Apr 3, 2012

Soekarno adalah Indonesia - Indonesia adalah Sukarno


Soekarno adalah Indonesia
Indonesia adalah Soekarno

Soebadio Sastrosatomo

Sekitar puluhan tahun yang lalu, Bung Karno mem­perkenalkan satu istilah baru. Marhaenisme. Terminologi ini diambil dari nama seorang petani kecil di daerah Priangan, yaitu desa Cigereleng, di bagian selatan dari Bandung.
Mengapa memakai nama Marhaenisme?
Bung Karno memakai nama itu setelah melalui penelitian yang lama dan mendalam, beliau menemukan bahwa proses pemiskinan rakyat Indonesia adalah akibat adanya berbagai sistem eksploitasi (penghisapan) yang dilakukan oleh berbagai sistem kekuatan pula terhadap rakyat Indonesia. Dari studinya mengenai sejarah pertumbuhan masyarakat Indonesia, Bung Karno menemukan bahwa pada masa kerajaan-kerajaan berkuasa di negara kita, sebagian besar rakyat Indonesia dieksploatir oleh sistem feodalisme. Kemudian tatkala penjajah Eropa datang ke negeri kita, maka merekalah yang melanjutkan penindasan atau pengeksploa­tasian itu. Jika raja-raja mengeksploatir rakyat Indonesia dengan sistem feodalis­me, maka kaum penjajah mengeksploatir rakyat Indonesia dengan apa yang kita kenal sebagai sistem imperialisme. Sistem imperialisme itu sendiri lahir dari tatanan kapitalisme yang sejak abad ke-16 mulai berkembang di Eropa. Begitulah hasil yang ditemukan Bung Karno tentang sebab-sebab kemiskinan rakyat Indonesia, melalui studi yang bertahun-tahun.
Sebagai lazimnya, suatu penelitian memerlukan metode analisa. Di sini Bung Karno menggunakan ilmu pengetahuan Marxisme sebagai metode analisa, yang dalam kata-kata Bung Karno disebut “pisau analisa”. Meskipun Bung Karno mempelajari Marxisme, sehingga dapat menggunakan metode itu untuk menganalisa keadaan yang ada di Indonesia, beliau bukanlah seorang komunis, sebab ilmu Marxisme sebagaimana difahami oleh Bung Karno, tidak langsung beliau terapkan di sini. Bung Karno terlebih dahulu meng­amati, mempelajari susunan masyarakat, terutama kultur Indonesia, dan membandingkan dengan susunan masyarakat serta kultur masyarakat Eropa, di mana Marxisme itu lahir. Jika di Eropa Marxisme itu melandaskan basis perjuangannya pada kaum proletar, yakni kaum buruh yang tidak memiliki modal; maka bagi Indonesia Bung Karno menjadikan rakyat Indonesia yang di­melaratkan oleh sistem imperialisme tadi sebagai basis perjuangannya. Dan mereka yang dimelaratkan oleh sistem imperialisme itu adalah orang-orang kecil.
Si Marhaen itu sendiri, seperti sering dituturkan oleh Bung Karno (juga diuraikan oleh Cindy Adam dalam buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”) adalah seorang petani kecil yang bernama Marhaen. Menurut Bung Karno, basis kekuatan perjuangan rakyat Indonesia melawan imperialisme itu, harus datang dari mereka yang dimelaratkan oleh sistem tersebut. Semua golongan dalam masyarakat Indonesia yang dimelaratkan oleh sistem imperialisme itulah yang dirumuskan Bung Karno sebagai kaum Marhaen. Jadi marhaenisme adalah isme-nya kaum Marhaen. Marhaenisme merupakan doktrin perjuangan yang menyatukan seluruh potensi rakyat Indonesia yang serba kecil itu, untuk menumbangkan tatanan kapitalisme, yang melahirkan imperialisme dan kolonialisme.
Perlu saya ulang kembali, bahwa Bung Karno meng­gunakan Marxisme hanya sebagai pisau analisa untuk membedah problematik sosial. Ajaran Marhaenisme yang diutarakan Bung Karno berbeda dengan Marxisme di Eropa yang menggunakan proletariat sebagai basis gerakannya. Dengan kata lain, Marhaenisme dilahirkan dalam suasana agraris, di mana masyarakatnya tertindas, dieksploatir oleh imperialisme, sedangkan proletariat adalah produk budaya kapitalis, di mana proses industrialisasi yang dimonopoli kaum modal mengeksploatir kaum pekerja. Tegasnya, Marxisme membela kaum pekerja yang dieksploatir oleh kaum modal (kapitalis), sedangkan Marhaenisme membela si Marhaen yang dimiskinkan akibat adanya hubungan pergaulan yang imperialistik. Oleh karena itu, jika kaum Marxis menyerukan “Hai kaum proletar bersatulah, engkau tidak akan kehilangan sesuatu apa pun kecuali rantai belenggumu!”, maka Bung Karno menyerukan “Hai seluruh rakyat Indonesia bersatulah dan berjuanglah untuk memperoleh kemerdekaan!”
