May 21, 2011

Ramalan Ronggowarsito "Satrio Piningit Hamong Tuwuh"

Ramalan Ronggowarsito "Satrio Piningit Hamong Tuwuh"


Pemimpin Republik Nusantara kelima "Satrio Piningit Hamong Tuwuh" sebagaimana yang diramalkan oleh pujangga Jawa R. Ng. Ronggowarsito yang hidup pada awal abad kedelapan belas yakni seorang pemimpin yang memiliki kharisma dari keturunannya ialah Presiden kelima RI Hajjah Megawati Soekarnoputri (2001-2004). Dengan sendirinya di antara tujuh satrio piningit yang memimpin Nusantara, dua di antaranya terdiri dari bapak dan anak. Sang Bapak ialah Bung Karno seorang Satrio Piningit pertama "Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro". Perjalanan panjang jejak luar biasa Megawati terjadi pada 27 Juli 1996. Soeharto yang tidak rela kekuatan sosial-politiknya berkurang sedikitpun berusaha memberangus sebuah Partai berlambang hewan itu dengan taktik membikin partai kembar tandingan. Dan partai tandingan yang didukung Orde Baru itulah yang diakui oleh rejim Soeharto dan juga tidak mengakui partai yang sangat jelas memang aslinya. Maka simpati rakyat bukan bertambah surut terhadap partai berbasis nasionalis itu melainkan terus melambung hingga akhirnya Megawati benar-benar menduduki kursi kekuasaan nomor satu di Republik Indonesia.
     Partai berlambang hewan ini memang didukung oleh rakyat kecil, atau wong cilik terutama di pulau Jawa. Bahkan pada pemilihan umum paska Soeharto lengser, di mana-mana di tepi jalan mulai Anyer hingga Banyuwangi didirikan posko Partai Mega. Semua itu mencerminkan betapa rakyat menginginkan perubahan baru menggantikan daripada kekuasaan Orde Baru Soeharto. Pada waktu itu para pakar politik sudah meramalkan, "Megawati tidur pun ia akan menjadi Presiden...!"
     Pada kenyataannya yang marak ke kursi nomor satu ialah Gus Dur, sedangkan Mega menjadi wakil presiden. Akan tetapi sejarah kemudian berubah dan berkehendak lain. Mega naik jabatan menggantikan Gus Dur yang dilengserkan secara paksa oleh anggota dewan perwakilan rakyat yang terhormat, yang sebelumnya disebut oleh Gus Dur tiap kali mengomentari ulah anggota dewan tersebut, "DPR itu kayak anak TK aja!"
     Konon sebelum Mega menduduki kursi nomor satu di Republik ini ia bertemu dengan seorang wakil dari negara adidaya di salah negara jiran terdekat  dan menyatakan kesediaan tidak akan merehabilitasi nama Presiden Soekarno jika kelak ia menjadi presiden RI. Tentu jika syarat tersebut dipenuhi akan ada jaminan pemerintahan Mega mendapat dukungan penuh dari negara adidaya. “Kalau Mega tidak mau (merehabilitasi Presiden Soekarno -ed), biarlah rakyat pilih Pre­siden yang mampu dan bera­ni merealisir seruan saya ini,”  uneg-uneg terakhir anak angkat Bung Karno, pejuang AMH pada 29 Februari 2004 dua hari sebelum wafat.
      Pada 2001 Departemen Luar Negeri Amerika Serikat merilis dokumen rahasia yang adalah hasil kerja CIA selama tahun 1964-1966, sebagaimana tradisi yang berlaku di sana maka sebuah dokumen akan disimpan selama duapuluh lima tahun sejak peristiwa terjadi dan selanjutnya akan diterbitkan untuk konsumsi publik. Anehnya dokumen resmi melalui situs resmi pemerintah Amerika Serikat yang sebentar beredar di dunia maya itu kemudian ditarik kembali. Demikian pula cetakannya yang resmi dan beredar ditarik kembali. Rupanya Amerika Serikat tidak ingin terjadi ada gangguan hubungan bilateral antara Indonesia dan AS, dengan mempublikasikan dokumen penggulingan Soekarno itu di masa anak Soekarno, Megawati, tengah menduduki kursi kepresidenan.
     Walhasil Dokumen itu beberapa bulan kemudian dapat beredar di Indonesia dan dalam versi Bahasa Indonesia. Sesuai janjinya Megawati selama masa pemerintahannya memang disiplin tidak pernah sekalipun menyebut rehabilitasi Soekarno yang ditetapkan oleh Orde Baru dalam Tap MPRS 1967. Konon Megawati memang anak biologis Soekarno akan tetapi Megawati bukan anak ideologis Soekarno. Anak ideologis Soekarno sejati memang terdapat pada salah satu anak Bung Karno yang lain, beliau memiliki beberapa anak dari istri yang berbeda. Anak ideologis Bung Karno tersebar di dalam negeri dan di luar negeri tak terhitung jumlahnya. Para Sukarnois itu lebih membela Soekarno dengan cara mereka masing-masing. Mereka yang berjuang menegakkan Soekarnoism itulah anak ideologis Soekarno. Dari luar negeri mereka, para Soekarnois itu tidak henti-hentinya menggempur Orde Baru dan sasaran tembak utamanya ialah Soeharto. Soeharto lah yang membikin mereka yang di luar negeri menjadi Stateless, kehilangan kewarganegaraan Indonesia, karena tidak mau mendukung Orde Baru, dan tetap setia pada Bung Karno yang mengirim mereka ke luar negeri untuk sekolah, menjadi dubes, menjadi organisator kelas dunia, atau yang sekadar studi banding. Kaum muda Indonesia yang berbakat banyak yang dikirim oleh partai atau pemerintah ke Uni Sovyet belajar gratisan hingga gelar sarjana penuh.
     Sejak lengsernya Soeharto, Megawati juga mengadakan acara semacam Open house, dan siapapun boleh datang ke rumahnya di jalan Kebagusan, jika beruntung akan melihat langsung sang Pemimpin "wong cilik", sembari menikmati segelas minuman dingin yang disuguhkan.
      Satrio Piningit Hamong Tuwuh itu memang memiliki kharisma yang diturunkan Bung Karno, baik secara langsung maupun tidak langsung. Rakyat kecil mendukungnya karena ia anak biologis Soekarno, bukan karena hal lain. Jauh di masa sebelum naik ke tangga puncak kekuasaan konon para Soekarnois khawatir dengan kedudukan mutlak Megawati sebagai tokoh yang identik dengan kekuatan utama partai berlambang hewan tak juga mempersiapkan calon penggantinya, bagaimana seandainya ia mendadak terjadi sesuatu, kekhawatiran Soekarnois itu memang beralasan, mereka mengatakan, "Megawati itu merasa bisa hidup seribu tahun lagi....!"
     Situasinya berubah sejak Mega benar-benar menjadi presiden, ia pun kini telah menyiapkan putri mahkotanya.
     Berbeda dengan pengganti Mega yakni Susilo Bambang Yudhoyono, dalam berbagai kesempatan sesekali masih menyebut Bung Karno dan ajarannya terutama mengenai Trisakti Bung Karno. Bagi SBY ajaran Bung Karno bukan telah menjadi fosil yang ketinggalan jaman. Justru ajaran Bung Karno itu akan tetap aktual sepanjang jaman selama Republik ini masih tetap berdiri tegak. Semua pemikiran Bung Karno sebenarnya sempurna, akan tetapi beberapa atau kebanyakan Soekarnois mengatakan demikian, "Ajaran Bung Karno mengenai Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) ... sangat luarbiasa ... sayang sekali, ya, kok ada Kom-nya...."
    Konon untuk menilai bobot seorang politikus di Nusantara dalam kwalitas atau ukuran lainnya itu dengan "menyelidiki": "Bagaimana pandangan politik orang yang bersangkutan dalam menilai Bung Karno," dan selanjutnya ia dapat dimasukkan ke dalam salah satu di antara Nas, A, atau Kom.
     Sebagai batu ganjalan bagi Megawati untuk menduduki kursi kepresidenan datang dari kaum agama dengan dalih, "Seorang perempuan tidak boleh menjadi khalifah atau pemimpin negeri dan memimpin kaum laki-laki dan kaum perempuan, jika salah seorang laki-laki dari kaum itu masih sanggup maju sebagai pimpinan."
      Dan ganjalan lainnya ialah Megawati yang pernah menjadi presiden itu tidak mungkin pada suatu hari di masa depan mau menjadi seorang wakil presiden. Kharisma Bung Karno yang terpancar pada Satrio Piningit Hamong Tuwuh ini memang benar-benar seorang figur yang dapat mempersatukan partainya yang diharapkan dapat mengubah nasib orang kecil yang selama ini tidak dapat ikut serta menikmati madunya sebuah negara.

****
related post
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 5:44 PM

No comments :