Showing posts with label presiden ri. Show all posts
Showing posts with label presiden ri. Show all posts

Andai Ahok melawan Anies pada pilpres 2024

Andai Ahok melawan Anies pada pilpres 2024

mbah subowo

Terlepas dari status Ahok, yang pernah dibui sekian tahun, masalah parpol yang bersedia mengusungnya, ataupun kendala peraturan lainnya, mengenang masa lalu pada 2017, pertarungan Ahok vs Anies kala itu cukup "seru & menegangkan". Lantas agar terulang "serunya" andai Ahok dicalonkan sebagai RI 1 melawan Anies seperti pada pilgub DKI 2017 bagaimana hasilnya? 

    Menurut mbah secara pribadi, Anies vs Ahok seimbang, dengan asumsi, dengan anggapan tidak ada calon ketiga, keempat dan seterusnya.

    Mari kita tunggu pendaftaran capres dilakukan secara resmi oleh para parpol, siapa saja yang kelak lolos sebagai capres dan memenangkan pilpres tentu dengan sendirinya akan dijawab oleh sang waktu.

    Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 11:34 AM

Ramalan Capres-cawapres PDIP 2024?

 Ramalan Capres-cawapres PDIP 2024?

mbah subowo

Karena tanpa koalisi dengan partai lain PDIP sudah memenuhi ambang batas perolehan suara sebagai syarat mengusung capres sendiri (Presidential threshold) pada pilpres 2024. Maka parpol lain yang mau berkoalisi hanya akan menjadi pelengkap peserta belaka.

     Menurut pendapat mbah pribadi maka pasangan Ganjar-Puan bisa menjadi pilihan terbaik bagi PDIP kali ini. Bukankah nama yang berkibar dan dikenal saat ini cuma Ganjar? Dan melengkapi Ganjar, jika Puan didapuk sebagai cawapres maka trah Sukarno tetap eksis pada pilpres 2024.

     Boleh juga nama lain selain Ganjar, tetapi Puan tetap harus diusung minimal sebagai cawapres. Bagaimana pendapat anda?

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 10:42 AM

Siapakah Lawan Terberat Anies?

 Siapakah Lawan Terberat Anies?

mbah subowo

Hampir dipastikan terdapat empat kontestan pasangan capres-cawapres yang meramaikan pilpres 2024. Anies, Prabowo, Airlangga, dan satu lagi belum keluar nama dari PDIP.

    Semua ketiga kontestan: Prabowo, Airlangga, dan X adalah lawan-lawan yang harus dihadapi Anies. Capres yang diusung Koalisi Perubahan itu lumayan memiliki pendukung yang solid kecuali satu partai masih bersifat maju mundur atau berpindah-pindah dukungan mereka. 

    Cuma partai-partai besar yang agak solid mendukung pasangan capres-cawapres masing-masing. Gerindra, Partai Golkar, dan PDIP tentu pendukungnya solid berdasarkan calon yang diusung partai masing-masing. Sedangkan partai kecil/sedikit perolehan suara pada 2019 bisa berpindah dukungan dan boleh jadi mendukung Anies.

    Anies dapat  menarik dukungan partai lainnya dengan catatan Partai Besar pada putaran pertama suara pemilihnya tidak tidak saling bersinggungan. Hanya pada putaran kedua tergantung pada arah partai besar yang tersingkir pada putaran pertama akan menjatuhkan pilihan pada calon yang tersisa. 

    Lawan terberat Anies untuk sementara berasal dari Prabowo, dan jika Prabowo lolos pada putaran pertama dan PDIP maupun Golkar tidak lolos bisa dipastikan PDIP akan mendukung Prabowo, sedangkan Golkar akan bersikap netral.

    Sekian untuk sekali ini. 

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 10:27 AM

Selamat Datang IKN "Nusantara"

Selamat Datang IKN "Nusantara"

mbah Subowo

William Shakespeare berkata, "Apalah arti sebuah nama?" 

    Nusantara dimaknai kepulauan di antara dua benua: Asia dan Australia; Nusantara juga dimaknai kepulauan di luar (selain) Pulau Jawa dan Bali. Bung Karno ingin memindahkan IKN ke tengah Kalimantan, mengapa? Bung Karno ingin menghadapi dari dekat musuh secara langsung yakni British Malaysia. Tidak seperti Mataram Kuno yang memindahkan pusat pemerintahannya ke gunung untuk menghindari musuh, sebaliknya kerajaan Majapahit membangun pusat pemerintahan di aliran Sungai Brantas tidak jauh dari pelabuhan Gresik maupun Hujung Galuh.

    Kembali pada judul di atas. Jokowi tidak memilih Palangkaraya yang berada di sekitaran Khatulistiwa, akan tetapi pilihannya tidak jauh dari garis pantai Timur Pulau Borneo. Borneo yang mirip bentuknya dengan tokoh punakawan Semar, tepat posisi IKN Nusantara di titik akupunkur antara hidung dan mulut, yakni titik sumber tenaga pernapasan. Pilihan Jokowi boleh jadi yang juga dilatarbelakangi wilayah Kutai sebagai kerajaan tertua di Nusantara sekitar abad 4 Masehi. Tentu saja pertimbangan efisiensi biaya dengan adanya infrastruktur wilayah antara kota: Balikpapan, Samarinda, dan Banjarmasin.

     Pulau Jawa sejak dulu selalu menjadi tujuan pendatang bangsa asing, mengapa Pulau Jawa menjadi padat penduduk dan menjadi pusat budaya masa silam? Apakah karena tanahnya subur, dengan banyaknya gunung berapi yang memuntahkan lahar atau lava yang menyuburkan tanah sekitarnya. Lantas bagaimana dengan Borneo? Bisakah Borneo menyaingi Jawadwipa? Semua itu kelak akan terjawab dalam perjalanan sejarah kelahiran IKN Nusantara dalam menyongsong masa depan sesuai jamannya.

     Sekian untuk sekali ini.

*****


Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 7:27 AM

Ramalan Joyoboyo "notonogoro" Presiden RI 2024

Ramalan Joyoboyo "notonogoro" Presiden RI 2024

Mbah subowo

Ramalan Joyoboyo “NOTONOGORO” tentang penggalan nama belakang para presiden RI yang berurutan, bergiliran, atau berulang memerintah wilayah seluas Majapahit. Sebagai batasan nama belakang atau nama keluarga tidak masuk hitungan. Misalnya Tommy Suharto, Agus Harimurti Yudhoyono, dan seterusnya. Giliran berikut ini daftar mereka yang masuk kategori “notonogoro”. Daftar berikut ini dicomot dari anggota Kabinet, Gubernur, Ketua Fraksi Parpol, termasuk sang petahana Jokowi (periode 3 melalui revisi uu). Mereka semua sesuai "pakem" notonogoro yang asli memenuhi kriteria di atas sebagai capres maupun pemenang pilpres 2024.

     Nama yang unggul atau diunggulkan dalam berbagai survei calon presiden  seperti GAnjar Pranowo, GAtot Nurmantyo adalah suatu keniscayaan dalam konteks ramalan di atas walau mereka tidak termasuk daftar di bawah saat ini, satu alasan GO, GA bukan penggalan nama belakang ramalan Joyoboyo notonogoro, akan tetapi penggalan nama awalan (depan). Sah saja itu sebagai catatan khusus, dan sebaiknya kita tunggu saja apakah mereka kelak maju serta mampu memenangkan pilpres 2024, sehingga selanjutnya notonogoro potongan nama awal dan akhir para tokoh pemimpin wilayah Nusantara seluas Majapahit.

Joko Widodo (MulyoNO)

Prabowo SubianTO Djojohadikusumo

Airlangga HartarTO

Basuki HadimuljoNO

Sakti Wahyu TrenggoNO

PratikNO

Bambang BrodjonegoRO

HamengkubuwaNA  X

Edhie BaskoRO Yudhoyono

Utut AdianTO

    Presiden RI 2024 seperti pilpres sebelumnya dipilih secara langsung oleh rakyat, melalui mekanisme partai politik yang memajukan calon, baik secara sendiri jika memenuhi ambang batas perolehan suara (kursi legislatif) maupun berkoalisi dengan partai lain agar mencukupi ambang batas jumlah perolehan suara dalam pemilu yang berlangsung sebelum pilpres itu sendiri.

    Seorang pemimpin Nusantara dalam hal ini Presiden RI bakal menang dan terpilih jika mendapatkan “pulung gaib wahyu keprabon”, berikut ini sedikit bait Ramalan Joyoboyo terkait watak, sifat dari sosok pilihan rakyat yang bisa mengemban tugas tersebut dan kelak marak menjadi RI 1 2024: 

Asesanti landhepe triniji suci: bener, jejeg, jujur. (Bait 164, Ramalan Joyoboyo)

    Presiden RI yang mengemban “pulung gaib wahyu keprabon” adalah sosok pilihan yang selalu berpedoman pada tajamnya tritunggal yang suci: benar, lurus, jujur.

    Sekian untuk sekali ini.

*****

 

 

 

 

 

 

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 7:37 PM

Menakar peluang Prabowo dalam pilpres 2019

Menakar peluang Prabowo dalam pilpres 2019

mbah subowo bin sukaris

Prabowo Sang Petarung Pilpres 2014 belum menyiratkan sinyal bakal ikut serta maju lagi meramaikan bursa pilpres mendatang (2019). Memang belum tepat waktunya! Sang Petarung mungkin punya pilihan lain yang lebih baik, bisa saja menyimpan energinya hingga 2024  yang lebih lebar peluangnya muncul sebagai pemenang hingga marak menjadi RI 1. Strategi militer yang bisa jadi alternatif ala strategi Tentara Merah Tiongkok “musuh maju menyerang, pasukan Merah mundur, musuh diam Tentara Merah mengganggu, musuh mundur Tentara Merah mengejar atau bisa juga strategi militer Tiongkok lainnya yang lebih kuno ala Sun Tzu.
      Jokowi memang berada di atas angin hingga saat ini (8-2017). Sebagai orang sipil Prabowo sangat dikenal luas akan tetapi untuk menandingi Jokowi saat ini gampang-gampang-susah (bagi PS). Jika 2014 JKW berpasangan JK maka timbul pertanyaan 2019 siapa pendamping JKW?
     SBY yang semula berpasangan dengan JK periode Satu (2004) selanjutnya mengganti pasangan periode Dua (2009). Kinerjanya pada periode Dua terganggu relatif lebih banyak menyulitkan posisinya dibanding periode Satu. Apa ruginya memasang kembali pasangan lama (bagi JKW), kecuali sudah merasa diri kuat?
      Pasangan Prabowo pada 2019 yang paling tepat mungkin salah satu menteri KIB atau salah satu gubernur, bupati, atau walikota era saat ini.
       Pasangan JKW pun idem dito plus petinggi militer.
     Akan menjadi pertarungan sengit jika JK tidak bersedia menduduki posisi yang sama sebagai wapres.
     Tempo hari Allan Nairn menulis mengenai penggulingan JKW oleh demonstran Ahok. Bukankah JK yang bakal menduduki RI 1? Allan Nairn jelas penulis yang kompeten kebenarannya bisa fifty-fifty. Posisi wapres JK memang unik. Bisa-bisa pada 2024 JK bakal memecahkan rekor sebagai ''wapres abadi' ketiga kali mendampingi tiga presiden baru di NKRI.
      Prabowo berpeluang besar pada 2019 jika JKW mendapat rapor buruk, dan sebaliknya yang bakal terjadi. Akan tetapi prediksi di atas masih bersifat dinamis, mengingat ada calon lain yang potensial terutama yang berasal dari generasi muda. Mereka yang muda dan santun lebih menarik daripada yang overacting tanpa batas.
      Calon pemimpin muda akan bertarung sengit pada 2024 mendatang menghadapi generasi tua. Jika muncul muka baru dari generasi muda maka terbentuk segitiga polarisasi. Dan selanjutnya kekuatan akan berimbang mewakili masing-masing generasi.
      Sekian untuk sekali ini.


Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 2:02 AM

Demo 2511 tuntut penista agama? --Tionghoa dan penyebar Islam

Demo 2511 tuntut penista agama? --Tionghoa dan penyebar Islam

mbah subowo bin sukaris

Kekhilafan Ahok sebandingkah dengan para penista agama pendahulunya dari belahan bumi lainnya a.l. sebut saja Salman Rusdhie dengan "Satanic Verses", dan karikaturis Denmark dengan karikatur Rasulullah SAW?
     Notabene kesalahan seorang Salman Rusdhie yang menulis buku tebal diganjar berat oleh Pemerintah Republik Islam Iran, dan yang lainnya dari benua biru Eropa tepatnya Denmark membuat karikatur Rasulullah sejumlah beberapa lembar dihujat dari seluruh belahan dunia.
     Kini 2016 seorang pejabat NKRI yang bernama Ahok yang notabene bukan muslim apalagi seorang ulama "berani" membuat komentar terhadap satu ayat Kitab Suci kaum Muslim.
    Memang para pihak sudah tahu betul reaksi berupa kemarahan besar dari massa penganut agama tertentu jika merasa agamanya dinistakan oleh siapapun.
     Ahok memang peranakan Tionghoa, demikian juga Raden Fattah, seorang peranakan Tionghoa, pendiri Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.
     Sekilas mengenai penyebaran agama Islam di Indonesia memang dimotori oleh pedagang Gujarat. Akan tetapi Laksamana Cheng Ho (Ma San Pao -- San Pao Toalang -- Sam Po Kong) dari Tiongkok juga penyebar agama Islam yang luar biasa dan dilanjutkan oleh Walisongo dan penerusnya hingga detik ini.
     Laksamana Cheng Ho jelas Tionghoa totok yang beragama Islam. Ekspedisi Cheng Ho bahkan sampai ke daratan Afrika dan sempat ke Tanah Suci dengan konvoi laut terbesar dalam sejarah.
      Peran Cheng Ho di Nusantara, dengan dalih melindungi warga keturunan Tionghoa Laksamana Cheng Ho berhasil membuat wilayah Kerajaan Majapahit kocar-kacir melepaskan diri dari pusat istana Wilwatikta.
     Campa/Kamboja-Thailand, Melayu, Singapura/Tumasik, Palembang, Sumatera Barat, Kalimantan Barat (Puni), Sulawesi, Brunai, Sumbawa, Ternate dan Tidore, Mindanao, dan sebagainya ramai-ramai melepaskan diri dari Majapahit dan selanjutnya melalui Cheng Ho mereka berada di bawah lindungan Kekaisaran Tiongkok.
      Itulah sebabnya sejak kerajaan Islam Demak mulai dari Raden Fattah hingga Pati Unus, dan Sultan Trenggono hanya menguasai wilayah Jawa. Wilayah luar Jawa sudah berdiri sendiri melepaskan diri dari pusat Majapahit.

Menimbang kesalahan Ahok (BTP) sebandingkah dengan "hukuman mati" Salman Rushdie dengan "Satanic Verses" atau sebandingkah Ahok dengan kesalahan para karikaturis Denmark yang membuat karikatur nyata mengenai diri Rasulullah SAW?
      Salman Rusdhie menulis buku tebal "Satanic Verses", dan para karikaturis Denmark membuat beberapa karikatur berisi penghinaan Rasulullah. Akan tetapi Ahok yang keseleo lidahnya sadar maupun tak sadar, baik secara langsung maupun tak langsung telah membuat komen tentang satu ayat Kitab Suci Al-Qur'anul Karim. Dan Ahok tidak menyebutkan secara lengkap mengenai isi ayat tersebut.
     Sebuah komen yang diucapkan oleh pejabat tinggi NKRI memang menjadi masalah besar, ceritanya akan beda jika Ahok ini bukan pejabat tapi salah seorang pedagang Glodok, bukan?
    Ahok itu peranakan Tionghoa, demikian juga Raden Fattah peranakan Tionghoa, itu pendiri kerajaan Demak Islam pertama di Pulau Jawa.
      Kilas balik sebelum berdirinya Demak Islam sebagai berikut: Pasca keruntuhan Kerajaan Majapahit dengan berlayarnya Laksamana Cheng Ho ke Selatan yang mancal dari Shanghai membawa konvoi armada kapal terbesar dalam sejarah umat manusia. Kapal-kapalnya penuh dengan gemerlapnya harta-benda melimpah ruah. Telik sandinya sejak mulai dari Campa sudah membuat wakil Majapahit terakhir hengkang jauh ke pedalaman Asia.
     Kekaisaran Tiongkok pada abad kelimabelas masehi (1400-an) di bawah Dinasti Yonglie. Yonglie yang merasai bahaya mengancam segera saja menganugerahi Laksamana Cheng Ho yang terlalu cerdas itu sengaja membiarkannya pergi dengan bekal apapun yang dimintanya semata-mata agar manusia yang satu itu tidak "ngrecoki" jauh dari pusat kerajaan Tiongkok. Cheng Ho yang membawa misi menaklukkan Majapahit dengan mengibarkan panji Islam serta benar-benar menyebarkannya ke Selatan seantero Majapahit. Hingga akhirnya wilayah kerajaan majapahit di luar jawa satu persatu melindungkan diri di bawah Tiongkok. Pasai, Malaya, Singapura, Brunai, Puni (Kalimantan) Sulawesi, Ternate, Tidore, Sumbawa, Sumatera Barat, Palembang, Jambi dan sebagainya mulai melepaskan diri dari kekuasaan Wilwatikta.
      Kekaisaran Tiongkok tahu perkembangan kekaisaran Majapahit yang sedang menanggung akibat perang Paregreg, kala itu Majapahit sudah kehabisan cadangan negara, dan tidak berdaya lagi. Maka kekuatan Selatan itu pun tanpa daya walau hanya menghadapi Armada Kebesaran Tiongkok di bawah Laksamana Cheng Ho alias Ma San Pao, alias San Pao Toalang, alias Sam Po Kong. Manusia yang satu ini seorang kadim jelas tidak bisa dibujuk dengan wanita. Diberitakan ke segenap Man Yang (Laut Cina Selatan) armada kebesaran Tiongkok itu membawa perdamaian dan persahabatan. Dengan berpropaganda sebagai armada perdamaian maka kapal-kapal megah itu tidak membawa satu pucuk pun senjata. Walau demikian apa yang tampak di permukaan dan di belakang layar berbeda sama sekali. Kenyataannya terjadi penuh intrik serta terjadi peperangan intelijen antara Tiongkok melawan Majapahit.
       Misi Cheng Ho berujung dengan berdirinya Demak Islam yang berseberangan dengan Syiwa-Buddha Majapahit, mereka tidak sungkan mulai mengirimkan juru dakwahnya ke wilayah Majapahit dan ke segenap pelosok tanah Jawa. Dan hingga sekarang mereka dikenal sebagai Walisongo sebagai penyebar Islam teragung di Tanah Jawa.

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 6:18 PM

Jaman Edan dan Blusukan Jokowi

 Jaman Edan dan Blusukan Jokowi

mbah subowo bin sukaris

Jaman edan menurut definisi "Ramalan" Joyoboyo suatu masa depan atau di jaman tatkala perilaku dalam praktek kehidupan manusia berubah serba terbalik. Sedangkan definisi Jaman Edan menurut R. Ng. Ronggowarsito adalah kelak di masa depan terjadi jaman dan kala itu suasana hati, jiwa, dan hasrat manusia telah berubah serba terbalik alias berhati “jahat”.
      Pramoedya Ananta Toer sang sastrawan antiJavanis setidaknya menamai era tersebut di atas sebagai “jaman modern”.
      Walhasil Surabaya—Jakarta dapat ditempuh tidak lagi hanya seharmal akan tetapi cukup 10 jam.
      Sebagai contoh “jaman edan” menurut Joyoboyo: konon sejak jaman purba hingga abad kesembilan belas (1800-an) kaum pria menyetir gerobak sapi maupun kereta kuda yang selanjutnya berevolusi menjadi kendaraan mobil bermesin, sedangkan wanitanya selama berabad berposisi penumpang.
      Kini (2016), sudah lumrah mayoritas di jalan-jalan justru kaum hawa berada di balik kemudi kendaraan roda empat. Sementara kaum prianya dan juga sebagian wanitanya lebih memilih roda dua yang gesit.
      Sebagai contoh jaman edan menurut Ronggowarsito, manusia biasa dan juga yang jadi petinggi kini berubah jahat : korup, narkoba, dan berbagai tindak kejahatan lainnya walau demikian masih ada juga sebagian manusia yang tetap baik, itulah yang paling beruntung di jaman ini.
      Bung Pramoedya menamai dominasi kaum hawa di jalan raya itu sebagai emansipasi kaum hawa.
      Berkat kemajuan teknologi microchip, micropocessor, elektro, robotika, dan mesin jet di Jaman edan kini sedang gencarnya memasuki fase jaman ruang angkasa perjalanan kendaraan antarplanet, antargalaksi. Berbagai negeri berlomba bersama mengembangkan teknologi canggih agar bisa mengarungi angkasa luar menuju planet dan bulan di tatasurya. Dunia baru “angkasa luar”  patut dieksplorasi  oleh  negeri yang berlimpahan daya, dana serta teknologi, mereka  memang ingin menaklukkan angkasa sebagai pencapaian tiada akhir.
      Betapa tidak, angkasa luar memiliki jutaan-milyaran galaksi dan seisinya: nebula, "blackhole", bintang (matahari), planet, bulan dan lainya -- memang tidak bertepi batas, di segenap jagad raya posisi planet bumi yang sepanjang sejarah sejengkal demi sejengkal diperebutkan oleh negeri-negeri kolonial ini cuma bagaikan “debu” di jagad raya.
      Dalam dunia militer Jaman edan memasuki fase alutista militer tertinggi dengan diciptakannya beragam alutista (alat utama sistem senjata) militer mulai senjata laser di ruang angkasa, hingga peluru kendali nuklir; mulai dari kapal induk hingga kapal selam siluman; mulai dari robot tempur hingga jet tempur kecepatan subsonic -- dan juga kendaraan darat maupun air, dan lain sebagainya.
      Peperangan serba canggih di jaman edan ini terus-menerus tiada akhir terjadi sejak ditemukannya ladang minyak bumi di berbagai negeri di TimTeng, mulai dari negeri Afgan membentang hingga Afrika Utara. Semua saja negeri itu mayoritas penduduknya adalah muslim, mereka berperang memperebutkan pengaruh serta ideologinya masing-masing, yang sebenarnya sumbernya cuma satu saja, ajaran Muhammad s.a.w.
      Di jaman edan ini faham komunisme juga sudah dimodifikasi sesuai kebutuhannya sebagaimana yang eksis di Tiongkok. Demi menguasal ladang gas dan minyak bumi yang itu juga Tiongkok tidak malu-malu berubah atau mengubah diri jadi imperialis di LCS (Laut Cina Selatan) .
      Di jaman edan ini pula Korea Utara yang komunis terus-terusan main-main dengan roket peluru kendali demi tujuan untuk menakuti tetangganya: Korea Selatan dan Jepang yang selalu dikendalikan dari belakang oleh Amerika Serikat.
      ISIS yang berfaham Khawarij itu nekad unjuk gigi di Suriah—Irak menggalang berbagai sektor kekuatan yang telah dimilikinya. Apa yang terjadi selanjutnya? Seluruh dunia tiada satu negeri pun terang-terangan yang mendukung ISIS. Walau demikian ISIS tiada peduli dukungan dari siapapun barangkali juga tiada butuh apalagi belagak peduli.
      Juga di jaman edan ini NKRI telah dua kali berlangsungnya pilpres secara langsung oleh rakyat. Dan pada pilpres kedua terpilih seorang tokoh memiliki nama Jawa yang kenthal “Joko Widodo”, yang dicintai media karena hobinya waktu jadi petinggi suka blusukan terutama ke pasar tradisional (blusukan—(bhs. Jawa): memasuki tempat-tempat yang berada di pojok-pojok tersembunyi, tempat yang tidak menarik perhatian bagi petinggi lain).
      Lawan-lawan politik Jokowi kini semua saja terdiam sejuta basa, tak mampu berkata-kata – seperti dulu lagi -- penuh remehan dan ejekan. Tepat sebagaimana digambarkan dalam salah satu “quotes” Pramoedya: barang siapa yang berubah posisi dari aktivis menjadi aparat maka ia tiada lagi berani bersuara nyaring untuk maju membela bangsanya (seperti waktu jadi aktivis). Dan itu terjadi lantas apa sebabnya?
      “Mereka yang demikian perilakunya itu karena takut perutnya....  kelaparan, ” sambung Bung Pramoedya....

******

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 8:05 PM

Inilah bedanya Jokowi vs Soeharto

Inilah bedanya Jokowi vs Soeharto

mbah subowo bin sukaris

Jokowi (4/2016) baru berkuasa 18 bulan, Soeharto 32 tahun berkuasa. Bagaimana membedakan mereka? Menangkap kapal asing pencuri ikan selama 32 tahun berkuasa tidak dilakukan oleh pemerintah Soeharto, kalau toh mereka (patroli penjaga perairan) berhasil memergoki kapal asing, maka seluruh dunia juga tahu gimana ngatasi masalah semacam itu, konon semua saja tahu  bisa "cincai" lah antara pencuri dan penjaga pantai.
     "Semua bisa diatur.... hee hee hee," kelakar wapres Adam Malik pada 1980-an.
     Pada masa Orde Baru semua saja bisa "cincai", contohnya kena tilang polisi di jalanan, bisa "cincai"lah, sama-sama tahulah, sama-sama enak, sama-sama untung.
     Begitu pun dalam aspek di segala bidang semua bisa diatur, asal ada "usaha".
     Yang mungkin agak sukar dilakukan ialah membebaskan tahanan politik orde baru. Untuk yang satu ini tidak ada jalan keluarnya, tak ada "cincai". Konon tapol (tahanan politik) Orde Baru akhirnya dibebaskan berkat "super cincai" antara pemerintah Amerika Serikat dengan pemerintah Orba Soeharto.
     "Bagaimana kami bisa investasi di Indonesia, kalau di negeri ini masih banyak tahanan politik belum dibebaskan dari penjara?" demikian kira-kira argumen orang-orang US itu.
     Dalam era Jokowi, tilang di jalan sudah benar-benar mulai bersih. Semua penyelesaian tilang itu dijalankan berdasarkan contoh yang dilakukan oleh "polwan" yang terkenal tidak mau menerima "rasuah".
     Akan tetapi dalam era Jokowi belum hilang juga istilah "pelicin" misalnya jadi angkatan batu: bayar lima puluh juta, jadi angkatan air: bayar enam puluh juta, jadi angkatan ronda: bayar seratus juta, dan seterusnya.... itu belum hilang di era Jokowi.
     Kita berharap mudah-mudahan segera hilang praktek itu, paling tidak mafianya kudu disadap hp-nya (oleh KPK) agar bisa dilakukan OTT. Itu soal "kecil-kecil" bisa berdampak luarbiasa bagi negeri ini. Karena penyakit kronis semacam itu terjadi sudah sejak jaman Hindia. 
     Masih ingat cerita "Bumi Manusia" karangan Pramoedya? Di sana diceritakan "Sastro Kasier" menyerahkan anak gadisnya kepada administratur pabrik gula Tulangan yang bernama Plikemboh agar dirinya (Sastro Kasier) menjadi juru bayar pabrik gula.
     Budaya "calo" di era Soeharto begitu marak, "calo" lebih canggih "mafia" memasang jerat gurita (bukan laba-laba lagi) di mana-mana ada sumber ekonomi praktis. Ada calo bus, ada calo pns, ada calo tanah, dan seterusnya.
     Di masa Jokowi "calo" itu baru hilang di sektor transportasi kereta api. Kalau toh ada spekulan yang menawarkan harga tiket duakali lipat dari harga asli, itu mah namanya panda memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
     Yang belum hilang juga semasa Jokowi, ialah gangguan transportasi kendaraan angkutan besar, pemandangan mencolok truk-truk selalu jadi makanan empuk oknum-oknum di jalanan. Pertanyaannya kenapa gak seperti di film Amereka itu, truk-truk besar bebas mengangkut apa saja. Maklum saja di Amerika kan jalan-jalan lebar dan panjang. Bagaimana kalau truk bebas tanpa kontrol di sini? Mungkin Truk besar itu perlu dibikinkan tol khusus untuk truk. Atau digantikan dengan "Tol Laut" Jokowi, kalau tol laut sudah berfungsi tentu angkutan dengan truk akan berkurang melalui jalan darat. Truk bisa dinaikkan ke kapal, dan bebas mendarat ke pelabuhan manapun di salah satu pulau besar di Nusantara.
     Jaman orde baru belum ada "media sosial online", yang ada waktu itu baru mesin faximile, @mail. Akan tetapi jaman orde baru "politik adalah panglima" mau jadi pegawai sipil dan militer harus punya surat keterangan bebas partai si fulan. Dikit-dikit partai si fulan bisa diarahkan kepada siapapun juga yang terindikasi mau bikin gara-gara alias menggangu kamtibmas.
     Tatkala seorang tapol orde baru ditanya, kapan menjadi pengikut partai si fulan, jawabnya, "Aku dibabtis di penjara ini dituduh dan diresmikian sebagai anggota partai si fulan oleh sang interogator," begitu hebatnya menjadi rekor nomor satu di dunia praktek politik orba yang antipartai fulan, sampai amerika pun yang menjalankan doktrin McCharty kalah dari "eyang".
     Jaman Jokowi tahanan politik sudah minim, yang ada paling-paling tokoh separatis dan teroris, dua-duanya bukan tahanan politik tapi tergolong melakukan tidak pidana, sekaligus subversif.
     Subversif, ya, di jaman orba menulis kayak "gini" aja bisa dituduh subversif. Apapun yang tidak sejalan dengan harmoni orkestra penguasa maka ia harus dibabat habis. Itulah bedanya dengan masa Jokowi, masa kini masa multipartai. Masa orba masa "demokrasi terpimpin" ala Soeharto, masa "politik adalah panglima" ala Soeharto, masa "Pancasila" ala Soeharto.
     Masa kini seperti sudah diramalkan puluhan tahun yang lalu adalah masa berkiprahnya atau munculnya "terorisme", itulah sebabnya buku-buku pedoman "jihad" dan sebagainya adalah tabu dimiliki jika tidak mau disangkut-pautkan dengan teroris. Dikit-dikit teroris. Rasanya bagi kelompok tertentu sama saja, ketakutan dituduh anggota teroris di era Jokowi sama saja dengan dituduh simpatisan komunis di era Soeharto.

*****


Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 6:13 PM

Ramalan Jokowi Lengser

Ramalan Jokowi Lengser

mbah subowo bin sukaris

Beberapa data ringan dan sederhana berikut ini sebagai bahan kajian ramalan kami tentang kemungkinan Jokowi lengser baik digulingkan maupun jatuh sendiri.
     Tunggul Ametung (ca 1215) lengser dari Tumapel, karena "people power" pimpinan Arok plus sokongan kaum Brahmana seluruh Kediri. Akuwu kadipaten Tumapel Tunggul Ametung disokong kerajaan Kediri tak mampu lagi membendung Arok cs yang akhirnya juga merangsek ke Kediri.
     Soekarno (1965) terjungkal dari kekuasaan karena konspirasi asing (Inggris + USA) plus pembangkangan separoh kekuatan militer yang lihai memanfaatkan situasi Putsch yang diciptakan oleh oknum anggota Politbiro PKI.
      Soeharto jatuh dari kekuasaan karena "people power" plus konspirasi asing terutama Yahudi yang berjaya mengatur ekonomi dunia.
      B.J. Habibie (1999) jatuh dari singgasana warisan Soeharto karena konspirasi asing (soal Tim-Tim) dan konspirasi Parlemen yang masih didominasi kekuatan militer Orba.
      Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, 2001) jatuh terjungkal dari kekuasaan karena terlalu pede merombak tatanan negara yang kental berwatak Orde Baru, plus konspirasi Parlemen yang didominasi faksi-faksi relijius yang tidak mau menyokongnya.
     Jokowi belum jatuh karena dipilih langsung oleh >50% warga NKRI. Tidak menjadi soal mengapa rakyat memilih Jokowi apa karena dia "media darling" atau cuma pemimpin populis penuh pencitraan.
      "People Power" dalam suatu negara RI hanya bangkit andaikata Jokowi semena-mena menyakiti lawan politiknya atau rakyat yang tidak memilihnya; dan juga  andaikata Jokowi dan kelompoknya korup guna memupuk kekayaan pribadi dan kelompoknya.
      Konspirasi asing yang berusaha menjungkalkan Jokowi rasanya masih "wait and see", USA-Tiongkok-Jepang-Uni Eropa-Yahudi ramai-ramai pata cengke menikmati madu investasi di wilayah NKRI. Tak ada alasan membuat satu dollar bernilai di atas 15.000 rupiah seperti semasa Orde Baru Soeharto berkuasa. Soal harga sembako naik, dan pertumbuhan ekonomi lambat dan lain sebagainya, itu masih belum cukup untuk menjatuhkan Jokowi, dan juga selama investor asing masih waras bahwa negeri ini merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara sekaligus negeri kaya-raya dengan bahan baku dan sumber daya manusia.
    Di sisi lain Parlemen RI tidak bisa menjatuhkan Jokowi karena memang tidak pernah memilih Jokowi jadi presiden. Parlemen sulit menjatuhkan presiden pilihan rakyat, kecuali sang presiden membuat keputusan blunder dalam bidang tertentu yang berakibat fatal bagi NKRI.
    Jokowi apapun dia, andai Petruk dadi ratu, tetap merupakan pilihan >50 rakyat NKRI, Jokowi bukan pemimpin dadakan yang kejatuhan wahyu keprabon bersifat sementara seperti yang terjadi dalam lakon dunia pewayangan/pedalangan "Petruk dadi Ratu". 
      Berikut ini sekilas cerita pewayangan "Petruk dadi Ratu": Petruk sukses menaiki takhta dengan cara memangku Abimanyu yang sedang sakit, dan juga tatkala Abimanyu gugur dalam Bharatayuddha. Kisah lainnya Petruk pada suatu kali berhasil mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menguasai pusaka/jimat Kalimasadha sehingga ia berhasil menduduki singgasana Lojitengara.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 8:14 AM

Ramalan Jayabaya tentang Presiden NKRI tunduk Rakyat

Ramalan Jayabaya tentang Presiden NKRI tunduk Rakyat

Mbah subowo bin sukaris

Ramalan Jayabaya pada intinya memberikan gambaran dengan berbagai  tanda-tanda dalam kehidupan masyarakat Nusantara tatkala tiba masanya jaman terbalik -- jaman terbalik itu bisa juga disebut jaman edan. 
      Pada masa jaman edan, yang terdiri dari dua sisi mata uang. Sisi yang satu ialah perkembangan iptek yang pesat yang mengantarkan kita pada kehidupan modern. Sementara sisi yang satunya ialah kehidupan manusia benar-benar edan. 
     Tidak perlu disebutkan lagi di sini apa yang edan-edan itu memang benar-benar dilakukan oleh umat manusia di belahan bumi Barat maupun Timur. Beberapa contoh kecil maraknya sex bebas, menggunakan  narkoba, tindak kejahatan dengan penipuan,  tindak kejahatan berikut kekerasan fisik pada korbannya, dan seterusnya.
      Jayabaya seorang raja dari Kediri, Jawa Timur, yang hidup pada abad keduabelas masehi,  memberikan gambaran masa berakhirnya jaman terbalik.

para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula
Kelak pada suatu masa semua orang bergembira ria karena telah tiba keadilan dari Yang Maha Kuasa. Pada masa itu sang pemimpin (ratu, raja, presiden) tunduk dan mengabdi pada rakyatnya  -- rakyat yang terus maju pantang mundur dalam cara tindakan dan berpikirnya.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 7:12 PM

Ramalan Joyoboyo masa Jokowi tanda perubahan jaman!

Ramalan Joyoboyo masa pemerintahan Jokowi tanda datangnya perubahan jaman

by mbah Subowo bin Sukaris

Secara kebetulan semasa pemerintahan Jokowi yang saat ini tengah berjalan setengah tahunan ini, berbarengan dengan hadirnya kisah Mahabharata dari negeri Hindustan yang berjilid-jilid itu telah diangkat ke layar lebar dan salah satu copy-nya disiarkan oleh salah satu stasiun teve tanah air. Siapapun kini di seantero tanah Jawa tidak perlu begadang hingga larut malam hingga menjelang pagi untuk menonton wayang semalam suntuk guna dapat mengetahui cerita dalam kisah Mahabharata dan cerita sejenis lainnya. Bukan suatu kebetulan bahwa para pemeran kisah Mahabharata itu baik dari golongan Kurawa maupun Pandawa (a.l. Arjuna, Bima, Yudhistira, dll.) kini betah berlama-lama membuka lapak di Nusantara mengadakan pertunjukan. Mungkin fenomena saat ini yang tengah terjadi itulah pertanda datangnya perubahan jaman, sebagaimana diramalkan oleh Sri Aji Joyoboyo yang eksis pada abad keduabelas masehi (1100-an).

bakal ana dewa ngejawantah
apengawak manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking zaman
Joyoboyo, abad xii masehi

Pada suatu masa akan ada dewa menitis sebagai sosok manusia, dia memiliki kebijakan sebagaimana bethara Kresna dan berwatak seperti Baladewa. Mereka tentu saja menggenggam senjata sakti berupa trisula (wedha). Itulah tandanya bakal terjadi perubahan jaman.

       Perubahan jaman itu berarti berubahnya kehidupan masyarakat dari jaman modern (saat ini) menuju ke arah jaman supermodern. Di jaman supermodern yang satu ini berarti berakhirnya jaman penderitaan manusia di jaman terbolak-balik atau jaman gonjang-ganjing. Datangnya jaman baru akan menciptakan kehidupan masyarakat yang baru beserta lahirnya tatanan dunia baru di jagad bumi manusia ini!

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 3:06 PM

Ramalan Joyoboyo, pemenang pilpres 2014 tak akan menghina yang kalah!

Ramalan Joyoboyo, pemenang pilpres 2014 tak akan menghina yang kalah!

mbah subowo bin sukaris

Pilpres 2014 usai sudah. Hingar-bingar mulai dari kampanye hitam salah satu kubu terhadap kubu lawan lainnya, hingga rebutan skor hitungan cepat yang saling memenangkan diri-sendiri dalam tempo dua mingguan  menjelang pengumuman hasil penghitungan resmi oleh yang berwenang.
      Pilpres kali ini tampaknya bakal memunculkan seorang pemimpin yang adil makmur, hal itu memang bukan suatu kebetulan, akan tetapi kedua capres telah membuktikan hal itu dalam janji-janji mereka selama dalam masa kampanye. Siapapun pemenangnya maka dialah kelak (jika melunasi semua janjinya) pemimpin yang ditunggu rakyat Nusantara selama berabad-abad sang ratu adil cq satrio piningit. 
      Dalam tradisi budaya dan kepercayaan pada umumnya orang Jawa dapat dikatakan di sini bahwa sejak pengambilan/pencoblosan suara dinyatakan selesai (walau di sana-sini masih ada pemilu ulangan) pulung gaib telah jatuh ke tangan salah satu kandidat presiden RI yang ketujuh. Tidak perlu disebutkan di sini siapa orang yang telah dijatuhi pulung gaib wahyu keprabon/wahyu cakraningrat itu. Saat ini memang belum ada pengumuman resmi dari pihak berwenang mengenai siapa gerangan sang pemenang dalam pilpres 2014 ini. Jadi sebaiknya dalam tempo empat hari ke depan sebaiknya menunggu pengumuman resmi komisi yang bertugas untuk melakukan penghitungan suara. 
      Kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lainnya merupakan hal lumrah dalam sebuah pertandingan yang fair dan menjunjung tinggi sportifitas. Akan tetapi tatkala salah satu pihak suatu ajang menggunakan cara yang penuh dengan trik-trik kotor alias menghalalkan segala macam cara, biasanya pihak semacam ini yang tidak siap diri tatkala menghadapi suatu kekalahan apalagi dengan perbedaan skor sangat tipis. Dan sebaliknya bagi pemain yang bersih tiada persoalan tatkala menjadi sang pemenang atau si kalah. Untuk menakar kwalitas kedua kontestan dalam pilpres 2014, berikut ini ramalan Joyoboyo mengenai sikap seorang ratu adil cq satrio piningit (jika melunasi janjinya dalam kampanye) yang adalah pemenang pilpres 2014.

yen menang tan ngasorake liyan (Joyoboyo abad xii, bait 173)

tatkala (satrio piningit) meraih kemenangan (dalam ajang politik, peperangan, dsb) maka satrio piningit tiada kan pernah merendahkan/menghina siapapun dia yang menjadi lawannya.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:50 AM

Ramalan Jayabaya, pasca rejim SBY… NKRI pecah!

Ramalan Jayabaya pasca rejim SBY… NKRI pecah!

mbah Subowo bin sukaris

     Perhelatan besar NKRI terkini adalah pemilihan presiden (pilpres) 2014, terdapat dua kubu koalisi partai politik yang berhimpun untuk saling berhadapan. Barang tentu masing-masing kubu siap untuk memenangkan pertarungan yang akan digelar pada Juli 2014. Semua kubu memang siap meraih kemenangan, akan tetapi mungkin belum menyiapkan diri jika harus menghadapi kekalahan secara sportif. Andai kalah, tokh masih bisa koalisi parlemen, bukan? Jadi tidak perlu berpanjang-panjang lagi meratapi kekalahannya.
        Pemerintahan SBY usai beberapa bulan mendatang, dan pemerintahan RI akan digantikan oleh sang pemenang pilpres. Semua berharap para bakal capres yang kalah dan pemenang bisa bersikap jentel, sportif -- sebelum, selama, dan sesudah perhelatan akbar itu.
      Berikut ini sekadar ramalan yang menggambarkan pasca pemerintahan SBY hingga menjelang datangnya jaman ratu adil yakni munculnya sosok pemimpin Nusantara yang mendunia yang dijuluki “Tunjung Putih”. Pasca pemerintahan SBY memang mungkin digantikan oleh “Tunjung Putih”, akan tetapi bisa juga ada jeda, terdapat masa di mana NKRI mengalami gonjang-ganjing, entah itu di parlemen, maupun dalam pemerintahan eksekutif. Masa-masa itulah yang digambarkan dalam “Kitab Musarar Jayabaya” yang dianggap sahih dan memang kental bernuansa Islami.

Kukum lan yuda nagara, Pan nora na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.
Ilang kawiranganingdyah, Sawab ingsun den suguhi, Mring ki Ajar, Arupa endang sawiji, Wiwit prang tan na ngaberi, Nuli ana lamate negara rengka.
(Kitab Musarar Jayabaya, Sinom 24-25)

       Pada masa itu hukum dan pengadilan negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Peraturan hukum perundangan terus saja bergonta-ganti. Rasa keadilan tidak dapat dinikmati siapapun juga. Pengadilan semacam itu menjadikan yang benar dianggap salah. Dan justru yang jahat dianggap benar. Dunia sedang ditingkahi oleh setan yang menyamar sebagai wahyu. Semua itu terjadi karena banyak orang melupakan Tuhan, dan tidak lagi menghormati orang tuanya.
       Di jaman itu kaum wanita hilang kehormatannya. Sebab saya (Sri Aji Jayabaya) diberi hidangan seorang Endang (wanita) oleh ki Ajar. Di jaman itu yang bakal terjadi ialah mulai terjadi perang yang tiada akhir. Selanjutnya mulai muncul gerakan tertentu sebagai tanda negara (NKRI) pecah.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 11:21 AM