Showing posts with label Joyoboyo. Show all posts
Showing posts with label Joyoboyo. Show all posts

Ramalan Joyoboyo "hilang pangkat-kedudukan"

 Ramalan Joyoboyo "hilang pangkat-kedudukan"

 mbah subowo

Di penghujung 2022 patut dicatat dengan menengok beberapa surya ke belakang, terjadi bencana kemanusiaan, sosial, politik, ekonomi yang berimbas para pemangku jabatan mulai dari menteri, gubernur, bupati, walikota, komisarir besar polisi, Kolonel TNI, wakil rakyat dan seterusnya kehilangan segalanya, ya, karena telah resmi dinyatakan bersalah alias jadi terdakwa.

     Ramalan Joyoboyo yang berasal dari abad keduabelas masehe (1100-an) nyatanya sudah menggambarkan hal di atas. Para pemangku jabatan dalam institusi negara hendaknya berhati-hati dalam laku hidup dalam jabatanya agar tidak mengalami nasib tersebut.

     Langsung saja ke tkp syair Joyoboyo:

"Akeh pangkat lan drajat 

pada minggat ora karuan sababe."

     Kelak di masa depan akan terjadi suatu masa yakni para abdi negara di Nusantara ini akan mengalami hal menyesakkan hati karena bertahun-tahun memupuk kerja keras dan mendapatkan anugerah berupa pangkat, derajat (kedudukan) tiba-tiba lenyap sebabnya tidak disangka-sangka atau di luar perhitungan sama sekali.

     Jika diambil hikmahnya, sebagai pelajaran diharapkan para yang sukses meraih pangkat maupun jabatan itu ibarat bermain catur harus selalu dua langkah di depan lawannya. Bisa meneropong ke masa depan sebab-akibat dari tindakan sesaat yang berakibat fatal bagi diri dan keluarganya. Dalam pepatah modern "pikir dulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna."

     Sekian untuk sekali ini.

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 4:28 PM

Ramalan Joyoboyo tentang ibukota NKRI baru

Ramalan Joyoboyo tentang ibukota NKRI baru
mbah subowo
Dalam lima tahun ke depan (2019-24) sejalan dengan keputusan Presiden Jokowi pada periode satu (2014-19) dan direalisasikan pada periode dua memindahkan lokasi pusat pemerintah NKRI dari Jakarta ke Pulau Borneo, tepatnya di provinsi Kalimantan Timur.
   Salah satu alasan pemindahan ibukota demi pemerataan demografi, ekonomi, dan mengurangi beban Pulau Jawa yang kini tengah menyangga separoh populasi warga NKRI. Penghidupan secara umum di Pulau Jawa sudah sesak oleh pertumbuhan populasi penduduk. Kondisi ibukota Jakarta yang kini menjadi kota yang berada di luar batas kewajaran terutama besarnya kegiatan ekonomi dan lingkungan polusi udaranya. Bandingkan pada 1970-an udara Jakarta masih bersih, Gunung Salak di pagi hari masih tampak dari lokasi Tugu Dirgantara (Pancoran).
     Sekali lagi pemindahan ibukota yang telah dicanangkan sejak pemerintahan Presiden Sukarno pada era 1960-an. Dengan harapan serta tujuan terjadinya transformasi kemajuan penghidupan penduduk dari Jawa ke luar Jawa serta eksodus penduduk Nusantara menuju Borneo, baik dari Pulau Jawa maupun Pulau besar lainnya segera terwujud. Pulau Jawa akan berkurang bebannya dalam menyangga populasi separoh warga NKRI.
     Dan diperkirakan eksodus besar-besaran penduduk Jawa dari Pulau paling subur di Asia (Jawa) ke wilayah baru itu akan menyisakan separoh penghuninya (di Pulau Jawa). Berikut ini bait syair mengenai penduduk yang pindah dari Jawa dalam ramalan Joyoboyo yang hidup pada abad keduabelas masehi (1100-an):

"Wong Jowo kari separo" (Joyoboyo, 1100-an)

     Kelak di masa depan (ramalan selalu mengenai masa depan) akan terjadi sesuatu peristiwa penghuni Pulau Jawa merantau ke wilayah lain Nusantara atau di luar Pulau Jawa hingga menyisakan hanya separoh penghuninya.
     Sekian untuk sekali ini.
*****




Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 9:25 AM

Ramalan Joyoboyo, 'Keberuntungan bagi anak-cucu'

Ramalan Joyoboyo, 'Keberuntungan bagi anak-cucu'

mbah subowo bin sukaris

Euforia rakyat tatkala tumbangnya orang nomor satu orba, Presiden Soeharto, terjadilah di seantero pelosok negeri orang pada mencipta cinderamata cincin kuningan dari bahan uang recehan 1991 yang konon terdapat campuran logam emas.
      Kini di tengah maraknya Jokowi sebagai nomor satu di NKRI terjadi kembali euforia rakyat mulai mengasahi berbagai jenis batu alam yang unik menjadi batu akik yang melengkapi sebagai permata pada berbagai jenis cincin logam.
      Demam batu akik yang mencapai stadium tinggi saat ini di era kekuasaan Jokowi sama-sama sebagai euforia yang timbul sebagaimana yang terjadi semasa tumbangnya Jenderal Soeharto pada Mei 1998, yang tidak diikuti dengan bergantinya watak kekuasaan rezim orde baru yang tetap langgeng hingga hari ini.
      Di satu sisi kehidupan orang di luar pemerintahan merasakan euforia, sementara sebagian penyelenggara negara bertanya apa bedanya dua pemerintahan terakhir dalam negara yang disebut NKRI?
      Jawaban yang senada muncul di sana-sini: Semasa kekuasaan SBY yang baru saja mungkur usai berkuasa dua periode berturut, telah dapat dirasakan kesejahteraan luarbiasa bagi para penyelenggara negara mulai dari lapisan bawah hingga ke puncak. Sebaliknya pengetatan anggaran yang terjadi semasa Jokowi mulai naik ke tampuk kekuasaan hingga hari ini telah memangkas berbagai mata anggaran yang telah dianggap sebagai pemborosan. Dampaknya jelas keuangan negara mengalami perubahan sedikit demi sedikit dan dengan sendirinya para penyelenggara negara merasai suatu yang disebut prihatin.
      Dimulai dengan cincin kuningan yang meningkat menjadi cincin dengan permata batu akik; Dan juga diawali dengan sebagian kecil orang menjadi triyalder sementara yang lain melarat selanjutnya berubah kini para koruptor satu persatu digiring masuk bui.
      Mengutip Prabu Joyoboyo dari Kediri yang hidup pada abad keduabelas masehi, mungkin yang paling tepat untuk memahami perubahan zaman dan perubahan dalam kehidupan bernegara di NKRI , "Beja-bejane anak putu!" Keberuntungan kelak akan dinikmati oleh anak-cucu!

*****


Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 4:52 PM

Ramalan Jayabaya tentang Presiden NKRI tunduk Rakyat

Ramalan Jayabaya tentang Presiden NKRI tunduk Rakyat

Mbah subowo bin sukaris

Ramalan Jayabaya pada intinya memberikan gambaran dengan berbagai  tanda-tanda dalam kehidupan masyarakat Nusantara tatkala tiba masanya jaman terbalik -- jaman terbalik itu bisa juga disebut jaman edan. 
      Pada masa jaman edan, yang terdiri dari dua sisi mata uang. Sisi yang satu ialah perkembangan iptek yang pesat yang mengantarkan kita pada kehidupan modern. Sementara sisi yang satunya ialah kehidupan manusia benar-benar edan. 
     Tidak perlu disebutkan lagi di sini apa yang edan-edan itu memang benar-benar dilakukan oleh umat manusia di belahan bumi Barat maupun Timur. Beberapa contoh kecil maraknya sex bebas, menggunakan  narkoba, tindak kejahatan dengan penipuan,  tindak kejahatan berikut kekerasan fisik pada korbannya, dan seterusnya.
      Jayabaya seorang raja dari Kediri, Jawa Timur, yang hidup pada abad keduabelas masehi,  memberikan gambaran masa berakhirnya jaman terbalik.

para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula
Kelak pada suatu masa semua orang bergembira ria karena telah tiba keadilan dari Yang Maha Kuasa. Pada masa itu sang pemimpin (ratu, raja, presiden) tunduk dan mengabdi pada rakyatnya  -- rakyat yang terus maju pantang mundur dalam cara tindakan dan berpikirnya.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 7:12 PM

Ramalan Joyoboyo masa Jokowi tanda perubahan jaman!

Ramalan Joyoboyo masa pemerintahan Jokowi tanda datangnya perubahan jaman

by mbah Subowo bin Sukaris

Secara kebetulan semasa pemerintahan Jokowi yang saat ini tengah berjalan setengah tahunan ini, berbarengan dengan hadirnya kisah Mahabharata dari negeri Hindustan yang berjilid-jilid itu telah diangkat ke layar lebar dan salah satu copy-nya disiarkan oleh salah satu stasiun teve tanah air. Siapapun kini di seantero tanah Jawa tidak perlu begadang hingga larut malam hingga menjelang pagi untuk menonton wayang semalam suntuk guna dapat mengetahui cerita dalam kisah Mahabharata dan cerita sejenis lainnya. Bukan suatu kebetulan bahwa para pemeran kisah Mahabharata itu baik dari golongan Kurawa maupun Pandawa (a.l. Arjuna, Bima, Yudhistira, dll.) kini betah berlama-lama membuka lapak di Nusantara mengadakan pertunjukan. Mungkin fenomena saat ini yang tengah terjadi itulah pertanda datangnya perubahan jaman, sebagaimana diramalkan oleh Sri Aji Joyoboyo yang eksis pada abad keduabelas masehi (1100-an).

bakal ana dewa ngejawantah
apengawak manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking zaman
Joyoboyo, abad xii masehi

Pada suatu masa akan ada dewa menitis sebagai sosok manusia, dia memiliki kebijakan sebagaimana bethara Kresna dan berwatak seperti Baladewa. Mereka tentu saja menggenggam senjata sakti berupa trisula (wedha). Itulah tandanya bakal terjadi perubahan jaman.

       Perubahan jaman itu berarti berubahnya kehidupan masyarakat dari jaman modern (saat ini) menuju ke arah jaman supermodern. Di jaman supermodern yang satu ini berarti berakhirnya jaman penderitaan manusia di jaman terbolak-balik atau jaman gonjang-ganjing. Datangnya jaman baru akan menciptakan kehidupan masyarakat yang baru beserta lahirnya tatanan dunia baru di jagad bumi manusia ini!

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 3:06 PM

Ramalan Joyoboyo, pemenang pilpres 2014 tak akan menghina yang kalah!

Ramalan Joyoboyo, pemenang pilpres 2014 tak akan menghina yang kalah!

mbah subowo bin sukaris

Pilpres 2014 usai sudah. Hingar-bingar mulai dari kampanye hitam salah satu kubu terhadap kubu lawan lainnya, hingga rebutan skor hitungan cepat yang saling memenangkan diri-sendiri dalam tempo dua mingguan  menjelang pengumuman hasil penghitungan resmi oleh yang berwenang.
      Pilpres kali ini tampaknya bakal memunculkan seorang pemimpin yang adil makmur, hal itu memang bukan suatu kebetulan, akan tetapi kedua capres telah membuktikan hal itu dalam janji-janji mereka selama dalam masa kampanye. Siapapun pemenangnya maka dialah kelak (jika melunasi semua janjinya) pemimpin yang ditunggu rakyat Nusantara selama berabad-abad sang ratu adil cq satrio piningit. 
      Dalam tradisi budaya dan kepercayaan pada umumnya orang Jawa dapat dikatakan di sini bahwa sejak pengambilan/pencoblosan suara dinyatakan selesai (walau di sana-sini masih ada pemilu ulangan) pulung gaib telah jatuh ke tangan salah satu kandidat presiden RI yang ketujuh. Tidak perlu disebutkan di sini siapa orang yang telah dijatuhi pulung gaib wahyu keprabon/wahyu cakraningrat itu. Saat ini memang belum ada pengumuman resmi dari pihak berwenang mengenai siapa gerangan sang pemenang dalam pilpres 2014 ini. Jadi sebaiknya dalam tempo empat hari ke depan sebaiknya menunggu pengumuman resmi komisi yang bertugas untuk melakukan penghitungan suara. 
      Kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lainnya merupakan hal lumrah dalam sebuah pertandingan yang fair dan menjunjung tinggi sportifitas. Akan tetapi tatkala salah satu pihak suatu ajang menggunakan cara yang penuh dengan trik-trik kotor alias menghalalkan segala macam cara, biasanya pihak semacam ini yang tidak siap diri tatkala menghadapi suatu kekalahan apalagi dengan perbedaan skor sangat tipis. Dan sebaliknya bagi pemain yang bersih tiada persoalan tatkala menjadi sang pemenang atau si kalah. Untuk menakar kwalitas kedua kontestan dalam pilpres 2014, berikut ini ramalan Joyoboyo mengenai sikap seorang ratu adil cq satrio piningit (jika melunasi janjinya dalam kampanye) yang adalah pemenang pilpres 2014.

yen menang tan ngasorake liyan (Joyoboyo abad xii, bait 173)

tatkala (satrio piningit) meraih kemenangan (dalam ajang politik, peperangan, dsb) maka satrio piningit tiada kan pernah merendahkan/menghina siapapun dia yang menjadi lawannya.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:50 AM

Ramalan Jayabaya, pasca rejim SBY… NKRI pecah!

Ramalan Jayabaya pasca rejim SBY… NKRI pecah!

mbah Subowo bin sukaris

     Perhelatan besar NKRI terkini adalah pemilihan presiden (pilpres) 2014, terdapat dua kubu koalisi partai politik yang berhimpun untuk saling berhadapan. Barang tentu masing-masing kubu siap untuk memenangkan pertarungan yang akan digelar pada Juli 2014. Semua kubu memang siap meraih kemenangan, akan tetapi mungkin belum menyiapkan diri jika harus menghadapi kekalahan secara sportif. Andai kalah, tokh masih bisa koalisi parlemen, bukan? Jadi tidak perlu berpanjang-panjang lagi meratapi kekalahannya.
        Pemerintahan SBY usai beberapa bulan mendatang, dan pemerintahan RI akan digantikan oleh sang pemenang pilpres. Semua berharap para bakal capres yang kalah dan pemenang bisa bersikap jentel, sportif -- sebelum, selama, dan sesudah perhelatan akbar itu.
      Berikut ini sekadar ramalan yang menggambarkan pasca pemerintahan SBY hingga menjelang datangnya jaman ratu adil yakni munculnya sosok pemimpin Nusantara yang mendunia yang dijuluki “Tunjung Putih”. Pasca pemerintahan SBY memang mungkin digantikan oleh “Tunjung Putih”, akan tetapi bisa juga ada jeda, terdapat masa di mana NKRI mengalami gonjang-ganjing, entah itu di parlemen, maupun dalam pemerintahan eksekutif. Masa-masa itulah yang digambarkan dalam “Kitab Musarar Jayabaya” yang dianggap sahih dan memang kental bernuansa Islami.

Kukum lan yuda nagara, Pan nora na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.
Ilang kawiranganingdyah, Sawab ingsun den suguhi, Mring ki Ajar, Arupa endang sawiji, Wiwit prang tan na ngaberi, Nuli ana lamate negara rengka.
(Kitab Musarar Jayabaya, Sinom 24-25)

       Pada masa itu hukum dan pengadilan negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Peraturan hukum perundangan terus saja bergonta-ganti. Rasa keadilan tidak dapat dinikmati siapapun juga. Pengadilan semacam itu menjadikan yang benar dianggap salah. Dan justru yang jahat dianggap benar. Dunia sedang ditingkahi oleh setan yang menyamar sebagai wahyu. Semua itu terjadi karena banyak orang melupakan Tuhan, dan tidak lagi menghormati orang tuanya.
       Di jaman itu kaum wanita hilang kehormatannya. Sebab saya (Sri Aji Jayabaya) diberi hidangan seorang Endang (wanita) oleh ki Ajar. Di jaman itu yang bakal terjadi ialah mulai terjadi perang yang tiada akhir. Selanjutnya mulai muncul gerakan tertentu sebagai tanda negara (NKRI) pecah.

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 11:21 AM

Ramalan Jayabaya tentang Piramida Gunung Padang

Ramalan Jayabaya tentang Piramida Gunung Padang

Mbah Subowo bin Sukaris

Gunung Padang yang berada di Cianjur, Jabar, masih penuh diliputi misteri. Sebagian pakar ilmiah berpendapat bahwa usia situs itu pada antara 3000 s/d 11000 Sebelum Masehi, atau usianya hingga saat ini di antara 5000 tahun hingga 13000 tahun yang silam.
      Gunung Padang hingga awal abad keduapuluh satu ini masih menyimpan peninggalan masa silam yang luar biasa, dan situs itu pun rupanya tidak luput dari perhatian Raja Kediri Sri Aji Jayabaya yang memerintah Kediri pada abad keduabelas masehi atau sembilan abad yang silam.
      Sebagai bukti mengenai hal di atas dapat dijumpai pada naskah Kitab Musarar Jayabaya.

Tan adangu nulya prapti, Apan ta lajeng binekta, 
Mring kang rama ing lampahe, Minggah dhateng ardi Padhang, Kang putra lan keng rama, Sakpraptanira ing gunung, Minggah samdyaning arga. 
(Kitab Musarar, Asmarandana bait 12)

Prabu Jayabaya memanggil seorang putranya, setelah sang putra menghadap, sang prabu bertitah kepada putranya dan mengajak menempuh perjalanan jauh ke Gunung Padang.
      Tiba-tiba di istana kerajaan terjadi kesibukan luar biasa. Selanjutnya tidak berapa lama serombongan besar dari istana Kediri berangkat menuju Gunung Padang di Jawa Kulon. Setibanya Gunung Padang beberapa hari kemudian ayah dan putra itu selanjutnya berdua saja mulai mendaki ke gunung itu.

Perjalanan dari Kediri menuju Gunung Padang ditempuh Raja Jayabaya melalui jalur laut. Kapal Angkatan Laut kerajaan kediri mancal dari Ujung Galuh dan mengarungi Laut Jawa kemudian mendarat di sekitar Cimalaya dan selanjutnya rombongan kerajaan menempuh perjalanan darat lurus ke Selatan.
      Gunung Padang di Cianjur pada abad keduabelas masehi keadaannya masih cukup baik dari luar tampak sebagai bangunan yang luar biasa rapi bentuknya seperti satu sisi piramida di Mesir. Bedanya di bagian dalam piramida Gunung Padang adalah sebuah bukit alami. Selanjutnya gunung itu dilapisi melingkar dengan balok batu alam sehingga di satu sisi gunung tampak sebagai penampang satu sisi sebuah piramida raksasa. Sementara di sisi lain dibiarkan alami seperti sediakala dan menjadi hutan belantara yang setiap waktu akan merambat menutupi bangunan itu.
      Prabu Jayabaya sejak tetirah di Gunung Padang itu setibanya kembali di pusat kerajaan Kediri beliau langsung saja memerintahkan untuk mendirikan goa Selomangleng yang merupakan replika mini dari situs Gunung Padang, keduanya sama terbuat dari batu alami. Mengapa Goa Selomangleng tidak ambruk selama hampir seribu tahun dibandingkan situs Gunung Padang yang seribu tahun yang silam masih kokoh berdiri seperti yang disaksikan oleh Jayabaya bersama sang putranya? Jawabannya ialah Piramida Gunung Padang tidak mendapat perawatan semestinya, hal itu terjadi mengingat lokasinya yang berada di tengah hutan belantara dan di daerah yang rawan bencana alam (gempa bumi) dan juga tertutup hutan lebat pada akhirnya merusak struktur bangunan tersebut. Bandingkan dengan piramida di Mesir yang berada di tengah padang pasir tentu tidak mendapat gangguan apapun selain cuaca dan sinar matahari. Goa Selomangleng yang terbuat dari batu besar ungkul walau berada di tengah hutan lebat selama ribuan tahun tidak menjadi rusak karena adanya perawatan teratur dari kerajaan Kediri yang jaraknya hanya sepelemparan batu antara goa Selomangleng dan istana Kediri.

