Apr 28, 2016

Jaman Edan dan Blusukan Jokowi

 Jaman Edan dan Blusukan Jokowi

mbah subowo bin sukaris

Jaman edan menurut definisi "Ramalan" Joyoboyo suatu masa depan atau di jaman tatkala perilaku dalam praktek kehidupan manusia berubah serba terbalik. Sedangkan definisi Jaman Edan menurut R. Ng. Ronggowarsito adalah kelak di masa depan terjadi jaman dan kala itu suasana hati, jiwa, dan hasrat manusia telah berubah serba terbalik alias berhati “jahat”.
      Pramoedya Ananta Toer sang sastrawan antiJavanis setidaknya menamai era tersebut di atas sebagai “jaman modern”.
      Walhasil Surabaya—Jakarta dapat ditempuh tidak lagi hanya seharmal akan tetapi cukup 10 jam.
      Sebagai contoh “jaman edan” menurut Joyoboyo: konon sejak jaman purba hingga abad kesembilan belas (1800-an) kaum pria menyetir gerobak sapi maupun kereta kuda yang selanjutnya berevolusi menjadi kendaraan mobil bermesin, sedangkan wanitanya selama berabad berposisi penumpang.
      Kini (2016), sudah lumrah mayoritas di jalan-jalan justru kaum hawa berada di balik kemudi kendaraan roda empat. Sementara kaum prianya dan juga sebagian wanitanya lebih memilih roda dua yang gesit.
      Sebagai contoh jaman edan menurut Ronggowarsito, manusia biasa dan juga yang jadi petinggi kini berubah jahat : korup, narkoba, dan berbagai tindak kejahatan lainnya walau demikian masih ada juga sebagian manusia yang tetap baik, itulah yang paling beruntung di jaman ini.
      Bung Pramoedya menamai dominasi kaum hawa di jalan raya itu sebagai emansipasi kaum hawa.
      Berkat kemajuan teknologi microchip, micropocessor, elektro, robotika, dan mesin jet di Jaman edan kini sedang gencarnya memasuki fase jaman ruang angkasa perjalanan kendaraan antarplanet, antargalaksi. Berbagai negeri berlomba bersama mengembangkan teknologi canggih agar bisa mengarungi angkasa luar menuju planet dan bulan di tatasurya. Dunia baru “angkasa luar”  patut dieksplorasi  oleh  negeri yang berlimpahan daya, dana serta teknologi, mereka  memang ingin menaklukkan angkasa sebagai pencapaian tiada akhir.
      Betapa tidak, angkasa luar memiliki jutaan-milyaran galaksi dan seisinya: nebula, "blackhole", bintang (matahari), planet, bulan dan lainya -- memang tidak bertepi batas, di segenap jagad raya posisi planet bumi yang sepanjang sejarah sejengkal demi sejengkal diperebutkan oleh negeri-negeri kolonial ini cuma bagaikan “debu” di jagad raya.
      Dalam dunia militer Jaman edan memasuki fase alutista militer tertinggi dengan diciptakannya beragam alutista (alat utama sistem senjata) militer mulai senjata laser di ruang angkasa, hingga peluru kendali nuklir; mulai dari kapal induk hingga kapal selam siluman; mulai dari robot tempur hingga jet tempur kecepatan subsonic -- dan juga kendaraan darat maupun air, dan lain sebagainya.
      Peperangan serba canggih di jaman edan ini terus-menerus tiada akhir terjadi sejak ditemukannya ladang minyak bumi di berbagai negeri di TimTeng, mulai dari negeri Afgan membentang hingga Afrika Utara. Semua saja negeri itu mayoritas penduduknya adalah muslim, mereka berperang memperebutkan pengaruh serta ideologinya masing-masing, yang sebenarnya sumbernya cuma satu saja, ajaran Muhammad s.a.w.
      Di jaman edan ini faham komunisme juga sudah dimodifikasi sesuai kebutuhannya sebagaimana yang eksis di Tiongkok. Demi menguasal ladang gas dan minyak bumi yang itu juga Tiongkok tidak malu-malu berubah atau mengubah diri jadi imperialis di LCS (Laut Cina Selatan) .
      Di jaman edan ini pula Korea Utara yang komunis terus-terusan main-main dengan roket peluru kendali demi tujuan untuk menakuti tetangganya: Korea Selatan dan Jepang yang selalu dikendalikan dari belakang oleh Amerika Serikat.
      ISIS yang berfaham Khawarij itu nekad unjuk gigi di Suriah—Irak menggalang berbagai sektor kekuatan yang telah dimilikinya. Apa yang terjadi selanjutnya? Seluruh dunia tiada satu negeri pun terang-terangan yang mendukung ISIS. Walau demikian ISIS tiada peduli dukungan dari siapapun barangkali juga tiada butuh apalagi belagak peduli.
      Juga di jaman edan ini NKRI telah dua kali berlangsungnya pilpres secara langsung oleh rakyat. Dan pada pilpres kedua terpilih seorang tokoh memiliki nama Jawa yang kenthal “Joko Widodo”, yang dicintai media karena hobinya waktu jadi petinggi suka blusukan terutama ke pasar tradisional (blusukan—(bhs. Jawa): memasuki tempat-tempat yang berada di pojok-pojok tersembunyi, tempat yang tidak menarik perhatian bagi petinggi lain).
      Lawan-lawan politik Jokowi kini semua saja terdiam sejuta basa, tak mampu berkata-kata – seperti dulu lagi -- penuh remehan dan ejekan. Tepat sebagaimana digambarkan dalam salah satu “quotes” Pramoedya: barang siapa yang berubah posisi dari aktivis menjadi aparat maka ia tiada lagi berani bersuara nyaring untuk maju membela bangsanya (seperti waktu jadi aktivis). Dan itu terjadi lantas apa sebabnya?
      “Mereka yang demikian perilakunya itu karena takut perutnya....  kelaparan, ” sambung Bung Pramoedya....

******

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 8:05 PM