May 21, 2012

Misteri buku Pramoedya Ananta Toer "Rumah Kaca"



Misteri buku Pramoedya Ananta Toer "Rumah Kaca"

by Subowo bin Sukaris

1988
"Bung, ada surat buat saya?" Pramoedya langsung memasuki rumah di bilangan selatan Jakarta itu. Kebetulan pintu depan rumah batu itu tidak terkunci.
      Sang tuan rumah yang berusia enampuluhan itu berubah air mukanya. Ia meletakkan suratkabar sore yang tengah dibacanya. "Duduk, bung!" sambutnya dengan ramah.
      "Ada surat untuk saya, bung?" sekali lagi ia bertanya kepada tuan rumah.
      "Oh, sebentar, bung." Tuan rumah gopoh-gapah membalik tumpukan kertas-kertas yang berada di sebuah meja kecil yang diletakkan di samping kursi lebar itu.
      "Ini, bung," sambil menyodorkan setumpuk surat dalam amplop yang masih belum dibuka. Berbagai ukuran pada tumpukan itu A4 dan ukuran lebih kecil lainnya.
      Pramoedya menggenggam surat itu dan menelitinya satu persatu alamat yang tertera pada sampul surat. Ia menumpuknya kembali ke dalam genggamannya. Wajahnya tampak agak lega, "Rumah Kaca, bung?"
      "Kejaksaan Agung sudah melarang "Rumah Kaca". Koran Kompas memuatnya besar-besar, bung."
      "Berapa oplaag yang tersisa?"
      "Hampir 75 persen belum beredar, bung."
      Pramoedya tersenyum kecut. Tuan rumah itu yang tak lain Bung Joesoef kemudian menceritakan, "Hasjim sudah mengungsikan buku-buku sisanya itu ke beberapa tempat."
      "Ke mana, bung?" Pramoedya ingin tahu.
      "Kedutaan asing, bung. Kedutaan Prancis, Belanda, dan sebagian ke rumah diplomat Australia."
      "Bung dipanggil ke Kejaksaan?" Yang dimaksud Pramoedya ialah gedung bundar yang terletak dekat Pasar Blok M.
      "Hasjim, bung. Ia sudah datang ke gedung Bundar itu. Tak ada sangsi lainnya, kecuali perintah penghentian peredaran 'Rumah Kaca'," sahut Joesoef sesekali memperbaiki letak kaca mata yang bertengger di wajahnya.

Beberapa bulan berlalu. Tahun menginjak angka 1989
      Senja hampir tiba dua jam lagi.
      "Mana surat itu, Bung?" seperti biasa Pramoedya berhasil masuk rumah di selatan Jakarta yang tidak terkunci pintunya itu.
      Kali ini tuan rumah mengajak Pramoedya berpindah tempat duduk di depan ruangan itu. Sebuah ruang tamu menghampar dengan meja rendah dan tiga buah kursi mengepung meja berbentuk bulat itu. Hampir semua perabot itu terbuat dari rotan besar, kokoh dan berukuran raja.
      Pramoedya menyulut "warning"nya. Joesoef menyulut sebatang Gudang Garam kretek merah. Asap segera saja memenuhi ruangan itu. Lima menit berlalu di meja telah teronggok dua cangkir kopi mengepul-ngepul. Pramoedya tanpa dipersilahkan membaui cangkir itu, ia tidak langsung menyedot isi cangkir. Ia tengah asyik menikmati asap tipis yang mengepul dari cangkir itu. Kebiasaan lama menikmati kopi.
      "Enak sekali, kopi bung," puji Pramoedya.
      "Ah, itu kopi Kapal Api biasa saja. Cuma yang istimewa takarannya, itu yang berbeda, bung."
      Pramoedya sejak tadi menunggu berita besar yang telah didengarnya beberapa hari terakhir.
      "Bung, ini surat yang datang dari PEN America!"
      Pramoedya tidak segera menggenggam surat yang disodorkan oleh Joesoef. Kali ini ia merobek sampul itu dan membacanya.
     Joesoef yang sejak tadi duduk di hadapannya sekilas mendapati perubahan airmuka Pramoedya berubah menjadi cerah.
      "Saya sekarang anggota PEN America, bung." Pramoedya memasukkan kembali surat itu ke dalam amplopnya.
      Joesoef sejenak tersenyum, "Selamat, Bung."
      Dengan keanggotaan itu maka Pramoedya telah menjadi manusia baru bukan lagi golongan paria di era rejim orde baru ini. Menghadapi seorang Pramoedya berarti berhadapan dengan dunia besar, dunia Barat. Soeharto akan berpikir dua kali untuk bertindak semena-mena lagi terhadap Pramoedya Ananta Toer.
      Mereka berdua berunding beberapa puluh menit di ruangan tamu itu. Di luar rumah teronggok mobil Pramoedya yang disopiri oleh seorang lelaki tua. Tampaknya kerja besar menanti di hadapan Joesoef Isak. Kali ini Pramoedya merencanakan mencetak ulang kembali buku-buku karya tahun limapuluhan, dan Joesoef diserahi segala sesuatunya mulai membikin pengantar, membuat design buku berikut cover baru, dan sebagainya.
      Pramoedya tidak pernah tahu Joesoef telah menyiapkan segala macam peralatan untuk mengerjakan proyek Pramoedya itu. Mesin-mesin setting terbaru "Apple" Mac, LaserWriter, telah dibelinya seharga puluhan ribu dollar Amerika. Dan demi menjaga kesinambungan kerja, maka Pramoedya Ananta Toer tidak perlu mengetahui keberadaan segala macam peralatan itu. Demikian pula dengan Hasjim, ia juga tidak tahu apapun mengenai apa yang telah dipersiapkan oleh Joesoef, mengapa? Peralatan itu tentu saja tidak boleh tercium oleh antek-antek orde baru, dengan demikian lebih baik tidak seorang pun pernah melihatnya.

*****


Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 11:24 AM

1 comment :

Che Susanto said...

Salut atas perjuangan Bung Joesoef dlm menyelamatkan karya-karya Pram.