______
Gunung Padang, Jw. Gunung yang terang benderang.

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 6:48 PM

Ramalan Joyoboyo: Satrio Piningit muncul

Ramalan Joyoboyo: Satrio Piningit muncul

mbah subowo bin sukaris

Sebentar lagi gelaran Pemilu dan  Pilpres akan berlangsung pada 2014. Tentu semua berharap yang bakal terjadi dan terpilih adalah sosok-sosok yang terbaik bagi negara dan rakyat Nusa Antara. Sekadar menambah wawasan berikut ini ada sebuah syair bernuansa ramalan oleh Sri Aji Joyoboyo dari abad keduabelas masehi yang mengisahkan secara tepat kapan Ratu Adil cq Satrio Piningit itu bakal muncul di Nusa Antara membawa keberkahan bagi orang Jawa/Nusantara.
      Saat ini secara kebetulan tengah berlangsung fenomena alam komet ISON yang sepertinya sesuai dengan ramalan Joyoboyo mengenai kedatangan Sang Ratu Adil cq Satrio Piningit yang akan terjadi tidak lama lagi. Sebagai informasi ilmiah komet ISON bersinar terang dan bisa dilihat tanpa alat apapun pada pukul 4.30-5.00 hingga 28-29 November 2013 dan untuk selanjutnya akan lenyap selamanya. Tatkala matahari terbit, komet itu walau sebenarnya masih ada akan tetapi tidak tampak lagi karena tertutup sinar matahari.

sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa
ngalu-ngalu tumanja ana kidul wetan bener
lawase pitung bengi,
parak esuk bener ilange
bethara surya njumedhul

Konon kedatangan dewa berbadan manusia itu di planet Bumi kelak itu ada hubungannya dan atau ditandai dengan pergerakan barisan besar "lintang kemukus" selama tujuh hari tujuh malam berasal dari Selatan Khatulistiwa menuju ke Timur. Walau sebenarnya mereka terus bergerak tiada henti tentu saja di pagi hari tatkala sang mentari muncul sampai pada ia tenggelam di petang hari, benda angkasa yang terus bergerak itu tak akan tampak dari permukaan bumi.

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 1:10 PM

Jaman terbalik Jayabaya versus Indonesia Mercusuar Dunia Soekarno

Jaman terbalik Jayabaya versus Indonesia Mercusuar Dunia Soekarno

mbah Subowo bin Sukaris

Pada 2013 ini "wolak-walik ing jaman" dalam konteks sebuah negara Nusantara ramalan raja Kediri Jayabaya tidak lagi "sudah semakin dekat", akan tetapi saat ini kita tengah memasuki "walik ing jaman" alias "jaman serba terbalik". Dalam kehidupan bernegara khususnya di seantero Nusantara ini dapat ditafsirkan secara bebas bahwa tiap negara yang berdiri tegak pada akhirnya akan jatuh, runtuh, dan hancur. Serbuan Sriwijaya terhadap Medang pada 1007 telah melahirkan kerajaan Kahuripan Erlangga. Demikian pula sejarah mencatat serbuan Arok terhadap Kediri pada 1222 telah melahirkan kerajaan Singosari. Jauh sebelum kedua peristiwa di atas perlu diingat serbuan Colamandala India ke Sumatera pada 1025 dalam kurun seratus tahun kemudian memaksa Jayabaya dan berikutnya Krtanegara menaklukkan wilayah Jambi guna membentengi bagian barat Nusantara. Demikian pula serbuan ke Nusantara yang dilakukan oleh balatentara 1000 kapal Tartar Kublai Khan dari bagian selatan Tiongkok telah meruntuhkan Kediri dan membangkitkan Majapahit, dan paling akhir ialah serbuan balatentara Dai Nippon ke Nusantara telah melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
      Wolak-walik ing jaman masa lalu negara-negara Nusantara memang terus menerus berlangsung sebagaimana beberapa contoh di atas ini, kini di masa modern telah berubah bentuk atau bermetamorfosa sesuai di jaman terbalik. Keruntuhan sebuah negeri di masa silam bisa terjadi  akibat serangan asing, akan tetapi metamorfosanya di jaman modern ini serbuan balatentara sebuah negeri terhadap negeri lain tidak selalu menggunakan kekuatan militer besar-besaran. Kekuatan semacam apakah itu? Sejenak kembali ke masa silam jaman negara Sriwijaya, berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Nusantara di bagian barat itu jauh lebih unggul dari bangsa Asia lainnya. Dengan sendirinya arus ilmu pengetahuan dan teknologi mengalir dari selatan (Sriwijaya) ke arah utara yakni Campa, Siam, dan Tiongkok. Itulah yang sebenarnya patut disyukuri ada suatu masa keemasan bangsa ini. Sebaliknya yang terjadi di jaman modern abad keduapuluh satu ini ilmu dan teknologi, sekaligus barang-barang produksi terus menerus mengalir ke Selatan, ke negeri jamrud khatulistiwa ini. Serbuan berbagai bentuk kekuatan ekonomi dan barang produksi konsumtif dari negeri Eropa, Amerika, negara macan-macan-singa Asia itu semakin deras sejak Orde Baru membuka keran modal asing, dan rasa-rasanya apa yang terlanjur terjadi itu kini tidak mungkin dibendung lagi oleh segenap komponen negara dan bangsa. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah sampai kapan bangsa-bangsa di Nusantara akan terus hidup di negeri tergantung? dan kapan bangsa ini mampu berdikari dalam segala bidang?
      Predikat tengah disandang NKRI sebagai negeri tergantung, bagi bangsa lain menaklukkan negeri semacam itu tidak diperlukan lagi upaya penaklukan Nusantara dengan serbuan kekuatan militer. Tanpa kekuatan militer pun atau hanya dengan kekuatan selain militer dari seluruh dunia sudah dapat menaklukkan dan membuat bertekuk lutut negara yang menyebut dirinya NKRI ini.
      Inilah masa tibanya wolak walik ing jaman Jayabaya alias kehancuran, kejatuhan, atau keruntuhan NKRI akan terjadi tanpa perlu seorang prajurit militer asing pun nongol meletuskan senjata di sini. Konon bagi yang peduli prediksi semacam itu dan lantas mereka menganggap segera harus diantisipasi dan dicari penangkalnya dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemenuhan barang konsumtif guna mampu mencukupi diri sendiri.
      NKRI sebagai mercusuar dunia cuma impian belaka tanpa mengubah NKRI yang masih menyandang label negeri tergantung ini. Negeri yang tergantung pada kekuatan modal asing sejak runtuhnya kekuasaan Soekarno ini tentu memupuskan prediksi Soekarno sendiri bahwa kelak "Indonesia bakal menjadi mercusuar dunia". Sebagai gambaran sederhana untuk melunaskan prediksi Presiden Soekarno itu agar Indonesia menjadi "mercusuar" dunia adalah menerapkan kembali ajaran Soekarno tanpa mengebiri unsur "kom" dalam konsepsi nasakom, dan unsur "sos" dalam konsepsi nasasos. Mudah bukan? Sehingga Nasakom dan Nasasos yang dikebiri tanpa buntut itu saat ini kekuatannya sama saja dengan konsepsi macan ompong alias tidak punya taring lagi.

******

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 7:29 AM

Ramalan Jayabaya, "Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Nusantara"


Ramalan Jayabaya, "Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Nusantara"

by mbah Subowo bin Sukaris

Dalam rangka merebut kekuasaan dengan kudeta merangkak sejak 1 Oktober 1965 rejim Orde Baru telah melakukan kejahatan kemanusiaan skala besar terhadap para pengikut Sukarno, kejahatan kemanusiaan yang lebih parah dilakukan oleh Orde Baru terhadap anggota/simpatisan Partai Komunis Indonesia. 
      Hingga 2013 ini para epigon atau penggembira doktrin anti-komunis pro-Amerika tetap berkukuh dengan sikap sangat setuju terhadap tindakan yang telah dilakukan rejim Suharto 1965-1966 yang melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap Sukarnois dan orang komunis. Para loyalis orde baru dan pemboncengnya mati-matian membela langkah Jenderal Suharto pada 1965-1969 sebagai tindakan yang patut dibenarkan dan dihargai sebagai sosok pahlawan.
      Sebagai gambaran waktu itu ribuan pejabat dan pendukung pemerintahan Sukarno telah dipecat dengan tidak hormat, dan selanjutnya dijebloskan ke dalam penjara. Paralel dengan apa yang menimpa para pendukung Sukarno adalah yang terjadi pada anggota/simpatisan Partai Komunis Indonesia. Jenderal Suharto dengan modal sebuah surat sakti "Supersemar" yang didapatkan secara misterius dari Presiden Sukarno pada 11 Maret 1966 selanjutnya pada keesokan harinya mengumumkan pembubaran Partai Komunis Indonesia. Tindakan itu telah melampaui batas wewenang yang diberikan oleh Sukarno sehingga Presiden Republik Indonesia itu menegor sang pengemban Supersemar. Sang Pengemban bersikap cuek-bebek terhadap panglima tertinggi angkatan perang RI. Berdasarkan hukum militer maka melanggar perintah atasan hadianya adalah, "Ia patut dihukum tembak sampai mati."
      Pada 1969 ribuan anggota/simpatisan Partai Komunis Indonesia dan ribuan pejabat/pendukung pemerintah Sukarno dijebloskan ke dalam penjara di seluruh Pulau Jawa, Pulau Nusakambangan, dan Pulau Buru. Proses hukum yang dilaksanakan rejim Orde Baru sebagai itu adalah tidak sah. Mereka semua dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan. 
      Sekali lagi para epigon anti-komunis bersorak dan mendukung proses hukum sebagaimana diterangkan di atas yang menimpa Sukarnois dan anggota partai komunis Indonesia. 
      Kekejaman yang dilakukan orang Jawa/Nusantara itu menyentak seluruh dunia. Bangsa Indonesia yang terkenal lemah gemulai, bangsa yang terkenal karena murah senyum, ternyata juga bisa meledak sehingga berubah menjadi bangsa psikopat yang kejam luar biasa. 
      Masih banyak lagi daftar kejahatan kemanusian yang terjadi semasa Orde Baru antara lain peristiwa Priok, Lampung, Aceh, Papua, Trisakti, Petrus, Penculikan Aktivis, dan seterusnya.
      Sejak tumbangnya pemerintahan Suharto, maka kejahatan kemanusiaan terhadap rakyat Indonesia bermetamorfosa atau berubah menjadi kejahatan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh oknum partai, oknum pejabat sipil dan militer yang telah merugikan keuangan negara. Untuk memberantas korupsi secara menyeluruh adalah hal mustahil, karena memang itu adalah bagian dari kehidupan di jaman edan yakni jaman terbalik-balik. Tidak seorang pun mampu membalikkan jaman yang demikian sampai masanya berakhir dengan sendirinya.
      Kejahatan terhadap kemanusiaan cq rakyat Indonesia itu sudah diramalkan oleh Sri Aji Joyoboyo raja Kediri dari abad keduabelas masehi sebagai perilaku penghisapan manusia oleh manusia di masa depan  Berikut ini bait-baik yang menggambarkan "perikemanusiaan" di masa depan, sebagai berikut:

Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit
Prikamanungsan saya ilang
Prikamanungsan di-iles-iles

Tindake manungsa saya kuciwa
Manungsa padha seneng nyalah
Akeh manungsa lali asale
Lali kamanungsan

      Sebagian besar manusia ingin berkuasa, yang mengejar jabatan, tengah menduduki jabatan, semuanya saja pada ujung-ujungnya hanya mengutamakan bagaimana mendapatkan uang sebanyak mungkin. 
       Karena begitu banyaknya orang yang berlomba-lomba mengumpulkan uang dengan memanfaatkan kekuasaan/jabatannya mereka rela mengorbankan hak asasi manusia, siapapun, demi meraih kekuasaan. Tidak ada lagi perikemanusiaan di hati mereka, karena hati dan pikiran mereka tertutup takhta kekuasaan dan lembaran rupiah. 
      Di jaman yang serba terbalik ini perikemanusiaan tidak lagi mendapatkan tempat yang semestinya, perikemanusiaan diinjak-injak demi mendapatkan harta dan takhta/kekuasaan.
       Ulah dari para pemimpin yang melakukan berbagai kejahatan terhadap rakyat/negara sangat mengecewakan sekali, oleh sebab tindakan mereka itu tidak lagi dapat dijadikan suri tauladan. 
      Kelak juga di jaman yang serba mengutamakan uang dan kekuasaan itu maka banyak manusia yang tidak berjiwa ksatria, mereka selalu melemparkan kesalahan dirinya pada orang lain. Mereka/dia berusaha merekayasa pengalihan isu agar diri/kelompoknya selamat dari tudingan terus-menerus dari khalayak ramai/publik. 
      Di jaman serba uang itu juga manusia telah lupa jatidiri/ asalnya -- darimana dia datang, berada di mana sekarang, dan kelak akan hendak menuju ke mana. Mereka juga telah melupakan jati dirinya sebagai umat manusia yang sebenarnya adalah makhluk hidup paling mulia di alam semesta.

*****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 10:04 AM

Pramoedya: Jangka Jayabaya karya inteligen perang Asia Timur Raya atau Dai Tooa no Senso


Anugerah Fukuoka 
Sambutan Pramoedya Ananta Toer,
pemenang utama Fukuoka Asian Gultural Prize 2000

Yang terhormat perwakilan Fukuoka,
Yang terhormat staf Pusat Kebudayaan Jepang,
Yang terhormat seluruh dan semua hadirin,
Yang terhormat wakil penerbit Hasta Mitra.

Hari ini adalah haribesar yang ke sekian kalinya bagi saya pribadi sehubungan dengan pengumuman resmi dan terbuka tentang dianugerahkannya Grand Prize Fukuoka di bidang sastra kepada saya.
Terimakasih pada Dewan Juri Anugerah Fukuoka dan warga Fukuoka yang ikut menentukan pilihan tersebut.
Grand Prize di bidang sastra! Justru karena itu pada kesempatan ini saya tidak akan bicara tentang sastra. Grand Prize sastra itu sendiri sedikit‑banyak sudah menerangkan bahwa di bidang sastra sudah ada penilaian adanya titik final. Jadi pada kesempatan ini saya akan bicara soal lain, soal perjalanan hidup saya pribadi dalam hubungannya dengan Jepang.

Sudah sejak di SD saya mengenal Jepang melalui kehidupan praktis. Saya mengenal Jepang dengan laku‑perbuatan yang mengalahkan armada Rusia pada 1904, yang berakibat di Hindia Jepang diakui sederajat dengan orang Eropa, dan pada gilirannya membangkitkan nasionalisme Tiongkok. Kelanjutannya lagi: kebangkitan nasionalisme Indonesia.
Sebaliknya juga sesudah sejak di sekolah dasar kami biasa mendengar ejekan tentang Jepang: tidak ada originalitas, bangsa penjiplak Barat. Dan apa nyatanya? Waktu tahun 30an dunia dilanda krisis, malaise, kata orang waktu itu, atau jaman meleset, ­orang-orang pergerakan menamainya, Jepang justru mengeksport ke Indonesia bahan pakaian yang terjangkau oleh lapisan rakyat bawah: 71/2  sen per elo, sedang bahan tekstil import dari Eropa, terutama Belanda: 23 sen per elo.
Kebangkitan Jepang di bidang industri dengan mendasarkan pada kerajinan rumahtangga, dengan hasil gemilang telah menarik perhatian para tokoh pergerakan Indonesia. E.F.E. Douwes Dekker, bapak kepartaian Indonesia memerlukan berkunjung ke Jepang dan menyebarkan bahasa Jepang melalui Ksatrian Instituut di Bandung. Juga Drs. M. Hatta yang di Jepang malah mendapatkan gelar “Gandhi of Java”. Tokoh besar gerakan sosial, Dr. Soetomo, di Jepang benar‑benar terpukau oleh kemajuan, yang dalam kesederhanaannya mampu menandingi Barat di bidang apapun, sehingga ia terbitkan rekaman kunjungannya ke Jepang.
Juga sejak di SD sudah saya ketahui adanya sassus ramalan Jayabaya, bahwa penjajahan Belanda akan dihalau oleh cebol (dibandingkan dengan postur orang Barat) berkulit kuning bermata sipit, dan sassus itu tanpa memberi kemungkinan lain langsung menunjuk Jepang. Suatu keberuntungan bahwa semasa di SD itu saya mendapat kesempatan membaca sendiri kitab Jangka Jayabaya dalam bahasa Jawa, bahasa Jawa baru, yang tidak menggunakan bahasa Jawa kuno sepatah kata pun. Padahal dalam matapelajaran sejarah diterangkan bahwa Jayabaya, Raja Panjalu, memerintah dari tahun 1057‑1079 Saka atau 1135‑1157 Masehi. Didorong oleh harapan adanya pergantian kekuasaan, orang cenderung mempercayai ramalan tersebut. Apalagi menurut ramalan tersebut penguasa baru dari utara itu hanya seumur jagung atau tiga setengah bulan memerintah.
Memasuki usia dewasa sekali lagi saya mendapat keberuntungan membaca karya India tentang pembagian jaman dan ciri‑cirinya. Nampaknya Jangka Jayabaya merupakan adaptasi belaka dari pikiran India ini. Dan mengapa dipergunakan nama Jayabaya? Jawahannya mudah: Ia adalah raja dalam sejarah Jawa yang terutama masyhur karena memerintahkan suatu kelompok penyair untuk menyusun kakawin (syair) Bharatayudha, sedang penyelesaiannya dilakukan oleh Mpu Sedah. Dalam sastra Jawa Bharatayudha, kisah perang terakhir dan terbesar antara Pandawa dan Kurawa, terutama sebagai epos pewayangan.
Ternyata ramalan seumur jagung kekuasaan Jepang bukan tiga setengah bulan tetapi tiga setengah tahun. Ramalan tentang terhalaunya kekuasaan Belanda oleh Jepang dalam buku Jangka Jayabaya ini kemudian saya anggap sebagai karya inteligen dalam membantu mempersiapkan perang Asia Timur Raya atau Dai Tooa no Senso. Hanya suatu anggapan lho!
Tanpa disadari dunia pergerakan Indonesia yang sudah jenuh dengan penjajahan Barat/Belanda, mulai memperhatikan Jepang, apalagi setelah Jepang membuka tangannya menerima para pelajar Indonesia. Dengan pecahnya Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya suasana politik di Indonesia berubah cepat. Orang melihat Jepang sebagai kekuatan baru yang bakal menghalau penjajahan Barat dari bumi Indonesia. Dan itu bukanlah tinggal jadi fantasi. Dengan perbuatan nyata Jepang memang menghalau penjajahan Barat dari Asia Tenggara. Sebagian politisi meragukan kekuasaan Jepang akan lebih baik daripada Barat. Dalam pembuangannya di Banda Neira Hatta memberi pernyataan, lebih baik mati berdiri daripada di bawah Jepang. Sjahrir dalam pembuangan yang sama juga mengeluarkan pernyataan senada itu. Juga Bung Karno dalam pernyataannya di pembuangan di Bengkulu. Hatta dan Sjahrir kontan dibebaskan dari Banda Neira dan dipindahkan ke Sukabumi, Jawa. Dan Bung Karno? Kalau dia tidak, sergah Pemerintah Agung Hindia Belanda atau Raad van Indië. Jadi balatentara Jepang yang menyerbu Sumatra, yang membebaskan Bung Karno dari pembuangannya di Bengkulu, dan membawanya ke Jawa.
Sampai sekarang belum diketahui perjanjian kerja sama antara Bung Karno dengan pemerintah pendudukan Jepang, sedang kita tahu sebelum invasi Jepang Bung Karno juga anti militeris‑fasis Jepang. Namun dari kenyataan yang hidup dapat diketahui, kerjasama itu dipergunakan oleh Bung Karno untuk melancarkan pendidikan politik anti‑imperialisme Barat pada rakyat Indonesia. Dan tanpa menyebut sumbernya ia kutip ramalan masyhur itu: bahwa di mana matarantai imperialisme internasional itu putus, di sanalah negeri jajahan itu bisa merdeka.
Memang banyak kerusakan akibat pendudukan militer Jepang, karena semua negeri yang didudukinya diharuskan ikut membiayai perangnya. Setiap ada rapat raksasa di Jakarta waktu Bung Karno memberikan pendidikan politik saya selalu hadir. Kemudian ternyata pendidikan politik itu memudahkan proses waktu matarantai imperialisme internasional putus di Indonesia, dan pekik merdeka bergema‑gema di seluruh tanahair.
Menjelang kekalahan Jepang pihak Jepang menjanjikan kemerdekaan pada Indonesia “di kelak kemudian hari” (ini kata‑kata dalam bahasa Indonesia dari pihak Jepang sendiri). Banyak kaum intelektual Indonesia angkat hidung secara sinis. Apa nyatanya kemudian? Pihak Angkatan Laut Jepang, di sini diwakili oleh Laksamana Muda Maeda yang turun tangan membuka jalan untuk terlaksananya pengucapan Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno‑Hatta.
Bukan sampai di situ saja perbuatan nyata Jepang. Tiga bulan setelah Proklamasi Kaigun, Angkatan Laut Kerajan Jepang menyerahkan persenjataan dengan langsung dan melalui pertempuran semu kepada para pemuda di Surabaya sehingga memperlancar revolusi bersenjata menghadapi imperialisme Belanda‑Inggris dengan tentara bayarannya Gurkha dan Sikh. Selama kemerdekaan nasional kita Jepang praktis selalu mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan pada saat mengalami kesulitan, terutama dalam musibah bencana alam.
Saya percaya hubungan antara Jepang dan Indonesia dapat lebih mesra dan manusiawi sesuai dengan harkat kita semua sebagai manusia.
Masih ada satu lagi tindakan nyata Jepang semasa pendudukannya di Indonesia yakni pelarangan penggunaan bahasa musuh‑musuhnya, Belanda dan Inggris. Untuk membantu menyediakan kata ganti dan semua istilah di semua bidang bahasa Inggris dan Belanda Jepang membikin Komisi Istilah yang memiliki kewibawaan dari payungan kekuasaan militer. Pada masa ini bahasa Indonesia berkembang sesuai yang diharapkan, dan hanya selama pendudukan militer Jepang. Begitu Jepang pergi bahasa Indonesia merosot kembali pada keadaan tahun 20‑an dan 30‑an, dan begitu terus sampai sekarang. Praktis saya memang ikut menghayati hubungan Jepang-Indonesia, kecuali yang berlangsung dalam kurun 30 tahun awal abad 20.

Pada kesempatan ini saya perlu menyatakan kegembiraan saya yang luarbiasa. Dan bukan tanpa alasan. Nasion dan Negara Jepang terutama untuk saya pribadi adalah sumber inspirasi yang tak kunjung kering. Laku, perbuatan, amal, yang jadi sumbernya. Karenanya Grand Prize yang akan dianugerahkan oleh Fukuoka Asian Culture Prize Committee kepada saya terasa sebagai anugerah yang pas, yang sewajarnya, seakan Jepang dan Komite Fukuoka memahami pandangan saya, literer maupun politik.
Terimakasih.
Jakarta, 18 Juli 2000

*****
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 3:09 AM

Satrio Piningit vs Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu

Satrio Piningit vs Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu


Pada abad kesebelas Sri Aji Joyoboyo meramalkan seorang pemimpin Nusantara terbijak (Ratu Adil) yang selanjutnya selama berabad ditunggu oleh rakyat yang mengharapkan mimpinya tentang kehidupan adil makmur menjadi kenyataan. Harapan munculnya sang ratu adil semakin menjadi-jadi, terutama sejak bangsa Barat memerintah wilayah Nusantara yang menyengsarakan Pribumi. Mimpi rakyat selama berabad itu akan terwujud hanya dengan hadirnya sang pemimpin atau tokoh yang disebut "Ratu Adil" yang memerintah negeri dengan adil dan bijaksana sesuai keinginan rakyat banyak. Menanggapi sosok Ratu Adil itu tidak kurang dilakukan studi oleh para sarjana totok  Belanda yang ahli mengenai pribumi Hindia-Belanda, dan mereka telah merumuskan, menganggap, dan menyimpulkan secara ilmiah bahwa "Ratu Adil" itu cuma mitos dan merupakan suatu statemen budaya yang turun-temurun yang selalu dimunculkan kembali kapan saja oleh rakyat jelata yang merasa tidak mendapatkan kemakmuran dan keadilan dari negara mereka sendiri.
       Para sarjana Belanda yang ahli mengenai masalah budaya Hindia-Belanda itu sudah seharusnya berpendapat demikian, bahwa ratu adil hanyalah mitos belaka tentu bukan tanpa alasan tersembunyi. Dan satu-satunya alasan paling kuat ialah bahwa cuma bangsa Belanda dan pemerintah Hindia-Belanda sendiri yang mutlak dan berhak menjadi atau menyandangkan gelar bagi dirinya sendiri sebagai sang Ratu Adil. Sedangkan pemimpin pribumi dengan kerajaan Pribumi tidak boleh berkesempatan lagi memiliki pemimpin dan negara sendiri sebagai "Ratu Adil" bagi rakyat Nusantara.
       Ramalan Joyoboyo mengenai sosok satria piningit atau satrio piningit yang dimaksud di sini adalah ratu adil itu sungguh luar biasa dan hanya terjadi di jaman yang luar biasa, dan rasanya itu hanya bisa terjadi puluhan atau ratusan tahun kelak di masa depan, akan tetapi bisa juga dapat terjadi dalam waktu dekat asalkan memenuhi syarat sejarahnya. Di samping itu juga dengan dasar perkembangan sejarah maka ratu adil Joyoboyo itu tidak harus berarti mengarah pada sosok seorang manusia pemimpin. Ratu Adil itu bisa saja berarti sistem pemerintahan republik Nusantara, yang memiliki hukum tertulis, dan peraturan-peraturan ketatanegaraan yang sempurna. Dan tentu saja negara Nusantara yang demikian sempurna dengan sistem pemerintahan apapun itu misalnya: sistem sosialis kerakyatan, sistem pancasila, atau sistem apapun yang akan menjadi "Ratu Adil" jika para pemimpinnya benar-benar menjalankan negara dengan benar, adil, dan bijak -- sesuai dengan niat dan tujuan pendirian negara yang termaktub dalam undang-undang dasar dan berbagai peraturan tambahannya.
       Jika Joyoboyo meramalkan Ratu Adil sebagai sebuah sistem kenegaraan di samping sosok pemimpin luar biasa di masa depan, maka Ronggowarsito sang pewaris Joyoboyo lebih jauh lagi meramalkan langsung person pemimpin Nusantara yang akan berturut-turut memimpin negara tersebut sebanyak tujuh Satrio Piningit. Enam satrio piningit telah berturut-turut memerintah, sehingga tersisa satu lagi yakni satrio piningit ketujuh "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu".
       "Satrio Piningit" Ratu Adil Joyoboyo hanya akan tampil dalam keadaan darurat "bencana besar, militer global, dan sebagainya" di Nusantara. Sedangkan Satrio piningit ketujuh Ronggowarsito "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu" dapat tampil kapan saja tanpa menunggu perubahan jaman atau keadaan darurat apapun. Siapapun yang tampil memimpin Nusantara dan sebagai "Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu" pada beberapa tahun mendatang sesuai dengan gelar yang disandangnya akan berupaya mengubah negara Nusantara yang carut-marut atau "cuma begini saja" menjadi negara "Ratu Adil" yakni benar-benar terwujud rasa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dan di samping itu juga tentu saja Satrio pinandito sinisihan wahyu tersebut seyogianya mampu bertindak tegas menghukum pihak yang merupakan sumbernya bagi yang menyengsarakan hidup rakyat termasuk merebut dominasi modal asing menjadi dominasi modal negara, dan juga menghukum mereka yang melakukan makar, tindakan subversif dengan motif ekonomi yakni mengkorup uang negara dan sebagainya yang berupa daftar panjang seterusnya. Singkatnya ialah Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu seyogianya menegakkan panji, "Asesanti Trisula Weda Joyoboyo" alias menegakkan panji, "Trisakti Bung Karno."
***


Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:03 PM

Ramalan Joyoboyo "Partai yang ingkar janji"

Ramalan Joyoboyo "Partai yang ingkar janji"

mbah subowo bin sukaris

Kesalahan fatal yang dibuat oleh golongan kiri yakni kaum sosialis, komunis, dan demokrat kerakyatan di Nusantara ialah pada masa kabinet Amir Syarifoeddin sekitar tahun 1947-48 yang mengembalikan mandat kekuasaan memimpin kabinet Parlementer pertama sejak kemerdekaan kepada Presiden Soekarno. Hal itu terjadi akibat persetujuan Renville (nama kapal perang Amerika Serikat) tidak lagi didukung oleh Partai Masjoemi. Masjoemi atau Masyumi semula mendukung Renville kemudian menentang persetujuan tersebut dan memelopori mosi tidak percaya kepada Kabinet Amir Sjarifoeddin yang berasal dari Partai Sosialis.
       Amir Sjarifoeddin sang Perdana Menteri yang merasa emosional atas sikap salah satu partai koalisi tersebut dengan emosional menyerahkan kekuasaannya tanpa pikir panjang lagi, sehingga akibatnya di kemudian hari ia menjadi kambing hitam sebagai pemimpin partai kiri/sosialis yang sangat dibenci oleh Amerika Serikat. Amir dan sepuluh pemimpin PKI dibunuh oleh penguasa yang menggantikannya. Pengganti kabinet Amir S. ialah kabinet Mohammad Hatta yang sepenuhnya antikomunis maka didukung partai Islam dan partai kecil lainnya. Kaum kiri harus disingkirkan dari kabinet Hatta dengan jalan berbagai rekayasa antara lain ReRa, dan juga menghijrahkan kekuatan kanan Siliwangi ke daerah basis Jawa Tengah dan Jawa Timur.
     Ramalan Joyoboyo mengenai ratu ora netepi janji ialah partai yang tidak menepati janji. Partai penguasa dan partai oposisi di masa orde reformasi ini memang bertindak selalu mengingkari janjinya, apapun yang diucapkan semasa kampanye ternyata selalu janjinya tidak pernah ditepati. Begitulah watak siapapun yang berhasil meraih kekuasaan, baik ia seorang aktivis militan maupun pembela rakyat tertindas lainnya jika telah masuk lingkaran kekuasaan maka ia tidak akan berani membela rakyat tertindas. Mengapa? "Itu cuma soal perut," kata Pramoedya Ananta Toer, yang juga membikin hukum sebagai berikut, "Siapapun yang sudah sukses meraih kekuasaan atau bahkan cuma menjadi aparat pemerintah, maka jangan diharapkan lagi ia akan berjuang untuk rakyat yang tertindas!" 
       Oleh karena itulah partai yang berkuasa semasa Orde Baru tidak akan pernah lagi dipercaya oleh rakyat. Karena di belakang hari, walaupun sudah merasa menjadi partai yang baru, partai yang berbeda ternyata tingkah polahnya tetap saja mengagungkan Orde Baru yang fasis dan otoriter seperti juga pemimpin partai berkuasa di belahan dunia lain: Husni Mubarak, Khadafi, Pinochet, Marcos dan seterusnya  sehingga setelah berkuasa puluhan tahun berturut-turut akhirnya digulingkan oleh rakyat, walaupun itu dibarengi dengan campur tangan negara adikuasa yang mengerahkan kekuatan militer dan intelijennya. 
        Berikut ini adalah bait Sri Aji Joyoboyo yang hingga kini dikenal sebagai nujum yang ampuh berasal dari Kerajaan Kediri yang berkuasa hampir meliputi dua pertiga wilayah Nusantara pada abad kesebelas masehi:

ratu ora netepi janji
musna kuwasa lan prabawane
akeh omah ndhuwur kuda
wong padha mangan wong
kayu gligan lan wesi hiya padha doyan
dirasa enak kaya roti bolu
yen wengi padha ora bisa turu

Suatu masa para calon pemimpin/wakil rakyat membikin janji pada rakyat sewaktu berkampanye, akan tetapi setelah terpilih menjadi pemimpin/wakil rakyat mengingkari janji. Mereka kemudian tidak dipercaya lagi oleh rakyat, maka akan kehilangan kedudukan dan juga kewibawaan. Kelak akan ada gedung pencakar langit yang pada lantai dasarnya dibuat parkir kereta tanpa kuda alias mobil. Manusia terdiri dari kelas penghisap dan kelas yang dihisap. Mereka yang berada dalam posisi penghisap sudah bisa mendapatkan keuntungan daripada usahanya mengolah besi menjadi barang mewah, dan juga kayu gelondongan menjadi barang yang bernilai tinggi/meubel. Mereka merasa menikmati keuntungan tinggi dari usaha tersebut senikmat rasa kue bolu. Akan tetapi manusia yang demikian sibuk itu selalu memikirkan bagaimana mencari keuntungan lebih banyak lagi sehingga bekerja hingga larut malam dan sulit untuk tidur.

*** 
related post
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 7:14 PM