aristokrat, dengan padri-padri daripada gereja, eerste en tweede stand, Saudara-saudara. Kalau ada manusia mengubah susunan ma­syarakat feodal ini membawanya kepada tingkatan yang kemudian, yaitu industrieel-kapitalisme sebagai terjadi di Perancis, re­volusi Perancis itu adalah satu revolusi progresif revolusioner. Tetapi massa tidak diam, evolusi masyarakat tidak diam, selalu berjalan sebagaimana sungai tidak ada yang mandek. Air sungai itu selalu mengalir. Demikian pula, saudara-saudara, pertumbuh­an masyarakat, sesudah tingkat feodal menjadi tingkat industrieel-kapitalisme. Sesudah tingkat industrieel kapitalisme, tingkat sosialisme. Nah, ini progressiviteit.
      Kita sekarang di mana? Apakah di sini feodal, apakah di sini industrieel kapitalisme, apakah di sini sosialisme? Menurut perkataan dari Pak Bandrio atau Pak Marno, kita ini di sini. Kita di sini, yaitu kita di dalam fase nasional demokratis daripada revolusi kita, yang di dalam fase nasional demokratis ini sudah mulai untup-untup unsur-unsur daripada fase sosialisme. Nah, kalau kita terus berjalan ke sini, inilah progresif, saudara-saudara. Tetapi sebaliknya, kalau kita mau kembali ke sini, lha mbok kita revolusioner, kita tidak progresif.
      Di Bogor saya berkata, ambil Hilter. Hilter ini bukan main revolusionernya. Revolusiner dalam arti menjebol. Ooh, Hilter jebol sama sekali susunan masyarakat Jermania pada waktu itu. Dia jebol sama sekali, diganti dengan susunan baru. Jebol demokrasi, ganti dengan susunan National Sozialismus. Jebol susunan yang dikehendaki oleh kaum buruh di Jerman, diganti dengan Monopol Kapitalismus. Revolusioner ia punya cara, cara menjebol, cara menghantam kepada orang yang menentang ia punya penjebolan. Manusia didrel, manusia disembeih, manusia digas. Bukan satu dua manusia puluhan ribu manusia didrel. Puluhan ribu manusia dimasukkan dalam concentratie-kamp. Puluhan ribu manusia digas. Yang saya sendiri melihat pada waktu itu, – kalau tidak salah …. Jij ikut, pada waktu kita pergi ke Auswitz? Masyarakat yang demikian itu, saudara-saudara, oleh Hitler diadakan dengan cara revolusioner. Tetapi Hitler tidak progresif revolusioner, karena dia mau membalikkan. Dia adalah retrogresif revolusioner.
      Di dalam pidato Takari saya sudah memberi peringatan, ja­ngan kita retrogresif. Kita semuanya harus progresif, pro dalam arti menuju kepada sosialisme. Sosialisme itu apa? Sosialisme adalah tegas-tegas, tegas-tegas, satu masyarakat adil dan makmur anti kapitalisme. Satu masyarakat yang adil dan makmur sama rasa sama rata, baik di lapangan politik maupun di lapangan ekonomi. Tidakkah aku yang berkata, bahwa kita punya sosialis­me adalah bukan sociaal democratie, tetapi sociale democratie? Sociale democratie adalah demokrasi politik, ekonomi, bukan sekedar demokrasi politik tok. Tetapi suatu demokrasi politik, ekonomi. Siapa yang ekonomis tidak demokratis, dia bukan sosialis.
      Oleh karena itu maka aku berkata, siapa yang anti landreform, dia sebetulnya ekonomis bukan demokrat. Tidak demokrasi ekonomi dia itu, karena dia menguasai tanah, bidang tanah yang banyak sekali dia kuasai sendiri, orang lain tidak boleh ikut memiliki. Seribu kali satu hari dia berkata aku demokrat, tetapi dia menguasai tanah bukan satu dua hektar, tetapi di Jawa Barat itu dulu ada pernah – Mashudi, berapa? – 100 hektar. Kalau menurut keterangan, apa itu dulu lho, ini, Van Kelderen, pernah ada yang 600 hektar, dekat Leles. Tidak tahu sekarang. Sekarang kau punya kebijaksanaan untuk menjalankan retribusi tanah itu.
      Nah, siapa yang berkata demokrat, demokrat, demokrat tetapi menguasai tanah, dia tidak progresif. Dia bukan demokrat ekonomis. Dus dia bukan sosialis, dia adalah kanan, kanan. Dan di kalangan rakyat kita ini ada golongan-golongan yang kanan. Bahkan ada golongan-golongan yang mau membelokkan su­ngai ini yang hendak ke laut sosialisme, hendak dibelokkan ke lain jurusan. Yah, dia berkata, sosialisme, sosialisme, sosialisme, sosialisme Pancasila, sosialisme, sosialisme. Apa yang dinamakan sosialisme? Ya, adil dan makmur. Ya, adil itu apa? Itu mesti kita kejar, saudara-saudara.
     Ada yang memakai perkatan Pancasila. Aku Pancasila, iya, kalau Pancasila sebagai yang dimaksudkan oleh Bung Karno itu baik. Pancasila adalah wadah. Wadah daripada – boleh dikatakan – ya Nas, ya A, ya Kom. Kan saya sendiri berkata tatkala saya menguraikan Pancasila, bahwa Pancasila itu adalah wadah, bahwa Pancasila itu adalah sebenarnya satu emanasi yang tinggi sekali daripada segala aspirasi rakyat Indonesia. Siapa yang tidak Nas-A-Kom, bukan Pancasila, kataku di dalam rapat raksasa di Surabaya. Bagaimana mau Pancasila, tetapi tidak Nas-A-Kom!
      Ada sekarang ini yang memakai perkataan Pancasila itu sebagai satu something against. Aku Pancasila lho, aku Pancasila lho, aku Pancasila lho, tetapi yang dimaksudkan, aku ini bukan komunis. Aku Pancasila lho, lho aku Pancasila, dipergunakan sebagai satu begrip anti, anti komunis. Lha kena apa kok dikatakan, aku Pancasila lho, aku Pancasila lho, aku bukan Nas. Atau aku Pancasila lho, aku Pancasila lho, aku bukan A. Tidak.
     Nah, Pancasila itu malahan kumpulan dari pada wadah, daripada ya Nas, ya A, ya Kom. Kom di dalam arti yang berulang-ulang saya katakan bukan PKI, bukan komunis sebagai yang dikenal oleh orang-orang sekarang ini, Kom dalam arti sosialisme. Dalam arti anti kapitalisme, Kom dalam arti cita-cita sosial yang menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa exploitation d l’homme par ‘homme. Itu adalah yang dimaksudkan dengan perkataan Kom dalam Nasakom. Dan oleh karena ini adalah satu realitas di dalam bangsa kita Indonesia, realitas bukan bikinan saya, tetapi tumbuh daripada kalbu sedalam-dalamnya daripada bangsa Indonesia sendiri, yaitu paham Nas, paham A, paham Kom, – Kom dalam arti itu tadi –, tidak akan ada orang yang sebenarnya bisa mengubah Nasakom ini. Tidak. Siapa mau mengubah ini, sebenarnya, sebetulnya mencoba mengubah bangsa Indonesia sendiri.
      Nah ini, gubernur-gubernur mengertilah, mengertilah, mengertilah hal yang demikian ini, jangan kok tiap-tiap orang yang mempunyai sociale ideologie, tiap-tiap orang yang berpikir sociale demokratie dicap, o, dia itu PKI, tangkap dia, masukkan dia dalam penjara! Salah, saudara-saudara, salah, sekali lagi salah!
      Nah, ini pegangan yang harus dipegang oleh para gubernur di dalam pengamanan daerahmu. Sebab aku melihat, militer gesproken, ya, sudah aman. Tetapi sosial politik belum, sosial politik belum. Dan saudara tidak bisa mengamankan rakyat saudara, kalau saudara tidak berdiri di atas prinsip sebagai yang aku kemukakan. Mungkin pada suatu waktu kelihatannya seperti aman, rust en orde, tetapi still it can explode, belakangan masih bisa meledak. Apalagi kalau saya ingat kepada wet van het behoud van ieder mens, van ieder samenleving. Saya cuma menghendaki agar supaya bangsa Indonesia kompak bersatu, sebab tidak dengan kompaknya bangsa Indonesia bersatu, ya, dan bestaan wij niet als negara. Negara ini adalah hasil daripada kekompakan bangsa Indonesia. Aku Presiden hasil daripada kekompakkan bangsa Indonesia. Angkatan darat hasil daripada kekompakan bangsa Indonesia. Kekompakan bangsa Indonesia melahirkan Angkatan Darat. Kekompakan bangsa Indonesia mengadakan, melahirkan negara Indonesia. Negara Indonesia melahirkan Angkatan Darat. Kekompakan bangsa Indonesia ini melahirkan Angkatan Udara, melahirkan Angkatan Laut, melahirkan Angkatan Kepolisian, melahirkan pemerintah, melahirkan susunan Angkatan Laut, melahirkan gubernur-gubernur, melahirkan Daswati ini, Daswati itu.
      Pokok dari pada segala pokok, saudara-saudara, kekompakan bangsa. Jaga, jaga, jangan sampai bangsa kita ini terpecah-belah. Saudara adalah Bapak rakyat, juga supaya rakyatmu iu tidak terpecah-belah, tidak gontok-gontokan. Sebab sebagai dikatakan oleh Toynbee dan Gibbon, a great civilization never goes down unless it destroys itself from within. Kita adalah great civilization. Tetapi justru oleh karena kita great civilization itu, sebe­tulnya nekolim tidak bisa menghancur-leburkan kita, – sebagai tadi dikatakan Pak Bandrio –, tidak bisa. Saya tahu nekolim itu sejak daripada mulanya memang mencoba menghancurkan kita punya bangsa. Ingat, bulan Juni mereka sudah berkata, look, nanti end October Indonesia will collapse. Ee, kita masih berdiri sampai sekarang Desember 13. Ada juga dikatakan economic collapse. Ee, ya memang mungkin kalau menurut hukum-hukum ekonomi yang dipakai di Eropa, hukum ekonomi bikinan Rotterdam atau hukum ekonomi bikinan universitas-universitas di lain-lain tempat di Eropa atau Amerika, mungkin kita memang akan hancur.
      Tetapi apa buktinya, now? Kita masih berdiri tegak, tegak, meskipun ada kesulitan-kesulitan sebagai diceritakan oleh Pak Doctor Chaerul Saleh itu tadi. Mei, Juni nekolim telah berkata, in October Indonesia will collapse. Tetapi saya menjaga jangan sampai collapse. Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Tuhan, yaitu saya coba ikhtiarkan, bahkan mati-matian ikhtiarkan, jangan sampai bangsa Indonesia ini terpecah-belah. Sebab a great civilization never goes down unless it destroys itself from within.
      Engkau gubernur jangan ikut gontok-gontokan. Jangan self destruction daripada kita punya bangsa. Jangan engkau ikut-ikut terbakar engkau punya hati. Jangan ikut-ikut kepada aliran ini, aliran itu. Jaga saja, saudara-saudara, bahwa engkau mengabdi kepada bangsa Indonesia. Jaga kesatuan, kekuatan, keagungan negara. Roda pemerintah harus jalan dengan lancar, oleh karena kita negara yang kuat, oleh karena kita bangsa yang benar.
      Sekian, terima kasih.

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:21 PM

No comments: