Showing posts with label Sabdo Palon. Show all posts
Showing posts with label Sabdo Palon. Show all posts

Sabdo Palon, "Kerusakan ekosistem/lingkungan hidup di Nusantara"



Sabdo Palon, "Kerusakan ekosistem/lingkungan hidup di Nusantara"

mbah subowo bin sukaris

Salah satu ajaran Sabdo Palon ialah penghormatan terhadap bumi, sebagai sumber penghidupan dan kehidupan bagi manusia itu sendiri. Berkat teknologi modern di jaman modern, maka manusia modern dapat hidup dengan cara serba modern. Kenikmatan hidup di jaman modern itu tidak diimbangi dengan upaya dalam menjaga keseimbangan ekosistem di daratan. Antara lain melestarikan hutan dan gunung sebagai sumber utama air dan oksigen yang sangat penting bagi makhluk hidup. Di samping itu juga manusia yang sangat manusiawi itu memanfaatkan alam tak kenal batas, kebutuhan hidup bertambah seiring dengan terus meningkatnya pertumbuhan penduduk. Gunung digunduli, sumber air dirusak, dan berbagai hewan predator dimusnahkan antara lain ular sawah, burung hantu yang memakan tikus. Dan juga burung pemakan serangga dibunuh atau ditangkap untuk diperdagangkan. Segala macam ulah itu akan mendatangkan bencana dahsyat yang mengancam kehidupan manusia itu sendiri.
        Nusantara yang subur dan kaya raya sumber alam dan tambangnya konon di masa silam berkat ajaran dalam salah satu agama besar yang melarang membunuh dan menyiksa hewan maupun merusak tumbuhan, maka alam tetap terjaga dengan baik. Tentu saja di masa silam itu belum terlanda teknologi modern dalam mengeruk kekayaan bahan tambang yang selalu merusak lingkungan itu. Sabdo Palon pada akhir abad keempat belas sudah menyatakan segala yang terjadi di masa depan Nusantara sebagai berikut:

Bumi ilang berkatira,
Ama kathah kang ndhatengi,
Kayu kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
 Pan risaknya nglangkungi,
 Karana rebut rinebut,
 Risak tataning janma,
 Yen dalu grimis keh maling,
 Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.

Kelak Bumi akan berkurang hasilnya bagi penghidupan manusia. Bumi yang tidak punya keseimbangan lagi itu akan mendapat serangan dari berbagai hama. Pohon di hutan terus berkurang dan hilang karena ditebang/dicuri orang. Kebutuhan kayu orang banyak yang saling berebutan untuk membikin rumah mengakibatkan timbulnya kerusakan hebat pada hutan. Agama yang diharapkan pun tidak mampu membendung rusak moral manusia. Bila hujan gerimis orang berlomba memasuki hutan untuk maling kayu hutan.

****

Artikel bersinggungan
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 4:33 PM

Sabdo Palon, "Hancurnya negeri agraris Nusantara."



Sabdo Palon, "Hancurnya negeri agraris Nusantara."


mbah subowo bin sukaris


Seiring waktu berjalan pertumbuhan penduduk pulau Jawa yang tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang tersedia, ditambah rusaknya lingkungan hidup sudah dititahkan oleh Sabdo Palon pada menjelang abad kelimabelas sebagai berikut, "Tanah Jawa rusak akibat ulah manusia yang membahayakan lingkungan hidup. Akibatnya kerja mandiri mengolah tanah tidak lagi mencukupi hasilnya untuk hidup. Para priyayi bertanah luas merasa sedih juga.. Pedagang hasil bumi seringkali menderita kerugian. Pekerjaan buruh dan tukang tidak lagi dapat diandalkan untuk hidup. Petani tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Semuanya itu terjadi akibat musnahnya hutan sumber penghidupan."

Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.

Bagi kaum Tani nyawa kehidupan mereka berada di tanah yang tidak seberapa dapat mereka miliki secara turun-temurun maupun hasil keringat sendiri. Tanah ladang, tegalan, dan sawah menjadi tumpuan hidup dan pekerjaan utama sehari-hari, mereka mengolah dan menanaminya berbagai macam tumbuhan buah dan bahan makanan. Di masa silam kehidupan rakyat di Jawa sehari-hari cukup makmur dengan penghidupan seperti itu.
      Akan tetapi di masa modern ini pola kehidupan agraris tersebut di atas tidak lagi dimungkinkan karena tingkat kesuburan tanah sudah jauh berbeda karena lingkungan hidup rusak parah akibat maraknya pembabatan hutan besar-besaran yang merusak mata air, maupun penyempitan lahan untuk pembangunan sarana perumahan. Ditambah lagi pencemaran udara dari mesin-mesin kendaraan berbahan bakar fosil.
      Jawa dan Nusantara selama berabad yang silam merupakan negeri agraris dan sampai jaman modern ini belum berubah menjadi negeri industri modern kecuali dalam menambang kekayaan alam berupa emas, minyak bumi, tembaga uranium, timah dan lain-lainnya. Itupun dilakukan oleh maskapai asing seperti Freeport, Newmont, Caltex, Chrysler, Shell dan seterusnya di samping itu juga dikelolah oleh BUMN. Konon menurut hasil survei asing yang diam-diam dan mereka rahasiakan di Borneo memang terdapat harta karun melimpah berupa bahan tambang yang belum dieksplorasi antara lain emas, uranium, intan, minyak bumi, dan lain-lainnya. Sehingga wacana untuk memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Kalimantan yang dicetuskan oleh Bung Karno bukan tanpa alasan yang masuk akal. Bangsa Indonesia dapat mengeksplorasi sendiri secara berdikari dan mandiri dalam menggali harta karun Kalimantan tersebut  untuk membikin rakyat Nusantara hidup "gemah ripah loh jinawi". Dan tidak sekalipun menyerahkan pengelolaan harta karun Kalimantan kepada pihak asing.
      Syarat sebagai negeri agraris yang makmur sebenarnya sudah mencukupi karena Nusantara berada di sabuk Khatulistiwa yang subur dan cuma mengenal musim hujan dan kemarau. Segala tumbuhan tropis dapat hidup dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bagi penduduknya. Lingkungan hidup yang masih baik itu terjadi di masa silam dan telah musnah di masa modern ini. 

*****
artikel bersinggungan
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:05 PM

Sabdo Palon Lengkap

Sabdo Palon, "Kerusakan ekosistem/lingkungan hidup di Nusantara"
Salah satu ajaran Sabdo Palon ialah penghormatan terhadap bumi, sebagai sumber penghidupan dan kehidupan bagi manusia itu sendiri. Berkat teknologi modern di jaman modern, maka manusia modern dapat hidup dengan cara serba modern. Kenikmatan hidup di jaman modern itu tidak diimbangi dengan upaya dalam menjaga keseimbangan ekosistem di daratan. Antara lain melestarikan hutan dan gunung sebagai sumber utama air dan oksigen yang sangat penting bagi makhluk hidup. Di samping itu juga manusia yang sangat manusiawi itu memanfaatkan alam tak kenal batas, kebutuhan hidup bertambah seiring dengan terus meningkatnya pertumbuhan penduduk. Gunung digunduli, sumber air dirusak, dan berbagai hewan predator dimusnahkan antara lain ular sawah, burung hantu yang memakan tikus. Dan juga burung pemakan serangga dibunuh atau ditangkap untuk diperdagangkan. Segala macam ulah itu akan mendatangkan bencana dahsyat yang mengancam kehidupan manusia itu sendiri.
        Nusantara yang subur dan kaya raya sumber alam dan tambangnya konon di masa silam berkat ajaran dalam salah satu agama besar yang melarang membunuh dan menyiksa hewan maupun merusak tumbuhan, maka alam tetap terjaga dengan baik. Tentu saja di masa silam itu belum terlanda teknologi modern dalam mengeruk kekayaan bahan tambang yang selalu merusak lingkungan itu. Sabdo Palon pada akhir abad keempat belas sudah menyatakan segala yang terjadi di masa depan Nusantara sebagai berikut:

Bumi ilang berkatira,
Ama kathah kang ndhatengi,
Kayu kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
 Pan risaknya nglangkungi,
 Karana rebut rinebut,
 Risak tataning janma,
 Yen dalu grimis keh maling,
 Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.

Kelak Bumi akan berkurang hasilnya bagi penghidupan manusia. Bumi yang tidak punya keseimbangan lagi itu akan mendapat serangan dari berbagai hama. Pohon di hutan terus berkurang dan hilang karena ditebang/dicuri orang. Kebutuhan kayu orang banyak yang saling berebutan untuk membikin rumah mengakibatkan timbulnya kerusakan hebat pada hutan. Agama yang diharapkan pun tidak mampu membendung rusak moral manusia. Bila hujan gerimis orang berlomba memasuki hutan untuk maling kayu hutan.

****
Sabdo Palon, "Kejayaan Islam di Nusantara."

Limaratus tahun sejak masa keruntuhan kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Brawijaya, rejim Orde Baru berkuasa penuh di bumi Nusantara. Seiring kejayaan Orde Baru juga diiringi Islam berkembang sangat pesat dalam segala hal. Berbagai aliran atau mazhab dalam Islam atau apapun istilahnya ramai-ramai menunjang kejayaan Islam di bumi Pertiwi. Persatuan dan kesatuan umat Islam berjalan sangat baik sekali di masa Orde Baru yang otoriter. Tempat peribadatan bagi kaum muslim mendapatkan prioritas pembangunan tidak hanya di dalam negeri, akan tetapi juga sampai ke Bosnia Herzegovina. Majelis Ulama bertindak dan bersuara sesuai dengan keinginan penguasa Orba.
       Hampir tidak ada perseturuan berarti antara Islam fundamentalis melawan Islam Pluralis, Islam Syiah, Aliran Ahmadiyah, Khadiriyah, dan seterusnya. Pada waktu itu memang ada gerakan untuk mendirikan Negara Islam di Nusantara yang kemudian bermetamorfosa menjadi gerakan mendirikan kekhalifaan Islam atau lainnya. Yang dimaksud dengan Islam fundamentalis atau garis keras di atas secara awam ialah yang murni menjalankan Syareat Islam berdasarkan Al-Qur'anul Karim dan Hadist Nabi Muhammad s.a.w.
      Sabdo Palon, seorang penasihat spiritual Raja Majapahit terakhir, Brawijaya, sudah mengatakan tentang dia akan muncul kembali di masa kejayaan Islam di Nusantara 500 tahun sejak 1478, yakni saat beliau yang konon adalah Dang Hyang Tanah Jawi, atau pepunden Nusantara akan muncul kembali untuk menyebarkan ajaran beliau yang disebut "kawruh budi". Kemunculan Sabdo Palon tersebut tentu tidak tepat jika terjadi di masa kehancuran Islam, malahan sebaliknya, yakni di masa kebesaran Islam, karena Islam tidak mungkin hancur sendiri tanpa sebab-akibat sesaat tatkala Sabdo Palon sedang atau baru muncul kembali setelah menghilang selama 500 tahun.
      Maka tatkala Orde Baru sedang mengalami era keemasan, dan Islam juga sedang mendulang kejayaan, menjadi saat yang tepat bagi Sabdo Palon turun dari alam gaib (mayapada) kembali ke Bumi, ke alam marcapada. Hal tersebut sudah diucapkan Sabdo Palon di era Majapahit sebagai berikut:
Jangkep gangsal atus tahun,
Wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Buda kula sebar tanah Jawa.
Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami,
Sun sajekken putu kula,
Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen durung lebur atempur.

Kelak di masa depan limaratus tahun sejak hari ini saya akan mengubah agama negara Nusantara dengan kawruh budi dengan menyebarkan ke seluruh tanah Jawa. Barang siapa yang menghalangi usaha saya itu, maka siapa pun akan saya hancurkan menjadi santapan jin, setan, dan makhluk halus lainnya. Niat saya itu lurus dan belum lega hati saya jika mereka belum musnah dan hancur lebur.

Apa yang sudah menjadi titah Sabdo Palon tersebut kini (2011) mulai tampak dengan jelas, bahwa kaum jin dan setan sedang bekerja keras merasuki tubuh-tubuh para teroris, para fundamentalis, dan para lainnya. Mereka kesetanan membunuh sesama dan sesaudara kaum muslimin. Dan juga mereka yang kerasukan itu menyebarkan teror ke mana-mana, dan bahkan membikin negara tandingan yang tidak masuk akal, ditambah lagi membikin semacam fatwa lebay yang tidak sesuai lagi dengan progressif jaman atau hukum perkembangan sejarah sehingga berbeda dengan inti atau saripati daripada Hadist Rasulullah yang Agung. Mengenai hal ini Bung Karno mengatakan, "Ambillah api daripada ajaran Islam itu, dan bukan mengambil abunya." Barangsiapa berbeda faham sedikit  apalagi banyak dengan si manusia yang sedang kerasukan seperti itu berarti cari perkara atau musuh.  Dan perkara yang paling besar ialah segala tindakan yang mengatasnamakan agama itu kelak akan menjadi bumerang bagi diri sendiri yang ibarat menggali lubang kubur sendiri. Kejayaan Islam di Nusantara yang diharapkan berlangsung sepanjang jaman itu mulai pudar digerogoti tindakan anarkis demi kepentingan kelompok tertentu yang ingin berkuasa  atau  merebut kuasa politik, dan tentu saja sebagai akibatnya menjadi sasaran empuk bagi serangan dari para setan dan makhluk halus lainnya yang selalu membantu manusia yang berkeinginan jahat.
      Kejayaan Islam di Nusantara saat ini tidak terbantahkan lagi, mulai dari rakyat jelata hingga kaum akademisi yang bergelar doktor ramai-ramai pata cengke berfikir seragam dan sepakat untuk terus melanggengkan keagungan Islam. Juga segala macam media massa dan multimedia menunjukkan hal yang seragam dan serupa untuk terus menjaga masa keemasan Islam di Nusantara.
        Di sisi lain Sabdo Palon yang tengah membangkitkan dari kubur dan kemudian mengerahkan mereka para makhluk halus, mulai dari jin, setan, genderuwo, wewe gombel, wedon, iblis, leak, kuntilanak, dan lain-lain untuk "menghancurkan manusia siapa pun tanpa kecuali yang tidak mau tunduk", apalagi menolak "kawruh budi" yang baik. 
      Manakah yang lebih unggul kelak dalam pertarungan ini: Islam yang sedang jaya atau Kawruh Budi yang baik? Jawabannya tentu dapat diketahui kelak seiring perjalanan dalam ruang dan waktu ke masa depan.

****

Sabdo Palon, "Hancurnya negeri agraris Nusantara."


Seiring waktu berjalan pertumbuhan penduduk pulau Jawa yang tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang tersedia, ditambah rusaknya lingkungan hidup sudah dititahkan oleh Sabdo Palon pada menjelang abad kelimabelas sebagai berikut, "Tanah Jawa rusak akibat ulah manusia yang membahayakan lingkungan hidup. Akibatnya kerja mandiri mengolah tanah tidak lagi mencukupi hasilnya untuk hidup. Para priyayi bertanah luas merasa sedih juga.. Pedagang hasil bumi seringkali menderita kerugian. Pekerjaan buruh dan tukang tidak lagi dapat diandalkan untuk hidup. Petani tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Semuanya itu terjadi akibat musnahnya hutan sumber penghidupan."

Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.

Bagi kaum Tani nyawa kehidupan mereka berada di tanah yang tidak seberapa dapat mereka miliki secara turun-temurun maupun hasil keringat sendiri. Tanah ladang, tegalan, dan sawah menjadi tumpuan hidup dan pekerjaan utama sehari-hari, mereka mengolah dan menanaminya berbagai macam tumbuhan buah dan bahan makanan. Di masa silam kehidupan rakyat di Jawa sehari-hari cukup makmur dengan penghidupan seperti itu.
      Akan tetapi di masa modern ini pola kehidupan agraris tersebut di atas tidak lagi dimungkinkan karena tingkat kesuburan tanah sudah jauh berbeda karena lingkungan hidup rusak parah akibat maraknya pembabatan hutan besar-besaran yang merusak mata air, maupun penyempitan lahan untuk pembangunan sarana perumahan. Ditambah lagi pencemaran udara dari mesin-mesin kendaraan berbahan bakar fosil.
      Jawa dan Nusantara selama berabad yang silam merupakan negeri agraris dan sampai jaman modern ini belum berubah menjadi negeri industri modern kecuali dalam menambang kekayaan alam berupa emas, minyak bumi, tembaga uranium, timah dan lain-lainnya. Itupun dilakukan oleh maskapai asing seperti Freeport, Newmont, Caltex, Chrysler, Shell dan seterusnya di samping itu juga dikelolah oleh BUMN. Konon menurut hasil survei asing yang diam-diam dan mereka rahasiakan di Borneo memang terdapat harta karun melimpah berupa bahan tambang yang belum dieksplorasi antara lain emas, uranium, intan, minyak bumi, dan lain-lainnya. Sehingga wacana untuk memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Kalimantan yang dicetuskan oleh Bung Karno bukan tanpa alasan yang masuk akal. Bangsa Indonesia dapat mengeksplorasi sendiri secara berdikari dan mandiri dalam menggali harta karun Kalimantan tersebut  untuk membikin rakyat Nusantara hidup "gemah ripah loh jinawi". Dan tidak sekalipun menyerahkan pengelolaan harta karun Kalimantan kepada pihak asing.
      Syarat sebagai negeri agraris yang makmur sebenarnya sudah mencukupi karena Nusantara berada di sabuk Khatulistiwa yang subur dan cuma mengenal musim hujan dan kemarau. Segala tumbuhan tropis dapat hidup dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bagi penduduknya. Lingkungan hidup yang masih baik itu terjadi di masa silam dan telah musnah di masa modern ini. 

****
Sabdo Palon, "Masa paling sengsara di Nusantara"


Begitu orde reformasi giliran menggantikan orde baru tatkala itulah rakyat di gunung-gunung seluruh Nusantara mulai ngamuk menebang habis pohon di hutan untuk dijadikan ladang jagung, singkong dan lainnya tergantung pada tingkat kesuburan tanah di areal hutan setempat. Di Jawa Timur sekitar petilasan keraton Sri Aji Joyoboyo yakni bukit Klotok dan pegunungan Wilis keadaan lebih parah lagi. Bukit klotok langsung gundul dan hutan di kaki dan punggung gunung Wilis hanya dalam beberapa tahun saja sudah berubah menjadi ladang jagung. Untuk membuka ladang jagung tersebut pohon-pohon langka yang hidup di bukit Klotok dan gunung Wilis ditebang habis, dan akibatnya tanah pegunungan melalui perantaraan akar-akar pohon tua yang berusia ratusan tahun tidak mampu lagi menyerap air hujan. Dan tidak dalam jangka panjang telah dapat mendatangkan banjir besar yang melanda wilayah dataran rendah wilayah Banyakan, kabupaten Kediri yang berada dalam radius beberapa kilometer dari gunung Wilis maupun bukit Klotok.
    Demikian pula keadaan di daerah Lodoyo, Blitar Selatan hutan yang sudah kurus menjadi gundul dan tampak dari kejauhan sebagai bukit gersang. Contoh kecil di atas bisa dibuatkan daftar panjang jika mencakup seluruh wilayah hutan di Nusantara.
    "Siapa cepat membabat hutan, maka dialah yang menjadi pemilik ladang baru." demikian ucapan penduduk setempat yang serentak merasa bebas menjarah hutan bersama lengsernya bapak pembangunan Jenderal Besar Soeharto yang sangat ditakuti oleh rakyat hingga jauh ke pelosok gunung-gunung, sehingga amanlah hutan untuk sementara waktu selama orde baru berkuasa.
    Aparat kehutanan setempat menciut nyalinya menghadapi kegarangan penduduk yang secara serentak bergerak menjarah hutan, mereka menyelamatkan diri melindungi ekornya sendiri.
    Keadaan alam di pojok Jawa yang dapat menggambarkan Nusantara secara keseluruhan tersebut sudah menjadi Titah Sabdo Palon pada abad kelimabelas, yang berbunyi sebagai berikut:

Sanget-sangeting sangsara
Kang tuwuh ing tanah Jawi
Sinengkalan tahunira
Lawon Sapta Ngesthi Aji
Upami nyabarang kali
Prapteng tengah-tengahipun
Kaline banjir bandhang
Jeronne ngelebna jalmi
Katahah sirna manungsa prapteng pralaya.

Kelak akan terjadi masa paling sengsara di Jawa/Nusantara pada tahun "lawon sapta ngesti aji". Pada waktu itu seseorang yang hendak menyeberang sungai tatkala tiba di tengah-tengah sungai tiba-tiba arus sungai mendadak berubah sangat deras akibat banjir bandang, maka sungai itu pun meluap ke wilayah sekitarnya. Banjir besar (banjir bandang) itu akan terus terjadi dan memakan/menelan korban yang berjatuhan di mana-mana.
    Gunung Klotok yang masyhur dengan Goa Selomangleng dan dekat keraton Kediri di masa lampau disebut Gunung Emas Kumambang menjadi sumber penghidupan bagi rakyat setempat yang berada di sekitar wilayah keraton Sri Aji Joyoboyo pada abad kesebelas. Semua tersedia melimpah di bukit Emas Kumambang, kayu bakar, hewan perburuan, tanaman obat-obatan, pakan ternak, dan lainnya. Di masa kolonialis Belanda bukit Emas Kumambang berubah nama diganti oleh penduduk menjadi bukit Klotok, bukit yang penuh kolo atau hewan berupa hama dan serangga.
    Tahun lawon sapta ngesthi aji masih menghadang di masa depan, kapankah itu? Masa itu akan datang bersamaan rusaknya ekosistem yang paling menyengsarakan rakyat Nusantara ialah kurangnya sumber air bersih, dan ini berarti terjadinya di daerah gersang. Banjir yang terus-menerus akan mengikis lapisan tanah yang subur di daerah subur dan selanjutnya menjadi tanah gersang tak menghasilkan apapun. Dan pada gilirannya lenyaplah sumber atau mata air bersih. Begitulah lingkaran setan yang bakal terjadi tanpa dapat dicegah atau diatasi oleh negara sekalipun!

****
 
Sabdo Palon, "Sebarkan agama kawruh budi....!"

 
Dinasti Sanjaya pemeluk Hindu dan dinasti Syailendra pemeluk Buddha bergantian menguasai daerah selingkaran gunung Merapi. Pada 775 Rakai Panangkaran jadi bawahan Syailendra mendirikan candi Kalasan atas perintah sang atasan. Giliran pada 850 Rakai Pikatan raja dinasti Sanjaya mengambil alih seluruh wilayah dinasti Syailendra pimpinan Balaputradewa. Yang disebut belakangan ini memindahkan kekuasaannya dari pulau Jawa sekaligus mengambil alih pimpinan kerajaan Sriwijaya di Sumatera.
    Dinasti Sanjaya yang diibaratkan "ayam jago" dan dinasti Syailendra sebagai "gemak putih" pada suatu kali pernah bertempur satu sama lain di wilayah gunung Merapi, tentu perseteruan kedua kerajaan ini sekaligus perseteruan antar umat beragama yang menggegerkan sekaligus mengundang danghyang tanah Jawa waktu itu Ismoyo turun tangan melerai pertikaian di atas. Jalan keluarnya ialah mengadu secara terbuka gemak putih dan ayam jago dari masing-masing kerajaan.
    "Barangsiapa yang kalah dalam pertandingan ini maka akibatnya kelak ditanggung oleh anak-cucu sendiri," kata Ismoyo. Pertandingan pun berlangsung terbuka disaksikan para petinggi kedua kerajaan. Ayam jago dari wilayah Barat melawan gemak putih dari Selatan dengan pasaran tinggi tentu berada di tangan si ayam jago pilihan dan juara kerajaan. Gemak putih yang kecil dan tidak mungkin menang melawan seekor ayam yang berukuran jauh lebih besar itu tidak mendapat tempat dan tidak diunggulkan sama sekali.
    Tidak diduga oleh siapapun yang keluar sebagai pemenang adalah si gemak putih itu. Dan sejak itu pula Ismoyo membikin jejak pada bibir kawah gunung Merapi di bagian Barat Daya sebagai batas antara dua kerajaan dan tempat mengalir lahar panas, lahar dingin, dan awan panas untuk sepanjang jaman. Sebelum ada perseteruan tersebut sampai turunnya Ismoyo ke bumi arah daripada letusan Merapi tidak ke Barat Daya melainkan mengarah ke segenap penjuru dan menyuburkan seluruh wilayah. Berkah Merapi tetap dapat dinikmati oleh seluruh penduduk sekeliling Merapi dengan aliran-aliran sungai yang memutari wilayah Barat, Selatan, Timur dan Utara.     
    Ismoyo pun beberapa kali berganti wadag kasarnya atau bereinkarnasi dan di masa akhir kerajaan Majapahit beliau menyebut diri dengan nama baru Sabdo Palon. Sebagai pendamping Prabu Brawijaya yang sudah meninggalkan agama leluhur kemudian memeluk Islam maka pada 1478 Sabdo Palon bertitah di hadapan si momongannya. Titah Sabdo Palon bukanlah sebuah ramalan akan tetapi sebuah ucapan yang pasti terjadi sebagai berikut, "Yang Mulia harap mengingat kelak 500 tahun mendatang saya akan menyebarkan agama "kawruh budi" ke seluruh tanah Jawa. Bila saya dihalangi oleh pihak-pihak tertentu selama saya menyebarkan agama tersebut, maka akan saya hancurkan pihak tersebut menjadi makanan lelembut dan lain-lainnya. Saya belum merasa hati lega selama mereka belum hancur-lebur. Sebagai tanda titah saya ini akan berlaku kelak gunung Merapi meletus dibarengi memuntahkan lahar panas, lahar dingin, dan awan panas yang mengalir ke arah Barat Daya yang berbau menyengat. Saat itulah awal kehadiran saya dan memulai menyebarkan agama "kawruh budi". Menggelegarnya Merapi sudah menjadi takdir Sang Hyang Wenangin Jagad. Siklus bintang ialah siklus pergantian yang tidak bisa diubah lagi."

****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 8:05 AM

Sabdo Palon Kawruh Budi

Sabdo Palon titah-Nya Kawruh Budi /Jowo Sanyoto

mbah subowo bin sukaris

Jowo sanyoto yang artinya sebuah kebenaran dari Jawa merupakan agama kawruh budi. Agama kuno ini monotheis, mengakui keesaan Tuhan Sang Hyang Wenangin Jagad. Berbeda dengan Hindu-Jawa yang merupakan polytheis, Jowo Sanyoto dalam intinya mengakui agama besar di dunia beserta Rasul-rasul serta nabi-nabi pembawa wahyu dan ilham, di samping hal-hal di atas yang berbeda ialah reinkarnasi sang pembawa wahyu Jowo Sanyoto abadi sebagai pembuka sekaligus penutup dari manusia pilihan di bumi.
    Cikal-bakal mengenai berkembangnya agama Jowo Sanyoto sebagai agama negara Majapahit -- yang berhasil mendampingi kejayaan di laut selatan -- yaitu pada masa Sri Aji Joyoboyo marak di kerajaan Kediri dan mempunyai pengaruh 75 persen di Nusantara. Perkembangan di bidang seni dan sastra antara lain dengan menerjemahkan Barathayuddha ke bahasa Jawa kuno. Majapahit mengambil alih semua kebesaran Joyoboyo, juga meniru membangun angkatan laut yang disegani di dunia.
    Dalam agama Jowo Sanyoto memiliki kiblat empat. Utara, Selatan, Timur, dan Barat, mirip dengan ritual berkeliling dalam Buddha, ditambah lima pancer atau pusat, yakni bertemu jati diri dalam keheningan samadhi. Memang bukan bertemu diri sebagai sang Maha Esa akan tetapi diri yang sejati. Ritual dalam Jowo Sanyoto tersebut dilakukan pada subuh dan senja hari, mirip dalam salah satu agama monotheis lain. Adapula persembahan atau sesajen yang berbentuk kompas mengarah keempat mata angin, ini mirip dengan Hindu. Persembahan yang sangat sederhana berupa bubur beras merah ini ditujukan, dan wujud terimakasih kepada planet bumi yang menjadi sumber hidup.
    Monotheisme dalam Jowo Sanyoto lebih progressif dan dinamis karena mempercayai reinkarnasi pada sang penerima wahyu, sehingga bertentangan dan melangkahi pandangan agama lain yang salah satunya menyebutkan adanya nabi dan rasul pembukan dan penutup. Poin penting Jowo Sanyoto mengakui semua kitab suci besar dan semua orang suci atau para nabi dan rasul.
    Pengetahuan mengenai agama pendukung kejayaan Majapahit ini digelapkan dalam sejarah oleh oknum-oknum yang tidak menginginkan agama dan negara Majapahit bangkit kembali. Dengan demikian bangsa Nusantara tidak merasa memiliki nenek-moyang yang unggul, sakti mandraguna. Oleh sebab itulah kini yang terjadi di masa modern adalah kesesatan umat dengan membikin aliran-aliran yang tidak jelas ujung pangkalnya .
    Jowo Sanyoto memang sudah terkubur hampir enam ratus tahun lalu, berkat kebobrokan para pejabat dan punggawa yang korup ditambah serbuan dari utara yang membawa keyakinan baru dan ujungnya ambruknya Majapahit menjadi kerajaan kecil-kecil yang di kemudian hari dapat dengan mudah ditaklukkan oleh bangsa Barat yang datang ke Nusantara. "Dalam negara baru ada penguasa yang baru dengan membawa agama baru," begitulah kata pujangga masyhur Pramoedya Ananta Toer.

______________

Pada 1983 agomo Jowo Sanyoto pimpinan Ki Kere di Klaten, Jawa Tengah dilarang oleh rejim "Orde Baru".

****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 1:26 AM

Sabdo Palon Noyo Genggong

Sri Aji Joyoboyo yang hidup pada abad keduabelas masehi (1100-an) menetapkan prediksi agama Hindu-Buddha berkembang 1000 tahun di Nusantara beserta kejayaan bagi kerajaan yang memeluk agama tersebut. Bersamaan perkembangan Hindu-Buddha di Tanah Jawa dan Nusantara lahir pula seorang utusan-Nya untuk menyebarkan agama Islam pada 571 Masehi yakni Rasulullah Muhammad s.a.w. yang menerima firman Allah s.w.t. yang tersusun dalam Al-Qur'an yang mahasuci didampingi Hadist Nabi yang dimuliakan.

