May 20, 2016

Ramalan Sri Sultan Agung raja Mataram

Ramalan Sri Sultan Agung raja Mataram

mbah subowo bin sukaris

Sri Sultan Agung (bertakhta di Mataram 1613-1645) pernah meluruk Batavia dengan pasukan darat sebesar 200 ribu jiwa. Jejak-jejak pasukan darat Sultan Agung masih ada di wilayah Kerawang yang hingga Klender-Bekasi, yang masa itu dijadikan wilayah lumbung padi penyokong logistik bagi pasukan Mataram.
     Setahun berikutnya dalam serangan kedua Sri Sultan Agung meluruk Batavia melalui jalur laut (1629).
     Kekalahan Mataram disebabkan kelemahan di sektor maritim, angkatan laut. Belanda jelas unggul di laut, bangsa yang datang dari Eropa dan telah muncul dari balik Wulungga (Afrika) itu jelas telah memiliki kekuatan unggul dalam hal kapal dan senjata. Angkatan Laut Majapahit sendiri walau pernah beranjang sana hingga Madagaskar, akan tetapi tidak pernah melewati Tanjung Harapan di selatan Benua Afrika.
     Orang-orang Majapahit menganggap mustahil melewati Selatan Wulungga di balik bumi, karena di sana tentu jurang yang sangat dalam telah menanti untuk menelan siapa saja yang melewatinya. Bangsa Belanda justru datang dari balik Bumi ujung Wulungga. Mereka memang unggul.
     Dan kekuatan maritim yang dimiliki selain kerajaan Majapahit tidak pernah ada lagi.
     Dengan menguasai laut Jawa dan Nusantara Belanda lebih cerdik lagi untuk mengetahui perkembangan pasukan darat Mataram yang datang menyerbu. Bagaimana kekuatan mereka dan kapan mereka akan menyerang. Benteng Batavia yang dipertahankan oleh ratusan prajurit itu memang mampu menahan gempuran pasukan Jawa.
     Bahkan pasukan Jawa itu ditambah lagi dengan pasukan Sunda yang membantu kekuatan Mataram muncul dari selatan Batavia.
     Kelemahan karena tidak memiliki kekuatan di laut, jelas kerajaan Mataram Sultan Agung tertinggal limaratus tahun dari kerajaan Kediri yang memiliki angkatan laut hingga mampu menaklukan Jambi hingga Tidore pada abad keduabelas masehi (1100-an).
     Sultan Agung walau tidak sukses mengenyahkan Belanda (VOC) dari Batavia masih memiliki asa dengan menujumkan:

Kelak di masa depan akan muncullah seorang raja Waliyullah bergelar Sang Prabu Herucakra bertakhta di kerajaan Sundarowang (Mataram) yang wilayah kekuasaannya meliputi Jawa-Madura, Patani (Semenanjung Melayu), dan Sriwijaya (Sumatera).

Tempo hari di masa perjuangan mempertahankan proklamasi kemerdekaan 1945, upaya terakhir Van der Plas mengangkat dirinya sebagai sang Prabu Herucakra.
     Sayang sekali jelas dia bukan muslim dan itu artinya dia bukan Waliyullah, maka wajar saja mengalami kegagalan mempertahankan kolonialisme Belanda di Nusantara.
     Republik Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan, dan terwujudlah kebenaran ramalan Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo di atas.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 2:34 PM