Sabdo Palon, "Hancurnya negeri agraris Nusantara."



Sabdo Palon, "Hancurnya negeri agraris Nusantara."


mbah subowo bin sukaris


Seiring waktu berjalan pertumbuhan penduduk pulau Jawa yang tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang tersedia, ditambah rusaknya lingkungan hidup sudah dititahkan oleh Sabdo Palon pada menjelang abad kelimabelas sebagai berikut, "Tanah Jawa rusak akibat ulah manusia yang membahayakan lingkungan hidup. Akibatnya kerja mandiri mengolah tanah tidak lagi mencukupi hasilnya untuk hidup. Para priyayi bertanah luas merasa sedih juga.. Pedagang hasil bumi seringkali menderita kerugian. Pekerjaan buruh dan tukang tidak lagi dapat diandalkan untuk hidup. Petani tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Semuanya itu terjadi akibat musnahnya hutan sumber penghidupan."

Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.

Bagi kaum Tani nyawa kehidupan mereka berada di tanah yang tidak seberapa dapat mereka miliki secara turun-temurun maupun hasil keringat sendiri. Tanah ladang, tegalan, dan sawah menjadi tumpuan hidup dan pekerjaan utama sehari-hari, mereka mengolah dan menanaminya berbagai macam tumbuhan buah dan bahan makanan. Di masa silam kehidupan rakyat di Jawa sehari-hari cukup makmur dengan penghidupan seperti itu.
      Akan tetapi di masa modern ini pola kehidupan agraris tersebut di atas tidak lagi dimungkinkan karena tingkat kesuburan tanah sudah jauh berbeda karena lingkungan hidup rusak parah akibat maraknya pembabatan hutan besar-besaran yang merusak mata air, maupun penyempitan lahan untuk pembangunan sarana perumahan. Ditambah lagi pencemaran udara dari mesin-mesin kendaraan berbahan bakar fosil.
      Jawa dan Nusantara selama berabad yang silam merupakan negeri agraris dan sampai jaman modern ini belum berubah menjadi negeri industri modern kecuali dalam menambang kekayaan alam berupa emas, minyak bumi, tembaga uranium, timah dan lain-lainnya. Itupun dilakukan oleh maskapai asing seperti Freeport, Newmont, Caltex, Chrysler, Shell dan seterusnya di samping itu juga dikelolah oleh BUMN. Konon menurut hasil survei asing yang diam-diam dan mereka rahasiakan di Borneo memang terdapat harta karun melimpah berupa bahan tambang yang belum dieksplorasi antara lain emas, uranium, intan, minyak bumi, dan lain-lainnya. Sehingga wacana untuk memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Kalimantan yang dicetuskan oleh Bung Karno bukan tanpa alasan yang masuk akal. Bangsa Indonesia dapat mengeksplorasi sendiri secara berdikari dan mandiri dalam menggali harta karun Kalimantan tersebut  untuk membikin rakyat Nusantara hidup "gemah ripah loh jinawi". Dan tidak sekalipun menyerahkan pengelolaan harta karun Kalimantan kepada pihak asing.
      Syarat sebagai negeri agraris yang makmur sebenarnya sudah mencukupi karena Nusantara berada di sabuk Khatulistiwa yang subur dan cuma mengenal musim hujan dan kemarau. Segala tumbuhan tropis dapat hidup dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bagi penduduknya. Lingkungan hidup yang masih baik itu terjadi di masa silam dan telah musnah di masa modern ini. 

*****
artikel bersinggungan
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:05 PM