Aug 8, 2010

Pramoedya Ananta Toer Di Tepi Kali Bekasi

Pramoedya Ananta Toer

Di Tepi Kali Bekasi

by Subowo bin Sukaris

Proklamasi Agustus 1945 sudah mengumandang ke pelosok Nusantara. Kerajaan Belanda untuk selamanya tidak pernah mau mengakui kemerdekaan RI pada 1945. Aparat Belanda Nica dan Tentara Belanda KNIL kembali masuk pelabuhan utama waktu itu, Tanjung Priuk dan Tanjung Perak juga pelabuhan besar di luar Jawa untuk melanjutkan ambisinya menguasai kembali Hindia Belanda yang ditinggalkan oleh Balatentara Jepang yang kalah perang.
    Pasukan Republik yang juga baru terbentuk harus bergegas menyiapkan pertempuran menghadang Sekutu pemenang Perang Dunia kedua. Belanda berusaha membonceng pasukan Inggris mulai menyiapkan serangan militer pada Republik muda itu.
     Pasukan Republik terkonsentrasi di pinggiran Jakarta basisnya berada di Cikampek membawahi daerah Bekasi, Kranji,dan Kerawang. Stasiun kereta api sepanjang seratus kilometer sejak Jatinegera membentang hingga Cikampek adalah medan penting yang dipertahankan Republik. Jalur transportasi tetap dihidupkan oleh Belanda dan Republik karena membawa perbekalan memasuki Jakarta: Sembako dan manusia. Blokade Belanda terhadap pintu masuk Jakarta berlaku bagi anggota tentara Republik dan para penjahat.
    Pasukan Republik yang resmi dan lasykar rakyat yakni Pesindo dan Hizbullah bahu-membahu menahan Belanda meluaskan teritorinya ke luar kota Jakarta.
    Sarana transpor kereta api bermesin diesel itu membawa macam-macam manusia dan di antara mereka ada pahlawan dan pengkhianat bagi pasukan Republik yang dibayar oleh Belanda maupun Inggris untuk memata-matai kedudukan dan kekuatan pasukan Republik yang biasanya menempatkan pos komando di stasiun Cikampek.
    Perlengkapan militer seorang prajurit atau komandan belum terstandarisasi juga persenjataan mereka tergantung apa yang mereka dapat merebutnya dari Belanda. Seorang mendaftarkan diri menjadi prajurit dengan membawa senapan lebih tinggi pangkatnya daripada pendaftar bertangan kosong.
    Akomodasi bagi prajurit sekadar tempat bernaung untuk tidur dan mandi ditambah jatah makanan minim. Perkara gaji jangan diharapkan, karena itu anggota militer Republik mengandalkan sumbangan rakyat secara sukarela tatkala maju ke medan pertempuran.
    Operasi militer yang berangkat dari Stasiun menumpang kereta api yang pro pasukan republik berarti berangkat mati sebagai pahlawan. Bila mujur misalnya pasukan Belanda cuma sedikit atau dapat bertahan dari persenjataan musuh yang kuat dapatlah pulang dengan senang sekaligus sedih karena teman-teman yang gugur lebih banyak daripada yang selamat.
    Prajurit Republik yang tertawan Belanda dan berusaha melawan biasanya dihabisi dan mayatnya dilemparkan ke tepi Kali Bekasi terdekat daerah pertempuran. Penduduk di tepi kali Bekasi yang menemukan anggota pasukan Republik akan mengait mayat-mayat tersebut untuk langsung dikuburkan beramai-ramai di daratan sekitarnya.
    Dan bagi prajurit Republik yang gugur dan jenazahnya dapat dibawa ke pangkalan maka pemakamannya mendapatkan penghormatan militer penuh.
    Pramoedya Ananta Toer dengan beberapa bukunya antara lain "Di Tepi Kali Bekasi" begitu gamblang menggambarkan keikutsertaan dirinya dalam Perang Kemerdekaan. 
    Perang rakyat semesta mempertahankan kemerdekaan itu benar-benar mendapat sokongan moril dan materil dari seluruh rakyat Indonesia itu maka sudah sepantasnya beliau juga berhak menyandang gelar Pahlawan Nasional.Bagi Pram pribadi tak pernah ia menuntut untuk diakui apalagi berusaha mendapatkan medali pejuang. Semasa hidupnya pemerintah Orde Baru bahkan melarang semua karyanya yang ditulis semasa berada di pembuangan.  Demikianlah Republik yang pernah ikut diperjuangkannya malah berbalik menjadikan dirinya seorang pesakitan malah membuangnya jauh hingga ke kamp tawanan Pulau Buru. Semua itu tanpa melalui peradilan yang lazim. Dan tuduhan yang dilayangkan ke muka Pramoedya Ananta Toer adalah terlibat Gerakan September 65 ditambah tuduhan bersekutu dengan Partai Komunis Indonesia.





Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 11:51 AM

No comments :