Sep 28, 2019

Bahaya dari Utara

Bahaya dari Utara
mbah subowo
1479 Saka.
Pagi itu suasana damai, Bulan Suro menjelang usai. Arak-arakan protes aturan kerajaan mulai mereda, musim hujan hampir datang menjelang. Dan tak lama lagi Majapahit mulai mempersiapkan diri kembali menggempur separatis Wirabhumi Blambangan.  Di mana saja kawula turut menyaksikan berbagai pertunjukan dari Tiongkok: layangan, sulap, dan ilmu pengobatan. “Misi ekspedisi Ma San Pao ke seluruh dunia hanya mencari persahabatan sambil mengagungkan Tiongkok.” Demikian gaung yang disebarkan oleh San Pao ke setiap Bandar Majapahit.
    Begawan Ra Vadia yang tinggal di pinggiran Wilwatikta itu berkata dalam hati, “Akan tetapi mereka juga bekerja senyap, telik sandi mereka telah menyapu jaring-jaring telik sandi Majapahit mulai dari Campa hingga Bandar Palembang, dan dengan keahlian pengobatan Tiongkok mereka dengan mudah menarik simpati di Bandar-bandar yang mereka singgahi di seluruh dunia.”
    “Itulah sebabnya Sri Maharatu Dewi Ratna Suhita mengambil sikap dengan bercadang.”
    Sri Krtanegara Anumerta pernah mentah-mentah menolak tunduk pada Tiongkok. Selanjutnya pasukan Krtarajasa yang turun melawan balatentara Mongol, mereka datang dan mendarat di Gresik. Kini mereka datang lagi dengan wajah baru membawa bendera persahabatan dan membawa modal, harta benda tanpa batas…. Menghadapi yang sebagai itu pekerjaan lain lagi.
    “Mengapa Ayanda mencemaskan hal itu, bukankah modal besar itu membuat negeri Majapahit makmur….” Kali ini putri Anggia memperdengarkan suaranya yang jernih dan bening bagai air terjun dari Wilis.
    Dengan diplomasi modal mereka yang datang dari Utara adalah bahaya besar bagi Majapahit. Kekuatan modal akan menjadi pijakan dan sumber utama kekuatan dalam diplomasi penaklukan. Lihat saja Bandar-bandar Majapahit terang-terangan atau diam-diam menyatakan setia pada Tiongkok.
    “Nusantara, Majapahit tidak boleh tunduk dan menjadi cacing berada di kaki mereka, Ananda,” Begawan Ra Vadia mengulangi apa yang terlintas, ingatan masa lalu semasa Gajah Mada Anumerta masih memberi perintah segenap kekuatan Majapahit sepenuhnya.
     Waktu itu hanya Tiongkok dan Majapahit merupakan adidaya Utara dan Selatan Khatulistiwa.
    Sekian untuk sekali ini.
*****


Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 6:07 AM