Mengapa persatuan seluruh rakyat Indonesia yang dijadikan landasan utama oleh Bung Karno untuk memperjuangkan kemerdekaan?
Hal ini berdasarkan pengetahuan Bung Karno pada sejarah pergerakan bangsa Indonesia, bahwa berbagai perlawanan yang sifatnya sporadis, terpisah-pisah dan kedaerahan, selalu berhasil dipatahkan oleh Belanda. Di sini tampak bagaimana pentingnya penggunaan analisis pengetahuan modern untuk melawan imperialisme. Dalam hal ini Bung Karno berhasil melakukan dengan baik, hingga tepat jika beliau menyatakan dirinya sebagai “Penyambung Lidah Rakyat”.
Mengapa Bung Karno mampu menjadi penyambung lidah rakyat?
Kita tahu, Bung Karno selain memahami ilmu pengatahuan modern untuk menyusun kekuatan dan menggunakan kekuatan itu, maka beliau juga memahami sejarah dan sosio-kultural Indonesia. Berbeda dengan Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta yang lama bersekolah di luar negeri, yang menyebabkan pengenalan mereka terhadap sosio-kultural Indonesia agak kurang, maka Bung Karno memahami benar sosio-Kultural rakyat Indonesia. Misalnya beliau sering – dalam kampanye membangkitkan kesadaran politik rakyat – menyebut-nyebut ramalan Joyoboyo, demikian juga penguasaan dan penafsirannya dengan pasti tentang tamsil Ratu Adil. Apalagi Bung Karno juga menguasai cerita pewayangan sehingga juga memahami betul karakteristik rakyat Indonesia. Itulah sebabnya mengapa Bung Karno mengatakan supaya perjuangan kita hendaknya “memikul dan terpikul oleh natuur”, oleh alam Indonesia.
Ini berbeda dengan kaum intelektual lain, yang pada saat itu lebih cenderung menguasai ilmu pengetahuan modern (Barat) semata, sementara mereka kurang menguasai sejarah dan sosio–kultural bangsanya sendiri. Akibatnya banyak pemikiran dari kaum intelektual ini yang kurang dimengerti oleh rakyat. Hal-hal itulah yang menimbulkan kesalah-fahaman, baik dalam visi maupun dalam praktek di lapangan. Beruntunglah kita, karena pemikiran rasional Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, dalam paduan yang isi-mengisi, bersuasana ke-Indonesian yang khas. Hal itu bisa terwujud karena mereka semua adalah orang-orang yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air yang sangat mereka cintai.
Pemikiran Bung Karno yang bertolak dari ilmu penge­tahuan modern, yang berpadu dengan karakteristik Indonesia dan mewujud pada satu doktrin perjuangan, menyebabkan saya berpendapat bahwa Soekarno adalah Indonesia dan Indonesia adalah Soekarno. Sebab doktrin perjuangan yang diformulasikan Bung Karno itu mencerminkan karakteristik bangsa kita, yang memikul dan terpikul oleh natuur Indonesia.
Sebagai seorang pejuang dan pemimpin yang rasional, Bung Karno telah berhasil merumuskan satu doktrin perjuangan, yang beliau namakan Marhaenisme. Paham ini nyata mampu menyatukan segenap potensi rakyat Indonesia dalam menumbangkan imperial­isme. Pengenalannya sebagai pemimpin terhadap karakteristik Indonesia sedemikian besar, sehingga Bung Karno dapat menumbuh­kan mitos yang dipercaya oleh masyarakat bahwa “orang cebol hanya seumur jagung datang di tanah Jawa”. Orang cebol itu jelas merujuk pada kekuasaan Jepang. Di samping kepercayaan masyarakat seperti itu, Bung Karno juga melakukan studi ke depan, dan berkesimpulan, bahwa bila terjadi perang di Lautan Teduh, kekuatan Jepang tidak sebanding dengan kekuatan lawan-lawannya. Jadi mitos di kalangan orang Jawa, yang percaya bahwa Jepang hanya tahan seumur jagung, serta pandangan futuristik visioner yang menyimpulkan kekuatan Jepang tidak sebanding dengan lawannya, menyebabkan Bung Karno melakukan siasat bekerja sama dengan Jepang.
Menurut pendapat kalangan intelektual yang telah menimba pengetahuan dari Barat, mitos atau kepercayaan semacam itu tidak rasional, dan sedikitpun tidak bermanfaat bila kita mempercayai dan menggunakannya. Oleh karena itu, tatkala Bung Karno-Bung Hatta dan Sutan Sjahrir mengadakan musyawarah segera setelah Jepang menduduki Indonesia untuk menyusun siasat menghadapi Jepang, Sutan Sjahrir sebagai orang rasional berpendidikan Barat berikut beberapa pengikutnya – di antaranya saya – tidak mau bekerja sama dengan Jepang. Kami lebih setuju melakukan perlawanan terhadap Jepang sebagai penjajah dengan berjuang di bawah tanah. Berjuang di bawah tanah dengan sendirinya tidak kelihatan di permukaan dan juga tidak dikenal oleh masyarakat. Akibatnya dalam kancah perjuangan yang menentukan nasib bangsa itu, Sutan Sjahrir dan kelompoknya kurang dikenal rakyat. Sebaliknya Bung Karno dan Bung Hatta, yang memilih taktik dan siasat bekerja sama dengan Jepang bukan sekedar dikenal oleh rakyat, malah mereka diakui rakyat sebagai pimpinan. Itu adalah karena kecerdikan Bung Karno dan Bung Hatta dalam memanfaatkan segala sarana yang disediakan Jepang untuk mendidik rakyat, terutama generasi muda agar mereka memiliki kesadaran politik. Bung Karno dan Bung Hatta sanggup memanfaatkan fasilitas Jepang itu untuk menggembleng ribuan pemuda Indonesia di bidang keprajuritan, seperti antara lain dilakukan di lingkungan PETA.
Memang taktik dan siasat untuk bekerja sama dengan Jepang itu membuat pihak musuh (Barat) menganggap Bung Karno dan para pemimpin lain dalam PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) adalah boneka Jepang. Tuduhan seperti itu sebenarnya tidak seberapa hina dibanding dengan kenyataan atau keuntungan yang diperoleh bangsa Indonesia. Sebab dengan taktik dan siasat tadi, Bung Karno berhasil menyiapkan beberapa persyaratan yang sangat vital untuk menyongsong kemerdekaan. Dan memang, kenyataan membuktikan bahwa ramalan dengan tamsil “orang cebol hanya seumur jagung menguasai tanah Jawa”, menjadi peristiwa yang konkret pada tahun 1945, setelah Amerika Serikat yang tergabung dalam pasukan sekutu, menjatuhkan bom atom di Horoshima dan Nagasaki. Tidak pernah diduga, bahwa Amerika akan menjatuhkan bom atom di Jepang. Bagaimana pun, ledakan bom atom itu telah menyebabkan Kaisar Hirohoto mengeluarkan pengumuman menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Pengumuman menyerah oleh Kaisar Hirohito pada 15 Agustus 1945 yang sedemikian tiba-tiba, telah menyebabkan keterkejutan pada balatentara Jepang terutama di Indonesia.
Pihak sekutu menetapkan bahwa untuk wilayah Indonesia, pasukan Inggrislah yang akan mengurus pelaksanaan penyerahan Jepang itu. Ini membuka vacuum of power, kekosongan kekuasaan di Indonesia, karena pasukan Inggris yang terdekat dengan Indonesia berada di India atau Australia, sehingga diperlukan waktu lebih satu bulan untuk mengirimkan pasukannya itu ke wilayah Indonesia. Suasana vakum kekuasaan lebih satu bulan itu dengan amat efisien dimanfaatkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta serta para pimpinan Indonesia lainnya untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang dilangsungkan pada 17 Agustus 1945. Dalam persiapan dan pelaksanaan proklamasi itu, Bung Karno-Bung Hatta dibantu sepenuhnya oleh semua potensi yang ikut berjuang waktu itu, baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi.
Hari-hari pertama berdirinya negara Republik Indonesia, diwarnai dengan suasana dinamika perjuangan yang sangat tinggi. Berbagai aksi pemuda bermunculan di mana-mana, termasuk penghimpunan senjata dan penyusunan pasukan, dan juga penghimpunan massa. Para pemuda dengan semangat yang meluap-luap dan tidak sabar, mendesak Soekarno-Hatta secepatnya mengambil alih kekuasaan dari Jepang. Salah satu inisiatif pemuda ketika itu adalah rapat raksasa 19 September 1945 di lapangan Ikada-Gambir (lapangan Monas sekarang) yang dimaksudkan sebagai manifestasi eksistensi Republik Indonesia yang baru berdiri guna mempercepat pengalihan kekuasaan.
Ternyata Bung Karno mampu menyalurkan semangat pemuda tanpa harus menimbulkan konflik yang tidak perlu dengan Jepang. Beliau datang dan tampil berpidato di lapangan Ikada, di depan ratusan ribu massa yang se­mangatnya nyaris tak terkendali. Bung Karno minta supaya rakyat mendukung dan taat kepada pemerintah Republik Indonesia yang baru terbentuk itu. Dan sebagai konsekwensi untuk mentaati pemerintah, Bung Karno menyuruh massa dengan tenang kembali ke rumah masing-masing. Hanya beberapa kalimat yang diucapkan oleh Bung Karno, pidato tidak lebih dari 5 menit, tetapi nyatanya rakyat puas mematuhi perintah Bung Karno yang pada saat itu pertama kali tampil di depan umum dalam kedudukannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Namun kebijaksanaan Bung Karno untuk menghindarkan konflik dengan tentara Jepang yang masih menguasai senjata, mengundang prasangka dari kalangan generasi muda. Ada yang menuduh Bung Karno tidak revolusioner menghadapi Jepang, namun belakangan baru kita sadar, bahwa pendapat Bung Karno benar bahwa pasukan Jepang yang sudah kalah perang tidak perlu dihadapi dengan aksi kekerasan. Pasukan itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena semangatnya sudah loyo. Sikap dan kebijaksanaan Bung Karno seperti itulah yang mampu menuntun perjuangan Indonesia ke masa selanjutnya.
Pada bulan-bulan pertama kemerdekaan, situasi semakin menyulitkan posisi Bung Karno. Pada bulan Oktober 1945 pasukan Inggris mendarat di Jakarta dan Surabaya, diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Pasukan-pasukan Inggris sebagai pasukan sekutu resminya tidak campur-tangan dengan urusan kemerdekaan Indonesia, namun karena diikuti oleh pasukan NICA, maka di sana-sini terjadi insiden. Lebih sulit lagi bagi Bung Karno, karena pasukan sekutu yang di Surabaya menimbulkan insiden sampai menyulut terjadinya peristiwa gugurnya Jendral Mallaby, peristiwa mana menyulut ledakan pertempuran besar-besaran di Surabaya. Sementara kebijaksanaan Presiden yang mengeluarkan dekrit pada tanggal 23 Agustus 1945 untuk segera membentuk Badan Keamanan Rakyat, Partai Nasional Indonesia sebagai partai negara dan Komite Nasional Indonesia, tidak berjalan baik. Apalagi pada bulan Oktober itu juga muncul Maklumat Wakil Presiden No. x yang mengajurkan berdirinya banyak partai sesuai tatanan demokrasi li–beral. Suasana seperti itu menyebabkan Sutan Sjahrir akhirnya tampil ke permukaan.
Dengan restu Bung Karno, akhirnya Sjahrir menjadi Perdana Menteri. Dengan segala kekurangan dan kele­bihannya, Sjahrir dan kelompok intelektual lainnya mem­bantu Bung Karno berjuang mengisi kemerdekaan yang telah sama-sama kita raih. Tampilnya Sjahrir dan kelompok intelektual lainnya membantu Bung Karno berjuang mengisi kemerdekaan yang telah sama-sama kita raih. Tampilnya Sjahrir dan kelompok intelektual yang dianggap cukup dekat dengan Barat, sudah barang tentu mengubah pandangan orang-orang Eropa dan Amerika terhadap Indonesia. Oleh karena itu perjuangan kemerdekaan Indonesia pun mendapatkan support atau paling tidak dukungan spirit dari negara-negara Barat.
Suasana di Jakarta semakin panas, ketika Belanda dan antek-anteknya memberikan uang kepada beberapa orang pembunuh-bayaran untuk membunuh Bung Karno. Setelah lebih dahulu menteror dengan berbagai mana cara, akhirnya pada penghujung bulan Januari 1946 Bung Karno dan Bung Hatta beserta keluarganya hijrah ke Yogyakarta untuk menghindari bencana yang tidak perlu. Dan bersamaan dengan itu pula diumumkan ibukota Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, sehingga semua kementerian RI juga pindah ke ibukota yang baru itu. Sejak itu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia diteruskan dari ibukota revolusi ini.
Ternyata perjuangan bangsa Indonesia masih menempuh perjalanan yang panjang. Munculnya banyak partai dalam tatanan demokrasi li­beral, menimbulkan suasana gontok-gontokan di antara kita. Padahal di hadapan hidung nyata-nyata ada pasukan Belanda yang menjadi musuh bersama. Selanjutnya pada saat bersamaan pula di sana-sini muncul berbagai aksi-aksi politik yang sudah bersifat pemberontak terhadap pemerintah dan negara. Maka secara logika saja, dalam keadaan seperti itu mustahil Republik Indonesia yang baru berdiri menjalankan tugas pembangunan untuk mengisi kemerdekaan.
Sekarang setelah lebih 50 tahun berlalu, kita dapat banyak belajar dari pengalaman sejarah bangsa kita sendiri. Saya kira ucapan Bung Karno “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, pada pidato 17 Agustus 1966 adalah untuk mengingatkan kita sebagai bangsa, bahwa sejarah adalah sangat penting dan berguna; di dalamnya tersimpul hukum-hukum kehidupan. Dari sini kemudian saya menilai bahwa apa yang terjadi di Eropa Timur belakangan ini, sebenarnya sudah pernah terjadi di Indonesia, dalam satu dasawarsa lebih sesudah proklamasi.
Lalu sejauh manakah relevansinya pemikiran dan gagasan Bung Karno dalam kurun waktu sekarang ini? Saya melihat masih banyak pemikiran dan gagasan Bung Karno yang cukup relevan dalam menjawab problematik sosial yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini, seperti misalnya pemikiran mengenai tiga hal yang perlu dimiliki oleh sebuah bangsa. Yaitu : berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan”.
Hanya dengan mengetahui ilmu pengetahuan modern dan mengerti sejarah dan kebudayaan Indonesia, baru kita bisa memahami apa yang disebut Bung Karno dengan TRISAKTI itu. Tanpa memahami dan menguasai kedua faktor tersebut –- ilmu pengetahuan modern dan sejarah serta kebudayaan Indonesia -– penilaian kita atas pemikiran Bung Karno menjadi menyimpang. Jangan-jangan kita hanya menilai pemikiran dan gagasan Bung Karno itu sebagai slogan-slogan kosong yang tidak berarti apa-apa.
Tapi cobalah kita amati dan teliti, apa yang dimaksud Bung Karno dengan TRISAKTI itu! Bukankah dengan pemikiran TRISAKTI itu, kita dapat menyusun kekuatan dan pemba­ngunan bangsa, sekaligus mewujudkan character-building? Bahkan bukan itu saja, kita pun dapat bergaul di kancah dunia internasional dengan penuh harga diri dan saling menghormati kedaulatan negara masing-masing. Kita juga bisa menyusun pola kerja sama ekonomi dengan negara-negara industri besar lainnya dengan penuh kepercayaan dan saling mengun­tungkan. Tidak seperti sekarang ini, pola kerja sama ekonomi dengan negara-negara donor dirasakan sangat merugikan pihak Indonesia. Maka saya menilai pemikiran dan gagasan Bung Karno itu masih banyak yang relevan sekarang ini dan dapat memecahkan problematik sosial bangsa kita.

Bung Karno dengan Keyakinan
dan Takdirnya

Pada usia 12 tahun sewaktu saya menjadi murid HIS kelas VI tahun 1932 di Klaten, pertama kali saya melihat dan mendengarkan Bung Karno pidato dalam rapat propaganda Partindo yang dipimpin oleh Mr Soejoedi di sebuah penginapan di kota tersebut. Sebagai anak yang masih di bawah umur sebenarnya saya tidak dibolehkan masuk ruang rapat dan mendengarkannya. Oleh karena itu dengan seizin pemilik hotel saya masuk bersembunyi dalam salah satu kamar dan dari situlah saya mendengar pidato Bung Karno. Sehabis rapat, saya sempat bertemu muka dengan Bung Karno sejenak. Sejak kejadian itu, bagi saya Bung Karno merupakan seorang pendekar dan pahlawan Indonesia kedua sesudah Pangeran Diponegoro.
Untuk kedua kalinya saya bertemu muka dengan Bung Karno 10 tahun kemudian yakni di bulan Agustus 1942, sesaat setelah Bung Karno kembali dari pengasingannya di Bengkulu. Saat itu di Deurches Haus (di Jalan Merdeka Barat sekarang) untuk pertama kalinya Soekarno dan Hatta mengadakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Jakarta, termasuk pemuda dan mahasiswa.
Di depan masyarakat banyak ini, Soekarno dan Hatta secara demonstratif bergandengan tangan dan Soekarno berbicara atas nama kedua pemimpin. Soekarno menyatakan “kalau dulu ada perbedaan faham antara kedua pemimpin, maka sekarang kedua pemimpin bermufakat dan bersatu untuk memimpin perjuangan”. Pidato Bung Karno yang disudahi dengan berjabatan tangan dengan Hatta disambut dengan tepuk tangan meriah sekali oleh hadirin. Kejadian ini bagi saya sangat terkesan, sehingga menegakkan bulu roma saya.
Sesudah itu saya sebagai salah seorang pemimpin BAPERPI yang diketuai saudara Soepomo sering berkunjung ke rumah Bung Karno yang pada waktu itu bersama Ibu Inggit tinggal di Jalan Diponegoro 13. Saya mulai mengenal Soekarno sebagai manusia biasa, sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga. Soekarno adalah seorang yang ramah, penuh perhatian terhadap lawan bicaranya sekaligus menawan.
Dengan kerja-samanya Soekarno-Hatta dengan Jepang, seluruh pergerakan kebangsaan waktu itu boleh dikatakan bekerja-sama juga dengan Jepang termasuk kami pemuda dan mahasiswa. Kerjasama ini terutama ditujukan kepada usaha memenangkan pihak Jepang dalam perang Pasifik. Kerjasama ini secara fisik antara lain dilakukan Soekarno langsung dengan memimpin kerja bakti (kinrohoshi) membuat lapangan terbang Curug Serpong, suatu pekerjaan kuli batu. Semua yang ikut kerja bakti, tidur dalam bedeng-bedeng dengan makan nasi merah bersama ikan asin yang lebih berupa terasi.
Dalam pada itu di masyarakat, tindak-tanduk militer Jepang, terutama prajurit-prajuritnya memperlakukan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang lebih rendah daripada bangsa Jepang dan mereka menuntut dihormati secara berlebihan dari siapapun juga bangsa Indonesia.
Perlakuan penghinaan dan penindasan itu, pada kami pemuda dan mahasiswa menimbulkan rasa perlawanan yang makin hari makin meningkat. Dalam perlawanan ini, terutama pemuda dan mahasiswa tidak mendapatkan pembelaan dari Bung Karno, apalagi memimpin rasa perlawanan yang meningkat itu. Segala kebesaran dan kepemimpinan Bung Karno dirasakan sebagai hanya dimanfaatkan oleh Jepang, kurang dirasakan untuk membela masyarakat. Hal-hal di atas selalu kami bicarakan terbuka dan langsung dengan Bung Karno dan pada tiap kali bertemu Bung Karno menunjukkan pengertian akan hal-hal itu. Tetapi sebaliknya Bung Karno meminta kepercayaan sepe­nuhnya kepada kepemimpinannya dan kebenaran kerja samanya dengan Jepang.
Kekaguman dan kepercayaan pada pimpinan Bung Karno yang pada permulaan pendudukan Jepang tidak terbatas dan tanpa reserve, dengan kejadian – kejadian yang dialami sendiri oleh masyarakat terutama oleh mahasiswa kedokteran Ika Daigaku yang mengadakan pemogokan dan perlawanan terhadap perlakuan sewenang-wenang oleh Jepang hingga mengakibatkan ditangkapnya sejumlah pemimpin mahasiswa, telah menimbulkan kesangsian terhadap kepemimpinan Bung Karno dan kepada kebenaran kerjasama Bung Karno dengan Jepang.
Pada permulaan tahun 1944, sesudah beberapa pemimpin mahasiswa dibebaskan dari tahanan untuk seterusnya tidak diperbolehkan melanjutkan kuliahnya, antara lain Soedjatmoko, Soedarpo dan saya, kami kemudian bertiga menemui Soekarno yang telah pindah ke Pegangsaan Timur 56 yang waktu itu telah beristrikan Fatmawati. Dalam pertemuan itu kami menyatakan pada Bung Karno bahwa kami mengagumi dan menghargai Bung Karno sebagai pemimpin, tetapi kerjasama dengan Jepang tak dapat dibenarkan. Kami menunjukkan argumentasi bahwa Perang Pasifik adalah perang antara demokrasi melawan fasisme dan kami berkeyakinan bahwa pihak demokrasi pada akhirnya akan menang. Bahkan Soedjatmoko menambahkan bahwa sebagai sosialis pun dalam perang demokrasi melawan fasisme ini kita bersedia untuk bekerjasama dengan finans-kapital melawan fasisme. Bung Karno tidak menanggapi argumentasi itu, tetapi meyakinkan kami bahwa dengan kerjasama dengan Jepang itu, ia sebagai pemimpin akan membawa Indonesia ke alam merdeka. Lalu kami menanyakan kepadanya apakah hal itu berarti ia yakin bahwa Jepang akan menang? Ia mengelakkan persoalannya, bahkan ia berani bertaruh bahwa ia akan membawa Indonesia ke alam Indonesia Merdeka dalam waktu lima tahun. Sebaliknya kami menyatakan bahwa Indonesia Merdeka akan datang sebagai hasil kemenangan demokrasi lawan fasisme. Dan perlawanan terhadap Jepang adalah perjuangan untuk kemerdekaan. Pertemuan itu berlangsung dari jam 5.00 sore sampai kira-kira jam 08.00 malam. Kita berpisah dengan menyatakan bahwa kita bersama-sama menuju kepada Indonesia merdeka dengan berlainan jalan.
Kesan saya dari pembicaraan ini ialah bahwa Bung Karno sangat yakin terhadap dirinya bahkan lebih dari itu, ia merasa ditakdirkan atau ditugaskan untuk menjadi pemimpin Indonesia yang membawa Indonesia ke alam merdeka dengan tidak mesti berpegang kepada sesuatu ideologi, fahan atau ajaran dan teori-teori. Bahkan ia pernah mengatakan bangga lahir di bawah bintang Gemini, yang sifatnya bermuka dua – sifat-sifat penting sekali dalam berpolitik bagi politikus.
Keyakinan dan takdirnya ini kelihatan dalam tindak-tanduk Bung Karno selanjutnya. Keyakinan ini biasanya ia rumuskan dengan ungkapan kata-kata bahwa ia adalah “penyambung lidah rakyat”. Rumusannya ini sederhana sekali tetapi maknanya untuk Bung Karno dan untuk Bangsa Indonesia terutama dari Pulau Jawa berarti bahwa Bung Karno adalah tumpuan harapan, cita-cita kebangkitan dan kebesaran bangsa Indonesia. Apalagi sesudah pembicaraan mengenai dasar-dasar UUD yang kemudian dikenal dengan PANCASILA dalam pidatonya yang diucapkannya pada 1 Juni 1945. Pidato itu mencerminkan, menyinarkan dan menjiwai pribadi Soekarno yang sekaligus jiwa bangsa Indonesia. Keyakinan ini dengan sepenuhnya ada pada diri Bung Karno.
Soekarno mampu memanfaatkan kepercayaan ini dengan menjadi jurubicara rakyat dan bangsa Indonesia untuk membawa rakyat Indonesia menuju kebesaran dan kejayaan. Soekarno jadinya lebih berbicara kepada harapan, cita-cita tentang kebangkitan bangsa Indoensia dengan menuju kebesaran dan kejayaan, kalau perlu dengan menengok ke sejarah masa lampau pada saat bangsa Indonesia pernah besar dan jaya. Soekarno dan kebangkitan bangsa Indonesia adalah identik dan tidak bisa dipisahkan.
Kerjasama dengan Jepang ia manfaatkan betul untuk menimbulkan citra tentang dirinya sebagai kebangkitan bangsa Indonesia untuk merdeka menuju kejayaan. Siapa pun, pihak mana pun yang mau berhubungan dengan bangsa Indonesia harus berhubungan dengan Soekarno. Ini akan terbukti selanjutnya dalam perkembangan sejarah Indonesia seterusnya. Sjahrir yang zaman Jepang tidak bekerjasama dengan Jepang melainkan menyusun kekuatan demokrasi mengadakan perlawanan terhadap Jepang dan dengan begitu mempersiapkan kekuatan demokrasi untuk Indonesia Merdeka, pada waktu tiba saatnya untuk memproklamasikan kemerdekaan ia harus berhubungan dengan Soekarno-Hatta terutama Soekarno.
Demikian pula pemuda dan mahasiswa yang merasa ada kekuatan dan dukungan luas untuk melaksanakan “pernyataan kemerdekaan” dalam kenyataan harus juga berhubungan dengan Soekarno. Sjahrir tidak berhasil meyakinkan Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tidak dalam kedudukannya sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Tidak ada alasan menyatakan kemerdekaan sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia bikinan Jepang, karena Jepang sudah menyerah kepada sekutu.
Setelah mengetahui bahwa Jepang sudah menyerah, pemuda dan mahasiswa berkumpul tanggal 15 Agustus 1945 di Eykman Institut, lalu mengirim delegasi yang diketuai saudara Wikana didampingi oleh saudara Surot Kunto dan saya. Kami pergi menemui Bung Karno di Pegangsaan Timur untuk meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan sudah waktunya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sekali lagi Bung Karno tidak bersedia menyatakan proklamasi kemerdekaan. Oleh sebab itu pada malam harinya Soekarno-Hatta diculik dan dibawa pemuda ke Rengkas Dengklok. Pada akhirnya Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan berkat bantuan Laksamana Maeda dirumuskanlah teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda pada dini harinya. Kira-kira jam 10 pagi pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno membacakan proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56.
Pada bulan Oktober 1945, keadaan tidak menentu dan keamanan di Jakarta tidak terjamin sedangkan desas-desus tersiar luas bahwa atas desakan Belanda sekutu akan menangkap Soekarno-Hatta. Dalam keadaan yang serba tidak menentu itu, Mr Soebardjo berhasil membujuk Soekarno untuk membuat testamen politik yang isinya antara lain menyebutkan “apabila Soekarno-Hatta ditangkap atau dilumpuhkan oleh sekutu, maka Tan Malaka akan menggantikan Soekarno-Hatta”. Testamen politik ini kemudian atas pertimbangan Hatta diubah. (Baca: Harry Poeze, hal.216).
