Oct 31, 2011

Pramoedya Penerima Hadiah Budaya Fukuoka

Sambutan Pramoedya Ananta Toer dalam Acara
Penerimaan Hadiah Budaya Fukuoka

Yang terhormat Tuan Marakami Hiroshi,
Yang terhormat Komite Anugerah Budaya Asia Fukuoka, pimpinan dan seluruh stafnya,
Yang terhormat Walikota Fukuoka,
Yang terhormat seluruh hadirin.

 
Bagi saya penghargaan dalam bentuk anugerah Budaya Asia Fukuoka membuka babak baru dalam hubungan saya pribadi dengan Jepang. Saya tumbuh dari remaja menjadi pemuda dalam masa pendudukan Jepang di Indonesia, 1942-1945. Saya menjadi saksi bagaimana Jepang, bangsa perbuatan, mengajar bangsa Indonesia untuk berani melawan penjajahan Barat yang nampak takkan tergoyahkan sepanjang sejarah itu, dengan perbuatan. Dalam memimpin kemerdekaan dan membangun nasion, Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama, dalam Manifesto Politiknya mengajarkan untuk menggalang Trisakti.
 
Sakti pertama: berdaulat di bidang politik.
Sakti kedua: berdikari di bidang ekonomi.
Sakti ketiga: berpribadi di bidang budaya.

Dengan mudah orang dapat menduga dari mana sumber inspirasinya: Jepang.
     Untuk mewujudkan Trisakti,  Indonesia masih harus banyak belajar dari Jepang. Dan saya yakin, bangsa perbuatan ini akan juga berbuat sesuatu untuk itu sebagaimana Jepang selalu mengulurkan tangan pada Indonesia, misalnya dalam kerjasama di berbagai bidang atau pun dalam keadaan-keadaan mendesak lainnya seperti bencana alam.
      Sekarang saya berada di sini untuk menerima anugerah dari Jepang, dari Komite Anugerah Budaya Asia Fukuoka. Dalam hubungan dengan Trisaktinya Bung Karno, kejadian besar anugerah pada saya ini bukan suatu kebetulan karena Jepang adalah sumber insipirasi Trisakti dan anugerah ini adalah pembenaran pada sakti yang ketiga: berpribadi di bidang budaya.
     Terutama dalam hubungan dengan sakti ketiga ini, hubungan antar-bangsa melalui budaya menjadi penting. Memasuki ributahun ketiga jumlah penduduk dunia semakin banyak sedang ruang hidup semakin sempit sehingga setiap perbedaan dijadikan dalih pertentangan, bahkan genosida. Berpribadi di bidang budaya adalah pertama-tama berpribadi sebagai manusia dengan hak dan kewajibannya sebagai manusia, yang membuat hubungan antar-manusia dan antar-bangsa menjadi manusiawi.
Sekian, terimakasih.
Pramoedya Ananta Toer
Jakarta, 18 September  2000
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 4:34 PM

No comments :