Ramalan pertama Sri Aji Joyoboyo
Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong


Usai 1000 tahun berkembang Hindu-Buddha di Nusantara maka sudah pada tempatnya giliran bagi yang lain, yakni akan digantikan oleh Islam sebagai agama negara bagi kerajaan di Jawa dan Nusantara. Sri Aji Joyoboyo juga menyatakan Dang Hyang Tanah Jawi Sabdo Palon dan pendahulunya Noyo Genggong akan murca dari marcapada selama perkembangan agama Islam, ditandai dengan bangkitnya kerajaan Islam di Jawa. Sabdo Palon tidak akan mencampuri Islam dan perkembangannya di Jawa dan Nusantara demi membikin manusianya secara spiritual jadi manusia sempurna. 
    Maka sewajarnyalah, sudah menjadi takdir kerajaan Hindu-Buddha yang gemilang Majapahit berganti kerajaan Islam pertama di Nusantara Demak. Dan sayang sekali karena baru berdiri kerajaan Demak yang tidak memiliki angkatan laut sekuat Majapahit harus berhadapan dengan kekuatan unggul dari Eropa sehingga hanya dapat sedikit menahan masuknya pelaut bersenjata Portugis, bahkan Portugis berhasil memasuki Nusantara tanpa menemui lawan tangguh di medan laut. Dan berturut-turut bangsa Barat berikutnya Belanda bahkan sangat cerdik untuk mengadu domba kerajaan-kerajaan sisa Majapahit sehingga saling bertempur satu sama lain. Selanjutnya Belanda tinggal memetik hasilnya yakni menguasai kedua belah pihak dalam segala hal, terutama mengandalkan keunggulan kekuatan laut dan persenjataan maju yang berhasil dikembangkan Eropa, mesiu atau senjata api mulai ukuran senapan hingga meriam.
    Dengan demikian kekalahan kerajaan Islam atas gempuran bangsa Eropa bukanlah menjadi tanggung jawab danghyang tanah Jawi Sabdo Palon Noyo Genggong. Dan andai kata kerajaan Islam atau negara yang menjunjung Islam memperoleh kejayaan maka itu pun bukan melalui campurtangan sang pepunden Nusantara tersebut. 
    Tiap-tiap masa sebuah kerajaan Nusantara bangkit dan hancur mengalami hal yang sama dengan siklus bintang. Ada sesuatu yang sangat penting yakni semua kerajaan di Jawa mengakui Semar sebagai penguasa gaib dari dunia gaib dengan kemampuan khususnya mengejawantah sebagai manusia biasa selalu hadir dalam proses jatuh-bangunnya kerajaan. Semar bisa berperan sebagai abdi, punakawan, dan bahkan penasihat utama negara. Sebagai titah-Nya tokoh ini pun juga selalu turut hadir bersama jatuh-bangunnya kehidupan sederhana maupun sebuah pemerintahan rumit dalam kerajaan. Dan reinkarnasi Semar yang terakhir dalam siklus perkembangan 1000 tahun Hindu-Buddha ialah Sabdo Palon Noyo Genggong.
       Tahun-tahun pertama perkembangan pesat kehidupan di negara Barat diiringi dengan Majapahit yang jaya di laut dan di bumi Selatan, sementara Tiongkok yang berada di bumi Utara adalah pengimbang tatanan politik dunia pada masa itu. Bumi Selatan ada dalam genggaman Majapahit dan dengan keruntuhan Majapahit maka tatanan politik dunia menjadi tidak seimbang dan dengan mudah pula bangsa Barat berkulit putih menjajah bumi selatan mulai dengan Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan menjadi jalur tanpa ada penjagaan laut yang kuat.
    Kehancuran Majapahit oleh berkembangnya Islam yang masuk ke Jawa adalah sebuah siklus sejarah perkembangan kelas, dan perjuangan kelas. Sabdo Palon Noyo Genggong tahu bahwa Islam harus berkembang di Jawa dan Nusantara maka dari itu ia bersiap-siap untuk murca dari peranannya mengawal takhta dalam kurun 1000 tahun terakhir. Dalam sumpahnya, ia akan hadir kembali dalam jangka 500 tahun, adakah itu mengisyaratkan Islam akan menemui persoalan rumit setelah berkembang 500 tahun di Nusantara?
    "Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong" ramalan Prabu Joyoboyo yang pertama memang menjadi kenyataan tatkala Raja Majapahit yang terakhir Brawijaya memilih meninggalkan agama negara sendiri dan memeluk Islam. Dengan sendirinya Sabdo Palon memutuskan untuk menghilang atau murca dengan cara baik-baik dari hadapan Sri Brawijaya, "Yang Mulia, kami tidak akan melawan perkembangan sejarah, sejarah yang terus berkembang maju tak pernah mundur seinci pun itu, dan di hadapan Yang Mulia maka Kami berjanji akan kembali kelak di mana bumi manusia mengalami gonjang-ganjing dan segalanya harus dimulai dari awal lagi. Demi melindungi Tanah Jawa dan Nusantara serta bumi selatan. Howght!" demikianlah ucapan terakhir sebagai kata pamit Sabdo Palon. Majapahit tak pelak lagi meluncur menemui kehancurannya, atas kehendak takdir sejarah.
 ****


Tulisan bersinggungan :

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 8:21 AM

Kitab Sabdopalon dan Ramalan Joyoboyo kedelapan

Ramalan Joyoboyo kedelapan

Reinkarnasi 
Noyo Genggong Sabdo Palon


Dua pendeta penasihat sekaligus punakawan kerajaan Majapahit ini memang bukan tokoh sembarangan. Selama ini ditafsirkan sebagai makhluk halus. Wadag atau tubuhnya memang sebagaimana lazimnya orang biasa. Roh halus atau roh gaibnya yang luarbiasa, ia mampu bereinkarnasi ribuan kali sejak manusia pertama tinggal di bumi.
    Sebagai pendeta Buddha Jawa (Jowo Sanyoto, agama negara Majapahit) utama di kerajaan Majapahit ilmu agamanya sempurna bahkan lebih sempurna dibanding para pengikut utama Dalai Lama di Tibet. Dari jaman ke jaman Sabdo Palon* terus-menerus berganti raga (wadag), yakni pada saat raganya memang sudah tua dan meninggal dunia.
    Wadag baru pilihan itu tidak atas kemauan pribadi roh Sabdo Palon akan tetapi atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad.
    Jadi sebenarnya walau Majapahit runtuh, Sabdo Palon dan pendahulunya Noyo Genggong tidak pernah murca atau hilang, dia hidup sebagai manusia biasa di bumi manusia ini. Silsilah Sabdo Palon dalam 2500 tahun terakhir mengayomi tanah Jawa, dan bumi bagian Selatan (Man Yang) adalah sbb.: Semar, Humarmoyo, Manikmoyo, Ismoyo, Noyo Genggong, Sabdo Palon, Ki K, WS, dan pada 2010 ini ......???!
    Ramalan Sri Aji Joyoboyo kedelapan bahwa Sabdo Palon akan kembali ke Nusantara, dengan sendirinya dapat ditafsirkan Sabdo Palon kelak berkiprah kembali sebagai pendamping dan penasihat daripada pemimpin negeri suatu kerajaan.
    Tatkala Majapahit pada era keruntuhannya sekitar 1478, di hadapan Prabu Brawijaya yang berganti haluan memeluk Islam sedangkan Sabdo Palon tetap bertahan sebagai titah dengan Jowo Sanyoto sebelum murca (lenyap) Sabdo Palon berjanji, "Yang Mulia, kita ditakdirkan untuk berpisah, tetapi harap Yang Mulia ingat limaratus tahun lagi aku akan kembali ke marcapada bumi Nusantara untuk menjalankan titah-Nya."
    Tepat waktu sebagaimana dijanjikan Sabdo Palon maka pada 1978 (500 tahun sejak Majapahit runtuh berikut murcanya Sabdo Palon) seorang penduduk biasa Jawa Tengah wadagnya dipergunakan oleh Sabdo Palon lengkap dengan Jowo Sanyoto-nya, lelaki tua itu menyebut dirinya Ki K. Pada awal 1990-an sosoknya yang sudah sepuh itu masih berstamina dan memiliki energi besar ditambah daya intelijensinya masih sangat kuat. Bicaranya menyihir barangsiapa saja yang mendengarkan. Sabdo Palon yang satu ini membawa ajaran dalam kitab "suci" Adam Makna (bukan Betaljemur Adam Makna). Salah satu isi kitab itu ialah penjabaran daripada abjad huruf Jawa ho no co ro ko do to so wo lo po dho jo yo nyo mo nggo bo tho ngo (yang bagi orang Sunda sangat penting sekali, ilmu tertinggi dalam dunia kebathinan dan  falsafah di Nusantara). Beliau meninggal sekitar pertengahan 1990-an. Sabdo Palon berganti wadag lagi, dan kali ini dalam diri WS (65 tahunan) tangan kanan dan orang dekat Ki K sendiri. Kehadiran kembali Sabdo Palon dengan melalui reinkarnasi berabad pada sosok manusia pilihan itu atas kehendak dan kuasa Sang Hyang Wenang ing Jagad.
    WS meninggal sekitar 2006, (bersamaan waktunya dengan meletusnya Gunung Merapi), sepak-terjang beliau semasa hidupnya mirip tokoh misterius yang gerakannya juga misterius, ia pernah mencoba memberikan nasihat kepada Presiden Suharto yang di masa itu dikelilingi tokoh-tokoh spiritual tingkat tinggi dan sulit didekati siapapun, konon hasilnya kurang memuaskan; dan beliau di samping itu juga mencoba memberi nasihat atau petuah pada berbagai petinggi militer maupun sipil. Sepak-terjangnya tidak pernah membikin heboh karena setiap lakunya dikerjakan tanpa menarik perhatian. Dan tentu saja ia tidak pernah mengumumkan jatidirinya kepada siapapun. Sosoknya biasa saja, keistimewaannya ialah stamina tubuhnya luarbiasa apalagi saat ia berbicara seolah menyihir para pendengarnya. Dan keberaniannya berbicara menghadapi tokoh manapun sangat luarbiasa.
    Semasa jaman Majapahit dalam wasiatnya Sabdo Palon mengatakan, "Hanya atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad yang maha menentukan manusia pilihan sebagai wadag baru Sabdo Palon." Prosesnya perpindahan Sabdo Palon ke wadag baru berbeda dengan reinkarnasi pendeta Buddha Tibet. Sabdo Palon memasuki tubuh remaja atau dewasa yang telah ditakdirkan Sang Hyang Wenang ing Jagad meninggal dunia dan atas kehendakNya pula tubuh tersebut hidup kembali sebagai reinkarnasi Sabdo Palon baru dengan nama baru. Pada reinkarnasi pendeta Tibet terjadi sejak dalam kandungan ibunya, hingga lahir ke dunia sebagai bayi reinkarnasi pendeta si A atau si B.
    Menurut penuturan Ki K, pada jaman Jepang, Sabdo Palon sebelumnya -- yang kini bersemayam dalam dirinya -- turut bersama balatentara Dai Nippon menyerbu Jawa, membebaskan tanah Jawa dari bangsa kulit putih. Akan tetapi naas di Singapura pesawat tempur Zero yang ditumpangi Sabdo Palon tertembak oleh musuh, seluruh awak tewas, tatkala itulah meloncatlah roh Sabdo Palon dari tubuh seseorang yang tewas dalam pesawat tersebut (orang Jepang!). Sabdo Palon yang memang hendak ke tanah Jawa konon mendarat seorang diri di kaki Gunung Merapi. Pesawat naas itu berangkat dari salah satu kota Jepang.
    Kejayaan Nusantara dalam ramalan Sri Aji Joyoboyo akan terjadi tatkala munculnya kembali Sabdo Palon dan Noyo Genggong. Sabdo Palon alias Ki K pada 1980 mengatakan, "Kejayaan Nusantara yang lebih dahsyat daripada kerajaan Majapahit terwujud bila dunia mengalami goro-goro besar semacam perang dunia dahsyat atau bencana alam berskala besar, misalnya jatuhnya benda angkasa, meletusnya gunung berapi, dan lain-lain. Usai goro-goro terjadi maka dunia akan kembali seperti sediakala. Pada saat itulah tatanan politik dunia baru akan terbentuk dan jauh berbeda dari peta dunia modern sebelumnya. Pasca goro-goro itulah di Nusantara akan muncul Ratu adil dan Sabdo Palon berdampingan menentukan nasib Nusantara dan bumi bagian selatan (Man Yang) dalam satu tata pusat pemerintahan baru," demikian ucapan orisinil Sabdo Palon pada 1980.
    Kapankah terjadinya goro-goro besar dan munculnya ratu adil? Pertanyaan itu akan terjawab setelah ada jawaban atas pertanyaan berikut, "Siapakah yang kini dipilih oleh Sang Hyang Wenang ing Jagad menjadi manusia pilihanNya sebagai wadag terbaru daripada reinkarnasi Sabdo Palon?"
   Beliaulah sumber jawabannya.




___________
*   Makam salah satu wadag Sabdo Palon yang "cuma" seorang abdi rendahan semasa kerajaan Majapahit berada di situs Trowulan Majapahit, makam Troloyo, Mojokerta, Jatim, Indonesia (lembaga situs Majapahit, Trowulan).


****
 english version

Divination eighth Joyoboyo : 

 Reincarnation Noyo Genggong 

Sabdo Palon
Two pastors as well as clown-servants adviser Majapahit kingdom was indeed not a figure arbitrarily. All this is interpreted as a subtle creature. Wadag or her body is as usual ordinary people. Magical spirits or spirits that extraordinary, he could be reincarnated thousands of times since the first humans lived on earth.
    As a Buddhist priest Java (Jowo Sanyoto, the state religion of Majapahit), the main religion in the kingdom of Majapahit perfect science even more perfect than his main followers of the Dalai Lama in Tibet. From era to era Sabdo Palon * constantly changing sport (wadag), ie when the body is old and died.
    New Wadag that option is not for personal willingness Sabdo Palon spirit but by the will of Sang Hyang Wenang ing Jagad. So in fact although the Majapahit collapsed, and its predecessor Noyo Sabdo Palon Genggong never murca or lost, he lived as a human being on earth this man. Lineage Sabdo Palon in 2500 last year protecting the land of Java, and southern parts of the earth (Man Yang) is as follows.: Semar, Humarmoyo, Manikmoyo, Ismoyo, Noyo Genggong, Sabdo Palon, Ki K, WAS, and in 2010 was .... ..???!
    Divination Sri Aji Joyoboyo eighth that Sabdo Palon will return to the archipelago, of course interpreted Sabdo Palon back later acting as advocates and advisers rather than the leader of the country or a kingdom.
    When the collapse of Majapahit in the era around 1478, before King Brawijaya who converted to Islam while changing direction Sabdo Palon survive as the commandment of the Jowo Sanyoto before murca (gone) Sabdo Palon promised, "Your Honor, we are destined to break up, but please remember your honor five hundred years from now I will return to earth marcapada archipelago to run the command of Him. "
    On time as promised Sabdo Palon then in 1978 (500 years since the collapse of Majapahit follows murcanya Sabdo Palon) an ordinary resident of Central Java there is a man is used by  wadag Sabdo Palon complete with his Jowo Sanyoto, the old man calling himself Ki K. In the early 1990s that figure had been old and it still has great energy plus hi intelligence power is still very strong. Whoever conjured the speech just to listen. Sabdo Palon this one took courses in the book of "sacred" Adam Makna (not Betaljemur Adam Makna). One is the translation of the contents of the book rather than alphabetic letters Java: ho no co ro ko do to so wo lo po dho jo yo nyo mo nggo bo tho ngo (which for the Sundanese very important, the highest in the world spirit of science and philosophy in the archipelago) . He died around the mid-1990s. Sabdo Palon wadag changed again, and this time in WS (65 annually) and right-hand man near Ki K itself. Attendance back through reincarnation Sabdo Palon with centuries on the human figure that choice by the will and power of Sang Hyang Wenang ing Jagad.
    WS died around 2006, (same time as the eruption of Mount Merapi), his actions during his life-like movements mysterious figure who was also mysteriously, he never tried to give advice to President Suharto. which at that time surrounded by the spiritual leaders of high level and difficult to be approached by anyone, supposedly the result is less satisfactory, and besides that he also tried to give advice or advice on a variety of military and civilian officials. He works never make a scene because every behavior is done without attracting attention. And of course he never announced his identity to anyone. His features casual, privileges his stamina is amazing especially when he spoke as if bewitched audience. And the courage to speak against any very extraordinary character.
    During the era of Majapahit in his will Sabdo Palon said, "Only the will of Sang Hyang Wenang ing Jagad an infinite determines human choice as the new wadag Sabdo Palon." Sabdo Palon displacement process to a new wadag different from the reincarnation of Tibet Buddhist priest. Sabdo Palon adolescent or adult enters the body which was destined to Sang Hyang Wenang ing Jagad died and the body was also His will live again as a reincarnation of the new Sabdo Palon with a new name. In the reincarnation of Tibetan clergy occurred since the mother's womb, until the baby is born into the world as the reincarnation of the A or the pastor B.
    According to Ki K, the Japanese era, Sabdo Palon before - which now dwells within him - helped along with Dai Nippon army invaded Java, Java to liberate the land from white people. However unfortunate Zero fighter plane in Singapore who rode Sabdo Palon shot by the enemy, the entire crew was killed, that's when Sabdo Palon spirit move from the body of someone who died in a plane (Japanese!). Sabdo Palon who was going to land allegedly Java landed alone at the foot of Mount Merapi. Ill-fated plane took off from one city in Japan.
    Nusantara triumph in Sri Aji Joyoboyo forecasts will occur when the re-emergence and Noyo Genggong Sabdo Palon. Sabdo Palon aka Ki K in 1980 saying, "Glory Nusantara more powerful than the Majapahit kingdom materialize if the world experienced such a large goro-goro devastating world wars or disasters large-scale nature, such as the fall of celestial bodies, the eruption of volcanoes, and others. “After goro-goro happens the world will return to normal. At that moment a new world political order would be formed and a far cry from the modern world map before. Post-goro-goro in the archipelago Ratu Adil will appear side by side Sabdo Palon determine the fate of the southern archipelago and the earth (Man Yang) in a single order of new government center," the original utterance Sabdo Palon in 1980.
    When is the big-bang and the emergence of Ratu Adil? Questions will be answered after the following answer to the question, "Who is now chosen by the Sang Hyang Wenang ing Jagad became a man chosen as the latest wadag Sabdo Palon than reincarnation?
    On him the source of answers.


___________
* Grave wadag Sabdo Palon one which "only" a lowly servant during the Majapahit kingdom in Trowulan Majapahit, tomb Troloyo, Mojokerto, East Java, Indonesia  (Majapahit site institutions, Trowulan).

 ****


Tulisan bersinggungan :
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:09 AM