Menurut Hatta, Soekarno-Hatta hendaknya jangan diganti oleh satu orang melainkan oleh empat orang yang mewakili golongan pergerakan yang ada waktu itu. Yaitu : Tan Malaka, Sjahrir, Wongsonegoro dan Iwa Kusumasumantri. Dalam pada itu telah diadakan pertemuan antara Van Mook dengan Soekarno, tetapi pemerintah Belanda mendesavuirnya atau tidak membenarkan Van Mook mengadakan perundingan dengan Soekarno.
Setelah Sjahrir mendengar dari Hatta tentang testamen politik ini, maka pada rapat Badan Pekerja KNIP tanggal 12 Nopember 1945 dengan tidak menyebut-nyebut testament tersebut, dibicarakan soal pimpinan negara. Rapat BK-KNIP memutuskan tetap mempertahankan Soekarno sebagai Presiden dan Hatta sebagai Wakil Presiden RI. Rapat mengusulkan diadakan “Kabinet Parlementer” yang bertanggung jawab kepada KNIP. Sjahrir diusulkan sebagai formatur kabinet sekaligus menjadi Perdana Menterinya. Usul ini diterima oleh Soekarno-Hatta, maka terbentuklah Kabinet Sjahrir pertama. Terbentuknya Kabinet Sjahrir adalah untuk mempertahankan Soekarno-Hatta dan mengadakan perundingan dengan Belanda oleh Kabinet Sjahrir. Dengan pindahnya Soekarno-Hatta ke Yogyakarta, maka persoalan di sekitar testaman politik dengan sendirinya selesai, tidak ada lagi testamen yang mencadangkan penggantian kepemimpinan Soekarno-Hatta.
Maka jelaslah bahwa Indonesia merdeka dan Republik Indonesia tidak akan ada jika Presidennya bukan Soekarno. Dengan ini sekali lgi dibuktikan bahwa Soekarno adalah identik dengan bangsa Indonesia dan Republik Indonesia.
Sebelum rapat pleno KNIP di Malang bulan Maret 1947, Presiden Soekarno memperluas susunan KNIP yang ditentang oleh BP KNIP. Dalam pidato Hatta atas nama Soekarno-Hatta, KNIP dipersilakan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang memperluas keanggotaan KNIP. Akhirnya KNIP menerima perluasan tersebut dan dengan begitu KNIP tetap menerima kepemimpinan Soekarno-Hatta. Rapat KNIP ini pun membenarkan kebijaksanaan Kabinet Sjahrir dan membenarkan “Perjanjian Linggajati”.
Kepemimpinan Soekarno-Hatta ini digoyangkan oleh adanya proklamasi Republik Sovyet di Madium September 1948 di bawah pimpinan Muso. Soekarno dalam pidatonya kepada rakyat dan angkatan Perang RI menawarkan pilihan “pilih Soekarno-Hatta atau Muso”. Ternyata bangsa Indonesia tetap memilih Soekarno-Hatta.
Sesudah Aksi Militer Belanda ke-II, Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan ke Bangka dan Republik Indoemsia dipimpin oleh Pemerintah Darurat RI yang diketuai oleh Syafruddin Prawiranegara di Sumatra. Sesudahnya ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang me­mu­tus­kan penghentian peperangan dan dimulainya lagi perundingan antara Belanda dan Indonesia, ternyata Komisi Tiga Negara tidak menghubungi PDRI melainkan langsung menghubungi Soekarno-Hatta. Selanjutnya Soekarno-Hatta menunjuk Mr. Moh. Roem untuk mengadakan perundingan dengan pihak Belanda. Oleh karena itu “Pernyataan Roem-Royen” adalah suatu pernyataan pemerintah Soekarno-Hatta, bukan pernyataan PDRI.
Dengan diterimanya KMB, maka terbentuklah Republik Indonesia Serikat. Pada tanggal 16 Desember 1949 Soekarno dipilih menjadi Presiden RIS oleh negara-negara bagian RIS.
Melalui segala pergolakan antara 1950 sampai 1959, antara lain peristiwa 17 Oktober 1952, pengunduran diri Hatta sebagai Wakil Presiden, adanya PRRI-Permesta awal tahun 1958, adanya Konsepsi Presiden, dibubarkannya Konstituante dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali pada UUD 1945, Soekarno mengukuhkan dirinya sebagai Kepala Negara, kepala pemerintahan, Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, sejalan dengan pandangan dan keyakinan bahwa ia ditakdirkan dan terpanggil untuk itu.
Dari perjalanan sejauh itu jelas bahwa takdir dan mission inilah yang jadi pegangan utama bagi Soekarno. Segala ideologi, ajaran, faham, teori dikalahkan dan ditundukkan oleh takdir dan mission Soekarno.

Pusat Dokumentasi Politik “Guntur 49”
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 11:34 AM

No comments: