May 18, 2011

Ramalan Ronggowarsito "Satrio Boyong Pambukaning Gapuro"

Ramalan Ronggowarsito "Satrio Boyong Pambukaning Gapuro"


Satrio Piningit keenam yang kelak memimpin Nusantara telah diramalkan pada abad kedelapan belas oleh Ronggowarsito sebutannya ialah Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, dan beliau itu sang pemimpin presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono atau dikenal SBY. Satrio Boyong maknanya ialah sang pemimpin itu mulai dari bawah berpindah jabatan demi jabatan naik ke atas hingga akhirnya meraih sukses di puncak sebagai pemimpin di Nusantara. Kejadian itu berlangsung pada 2004 dalam pemilihan presiden langsung yang pertama kali dilakukan oleh rakyat Indonesia, dan bagi mereka pilihan terbaik yang tersedia di antara pilihan buruk yang ada, ya, SBY yang tatkala itu didampingi calon wakil presiden, JK atau Jusuf Kalla. Tokoh pendamping sang satrio boyong ini adalah seorang ketua umum partai besar yang di masa lalu memenangkan pemilihan umum enam kali berturut-turut dengan suara mayoritas. 

     Karier SBY yang lulusan Akabri tahun tujuhpuluhan selanjutnya meniti karier dalam militer dengan sangat mulus hingga akhirnya menjadi Kepala Asisten Teritorial, semasa Soeharto berkuasa, dan berlanjut terus pada masa pemerintahan BJ Habibie. 
      Selanjutnya karier sang satrio boyong ini di masa pemerintahan Gus Dur, tidak lagi memegang jabatan militer akan tetapi menduduki jabatan seorang Menteri dalam kabinet. Demikian seterusnya kedudukan SBY masih stabil pada era pengganti Gus Dur yang cuma setahun dan dilanjutkan oleh pemerintahan Megawati Soekarnoputri mantan wakil presiden Gus Dur. Jabatan Megawati pun akhirnya usai pada 2004, dan terjadilah sistem baru dalam pemilihan presiden langsung oleh rakyat untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia. Mega dan SBY yang maju mencalonkan diri bertarung sengit, namun akhirnya yang keluar sebagai pemenang pasangan SBY--JK.  
        Sebagai Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, SBY yang sukses terpilih untuk kedua kalinya, sejak 100 hari memerintah terus mengalami masa sulit: bencana alam datang silih berganti, media massa yang didukung asing bersuara sumbang, dan terutama sekali yakni sejak ditinggalkan JK yang sekaligus membawa gerbongnya partai besar masa lalu menjadi oposan dalam koalisi. Kini dengan wakilnya yang baru SBY masih memiliki satu tugas lagi yakni membuka gerbang masa depan sekaligus menutup masa silam. Soviet yang ambruk karena faximile; Soeharto jatuh karena @mail-internet; akankah SBY mengalami yang sama karena jejaring sosial, sms dan variannya? Tentu diharapkan  oleh rakyat pemilihnya beliau akan menutup masa silam yakni menyelesaikan masa jabatannya secara baik dan penuh waktu. Sebagai pembuka gerbang masa depan maka ia berwenang penuh membuka gerbang dan peluang kesempatan kepada siapa saja yang mampu untuk tampil ke depan sebagai pemimpin terbaik bagi Republik Indonesia sesuai jamannya. Maka segala macam gangguan dan rintangan semasa SBY memerintah, dan juga segala macam tuduhan fiksi atau fakta baik dan buruk yang telah atau sedang terjadi dialamatkan kepada pemerintah SBY adalah suatu rekayasa yang dilakukan oleh mereka yang menganggap dirinya atau kelompoknya adalah lebih baik daripada SBY. Terlepas dari benar tidaknya kasus besar dan kecil yang telah, atau sedang terjadi tentu tidak boleh dibebankan semua kepada SBY. Sebagai pemimpin RI, sekali lagi SBY adalah pilihan satu-satunya yang terbaik yang tersedia di antara yang buruk. Artinya semua person dan kelompok yang ada minus SBY bukanlah yang terbaik bagi rakyat dan bangsa Indonesia.
      SBY dan pemerintahannya telah secara baik menjaga gerbang kebebasan pers, kebebasan berpolitik baik di dalam maupun di luar dewan perwakilan rakyat. Sementara itu contoh kecil dalam persoalan ekonomi, daya beli sebagian masyarakat terutama pegawai pemerintah dan swasta yang meningkat telah menjadi penyebab harga barang kebutuhan sehari-hari melambung tinggi. Di era Soeharto hal demikian tidak terjadi, karena pegawai pemerintah sipil dan militer tingkat kesejahteraan mereka tidak sebaik era SBY, yang sejahtera justru keluarga Soeharto sendiri dan para kroninya, sedangkan pegawai swasta sama saja tetap makmur. Dalam kondisi begini tentu saja bagi rakyat yang berpenghasilan setengah tetap dan tidak tetap melambungnya harga justru telah membikin daya beli mereka terhadap kebutuhan pokok menjadi menurun bahkan hingga tak terjangkau lagi. Siapa yang disalahkan? Kebijakan pemerintah SBY atau mereka yang bergelimang harta menjadi trilyader karena telah mendulang emas alias korup di era Orde Baru? Sementara di sisi lain rakyat miskin papa juga telah ada sejak masa Orde Baru, demikian juga pengangguran merupakan anak-cucu dari para pengangguran yang hidup di masa orde yang sama.
      Jika dirasa perlu disebutkan kekurangan daripada pemerintahan SBY ialah Republik ini terlalu lambat jalannya dalam menegakkan panji Trisakti Bung Karno, mandiri dalam ekonomi, mandiri dalam politik dan berkepribadian dalam kebudayaan. Dan jalannya revolusi kita (Jarek) istilah Bung Karno semakin berat tersendat saja karena begitu banyak rintangan terjadi semasa kabinet Indonesia Bersatu jilid dua berupa bencana alam, teror atau pejuang, maupun pertarungan di dalam negeri antara partai politik maupun antar kelompok dan golongan dan bahkan antar agama. Dan ancaman paling serius pun terhadap ideologi negara Pancasila maupun lambang negara yang menggenggam Bhinneka Tunggal Ika seharusnya dicari obat penangkalnya dari sang Pencetusnya sendiri, Bung Karno, yang telah meninggalkan warisan berharga berupa kitab-kitab Ajaran Bung Karno. Dan persoalan yang paling peka dan tentu banyak penentangnya serta sulit diterima dalam kondisi sekarang yang terdapat dalam ajaran Bung Karno ialah mengenai persoalan marxisme, komunisme, yang menurut penggalinya sendiri nilainya juga dikandung dalam ideologi Pancasila itu sendiri.

****
related post

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 9:26 PM

No comments: