Oct 15, 2011

Revolusi Agustus 1945 vs Negara Madiun

Revolusi Agustus 1945 vs Negara Madiun

Soemarsono

Saya senang sekali ketika menginjakkan kaki di Eropa dan selama beberapa minggu berada di tengah saudara-saudara. Bukan karena melihat pemandangan baru di Eropa yang baru pertama kali saya kunjungi, tetapi karena jumpa kawan-kawan dan para sahabat. Terasa sekali kata-kata Bung Karno yang cukup sering didengungkan “dudu sanak dudu kadang, yen mati aku melu kelangan”  -– bukan saudara bukan keluarga, bila mati aku ikut kehilangan.
     Kita ini tidak ada hubungan darah apa pun, tetapi hangat rasanya bisa bertemu dan bertatap muka. Seperti ucapan Bung Karno yang lain lagi, benar sekali kita ini brother in arms, kawan seperjuang­an, senasib sepenanggungan. Saudara-saudara sekarang di Eropa, saya di Indonesia, kemudian di Sydney. Yang kita tanggung, yang kita pikul dalam hidup ini rasanya serba senasib. Kerinduan yang dirasakan saudara-saudara di Eropa, juga sama seperti rasa rindu yang ada pada saya. Itulah kehangatan yang saya rasakan. Saya bersyukur sekali bisa bertemu saudara-saudara, dan berterima-kasih kepada kawan-kawan yang mengusahakan saya untuk bisa datang ke Eropa.
      Dalam sistem pendidikan di Hindia Belanda dulu, sudah sejak kecil terus dipompakan supaya kita mengenal nama-nama tempat di Belanda dan harus hafal di luar kepala bukan saja nama kota-kota sekecil-kecilnya, tetapi sampai-sampai pada grachten atau kanal-kanal yang mengalir di dalam kota Amsterdam. Belum pernah melihat, tapi kita sudah harus hafal nama kota dan propinsi, seperti kota Haarlem dan propinsi Limburg. Ada memang yang saya sudah tidak ingat lagi, tetapi s’Hertogenbosch, Den Bosch, sekalipun sudah lebih tujuhpuluh tahun lewat saya masih hafal. Namun bukan karena teringat lagi pada pelajaran di sekolah semasa kanak-kanak – yang menghangatkan saya adalah manusianya, bukan juga manusia Eropa, tapi karena saudara-saudara. Saya sangat merasakan hidup senasib, seiring-sejalan bersama saudara-saudara. Sekarang kita tanggung nasib yang sama, iya beban hidup, iya perasaan, semua serba sama.
     Umur saya waktu perjalanan di Eropa sudah delapan puluh satu tahun. Saya mulai menginjak kehidupan, dalam pengertian turut dalam kehidupan masyarakat, sejak saya ikut dalam pergerakan dalam usia delapanbelas tahun. Jadi sejak ikut gerakan pemuda, bagi kami yang bergerak ilegal memang berlaku ketentuan, tidak menonjolkan diri dan tidak membuat catatan yang bisa jatuh ke tangan penguasa kolonial atau fasis Jepang. Oleh karena itu kami harus melatih ingatan dan tidak boleh lupa hal-hal yang menyang­kut urusan perjuangan. Dipandang dari segi pendokumentasian, cara kerja seperti itu ada kelemahannya. Jadi kalau misalnya teman-teman lain mau berfoto bersama, seperti yang dikerjakan oleh fotograf sdr. Mendur dari Ipphos di Surabaya pada tahun-tahun 1945-an, kami yang ilegal harus menghindar. Waktu itu saya sudah berada dalam grupnya Widarta, sepenuhnya ilegal. Yang penting pada waktu itu status keanggotaan saya jangan sampai terekspos, terutama oleh Nefis –- badan intelijen Belanda pada zaman kolonial dulu atau yang sejenis. Dengan tidak menonjolkan diri kita bisa tahan lama berjuang. Bagi orang yang bergerak ilegal, ya gerakannya saja yang penting. Bukan cari popularitas. Berbeda dengan Soetomo yang dikenal dengan nama Bung Tomo. Sedangkan saya malah menghindar kalau difoto-foto atau jangan dipublikasi di koran, karena itu yah sampai sekarang tidak ada foto-fotonya, hitam di atas putih.
     Tapi sekarang keadaan saya sudah lain lagi. Pengalaman saya selama aktif dalam perjuangan itu akan baik sekali kalau diketahui oleh generasi muda. Pengalaman sejarah yang dianggap baik bisa dijadikan teladan dan yang negatif bisa dijadikan pelajaran yang berguna agar tidak perlu diulang. Oleh karena itu, sekarang kalau ada kesempatan ngomong saya ya ngomong saja. Sebab pikir saya, saya juga akan mati. Tinggal berapa lama lagi umur saya ini? Jadi saya manfaatkan kalau ada kesempatan ngomong. Kalau ketemu siapa saja saya tidak ragu lagi. Ya kalau umpamanya saya ditahan lagi, kalau tokh musti saya ditangkap lagi, ya itu sudah risiko. Wong waktu muda saya berani, apalagi sudah tua mendekati akhir hidup saya, buat apa kok takut-takut. Pikir saya begitu. Jadi kalau ada yang membuka masalah perjuangan zaman dulu, saya senang. Seperti dalam suratkabar Inggris kan ada rubrik “now it can be told” –- nah sekarang sudah waktunya bisa diceritakan, dulu dibungkam.

Sepanjang kehidupan ini, yang saya alami dan rasakan adalah penderitaan. Saya teringat kepada pandangan Siddharta Gautama, pendakwah atau penyebar kepercayaan Buddha, yang mengatakan bahwa “hidup ini derita”. Jadi menurut pengertian saya, penderitaan yang saya rasakan ini memang itulah hidup. Saya benar-benar tidak bisa merasakan kehidupan di luar ini, yang menurut bait pada salah satu nyanyian Jawa berbunyi... semua sudah kita lewati, tinggal mukti dan mati.... Mukti itu artinya happy. Saya belum pernah merasakan happy seperti yang dirasakan orang-orang pada umumnya. Sebab, happy itu ada syaratnya, yaitu mesti mempunyai property, mesti kecukupan hidupnya. Hidup saya itu keluar masuk penjara, tidak pernah menetap, hidup mobil. Tapi meskipun begitu saya tetap gembira, karena penderitaan itu saya kaitkan dengan pengorbanan untuk cita-cita yang luhur. Meminjam istilah Bung Karno, cita-cita yang luhur itu yalah bagaimana kita dengan melakukan gerakan bisa mengangkat dan membebaskan rakyat yang miskin, yang tertindas, rakyat Indonesia yang kita cintai, meskipun sampai detik ini perjuangan pembebasan itu masih jauh panggang dari api.
     Sampai hari ini masih ada orang-orang yang anti-komunis dan bahkan sekarang nampaknya lebih banyak lagi, karena orang-­orang seperti kita -– PKI atau bekas Tapol -– tetap tidak ada kebebasan berbicara dan bebas bekerja, tidak ada kesempatan melawan propaganda anti-komunis sehingga mereka yang berkuasa masih saja bebas merajalela mengobar-ngobarkan anti-komunis. Kenyataan seperti itu berlangsung terus selama kekuasaan Suharto 32 tahun lamanya, antara lain juga dengan menyatakan bahwa di Madiun tahun 1948 itu terjadi “Pemberontakan”. Malah disangkut-pautkan dengan Pemberontakan 1926; apalagi G30S-1965 dikatakan kita -– PKI -– yang kejam membunuhi tujuh jenderal di Lubang Buaya. Untuk satu jenderal harus ditebus dengan kematian 10.000 orang. Wah kalau untuk satu jenderal musti dibunuh 10.000 orang, jadi untuk tujuh jenderal kan mestinya cukup 70.000 orang. Tapi yang mati kok lebih dari 1,5 juta orang? Itu kan tipu-tipuan mereka yang anti-komunis saja.
     Pemerintahan dan watak kekuasaannya adalah bagian dari cultuur van de heersende klasse – kebudayaan kelas yang berkuasa. Artinya apa yang disebut betul itu harus sama seperti apa yang dibilang betul oleh pemerintah, termasuk misalnya apa yang disebut kebenaran oleh anak-anak sekolah semasa kekuasaan Suharto, lebih lagi bagi mereka yang lahir di bawah kekuasaan Suharto. Contoh lainnya seperti anak-anak saya, kalau mendengar kata PKI terus merinding, bergidik bulu kuduknya. Mula-mula takut. Belakangan mereka menganggap bapaknya ada salahnya dan istri saya juga begitu, dia mulai dari takut sampai akhirnya istri saya mengatakan: “Sudahlah Pak, PKI bikin menderita kita saja, saya sudah tua, di umur 77 tahun begini saya tidak tahan lagi menderita!” Ungkapan seperti itu akibat dari kekuasaan Suharto yang sehari-hari mengatakan bahwa “PKI itu kejam, bengis, membunuhi.” Lho, yang membunuhi itu mereka kok! Ini harus dilempengkan! Menurut hasil penyelidikan dari Fact Finding Commission  yang dibentuk pada jaman Bung Karno dulu, berdasar data resmi terbukti bahwa dari mulai tanggal 27 Desember 1965 sampai 6 Januari 1966 saja korban pembunuhan sudah berjumlah sekitar 78.000 orang. Itu cuma catatan kerja komisi selama sepuluh hari. Malah di kemudian hari akhirnya ada juga orang bilang jumlah korban yang dibunuh mencapai lebih dari 1,5 juta orang. Coba 1,5 juta orang lebih yang mereka bunuhi. Mereka sampai sekarang tidak pernah membantah ini. Jadi siapakah di sini yang membunuhi kita? Tetapi kita yang dikatakan pembunuh kejam!
     Dalam pemeriksaan di penjara Salemba yang menyangkut kekejaman seperti itu saya pernah bertanya pada interogator: “Apakah dari muka saya ini saudara mendapat kesan saya ini kejam?” Sebab saya ini tidak pernah satu kali pun menempeleng orang, tidak pernah. Orang-orang yang ditahan waktu Peristiwa Madiun itu tidak pernah saya tempeleng, sebab teorinya kita harus merangkul rakyat. Contohnya dari tentara peserta “Long March” ada 60 orang prajurit Siliwangi yang kami tahan selama 2 malam 3 hari itu. Ketika itu saya sengaja berjalan bersama mereka dan saya terus-menerus bicara: “Saudara-saudara coba lihat ini bagaimana penderitaan kita.” Anak-anak Siliwangi yang tadinya menembaki kita itu menangis dalam keadaan demikian, karena menyaksikan penderitaan begitu berat. Jadi mereka ada perasaan kemanusiaan dan melihat sendiri bahwa kita semua orang baik-baik dan banyak di antara mereka yang tadinya menjadi tahanan kita, ketika kembali ke Siliwangi, bahkan menjadi pembela kita. Nah itu politik kita terhadap tahanan, apalagi terhadap rakyat. Jadi yang dikatakan oleh penguasa yang anti-komunis mengenai kita itulah yang benar-benar namanya fitnah, pemutar-balikan. Dikatakan G30S itu kejam dan jenderal-jenderal dibunuhi, ya begitulah propaganda pemerintah dan malah mereka gunakan seluruh aparat Departemen Penerangan supaya masyarakat percaya pada apa yang dipropagandakan. Ada yang melontarkan pertanyaan waktu jaman Gus Dur jadi Presiden: “Kenapa kok Departemen Penerangan itu dibubarkan?” Gus Dur singkat dan jelas menjawab: “Karena itu ‘kan tukang propaganda tidak benar!”
      Ada lagi propaganda film G30S yang diputar setiap tahun. Bagi rakyat yang tingkat kesadaran politiknya masih kurang, lebih-lebih bagi anak-anak kita yang tidak mengerti, lugu bersih tak berdosa, mereka itu bisa percaya. Apalagi propaganda ini di sekolah dijadikan bahan ujian. Kalau umpamanya pertanyaan ujian “PKI berontak atau tidak?”. Pertanyaan itu harus dijawab: “Berontak”. Pertanyaan berikutnya: “PKI kejam atau tidak?” Jawabnya: “Kejam.” Kalau tidak menjawab seperti itu, mereka tidak lulus ujian. Itulah kebudayaan van de heersende klasse.
    Saya ingin ceriterakan, ada seorang teman menulis di internet. Dia bilang supaya mengakhiri fitnah dan pemalsuan sejarah tentang Peristiwa Madiun. Ada juga yang tidak sependapat dengan keterang­an yang saya katakan, bahwa Peristiwa Madiun itu bukan pemberontakan. Lantas dia katakan: “Para pakar sejarah menulis bahwa PKI berontak di Madiun kok disanggah –- tidak berontak.”
     Lho kalau soal Peristiwa Madiun saya ini lebih dari pakar, karena saya sendiri yang mengalami dan yang melaksanakan, juga saya ini adalah saksi hidup mengenai dan di dalam Peristiwa Madiun. Artinya saya tidak bohong, omongan saya bukan dari sumber orang lain. Seperti juga G30S itu, tidak benar kalau PKI dikatakan kejam membunuhi, walaupun ketika itu saya sendiri mengajukan kritik atas kesalahan-kesalahan tertentu Pimpinan PKI sebelum terjadi Peristiwa G30S. Tetapi G30S itu orang-orang kiri dan komunis lebih dari 1,5 juta yang dibunuhi, bagaimana kok bisa dikatakan kita yang kejam? Sampai anak-anak orang komunis mesti dibasmi, mesti di tumpes kelor istilahnya supaya jangan ada sisa-sisanya lagi. Siapa yang kejam? Yang kedengaran sampai sekarang ini kan: “PKI dan orang PKI kejam, bengis.” Ya apa sajalah, pokoknya semua yang di luar perikemanusiaan. Waduh. Misalnya dikatakan Gerwani “mencukili matanya jenderal-jenderal”. Dan fitnah seperti itu sudah berjalan bukan satu-dua tahun, puluhan tahun seperti itu.

Sekarang ini di Indonesia, banyak juga pemuda yang berteriak “Revolusi!” Kalau saya dengar seruan begitu, saya bilang pada anak saya: “Tidak usah berteriak-teriak begitu, sebab kau tidak bisa membikin revolusi. Kau bisa berbuat seperti yang dijalani Soekarno. Menyadarkan rakyat, sekali lagi menyadarkan, meyakinkan, membangkitkan kesadaran sampai rakyat itu sendiri yang bangkit. Dan seperti kata Bung Karno, dalam aksi-massa yang revolusioner mula-mula kita tanamkan revolutionaire geest, jiwa revolusioner, kemudian revolutionaire wil, sampai rakyat itu bangkit kemauan­nya untuk berrevolusi dan itulah yang akan melahirkan revolutionaire daad, tindakan revolusioner. Seperti itulah yang saya katakan di Surabaya waktu sebelum Revolusi Agustus ’45 meletus.”
     Jaman Jepang saya sudah bicara begitu, memang tidak semata-mata untuk kemerdekaan, karena situasi di jaman Jepang kita mesti pakai cover “Perang Asia Timur Raya”. Tetapi untuk bisa menang, rakyat mesti mempunyai kesadaran revolusioner, kemauan revolusioner dan bertindak revolusioner. Nah, ini sedikit mengenai jaman penjajahan Jepang. Rakyat itu mengharap-harap, menunggu-nunggu akan lahirnya “Ratu Adil”. Kecuali itu waktu jaman Jepang kita sudah mempunyai gambaran yang agak terang bagaikan terbitnya matahari di pagi hari. Kita sudah lihat langitnya mulai terang memerah, karena waktu Perang Dunia Kedua orang awam pun mudah menerka bahwa Jepang akan kalah perang. Sebab situasi Perang Dunia ke-II menjadi sangat berat bagi Jepang, ketika Hitler sudah dipukul mundur dari front timur di Uni Soviet. Gambaran akan kekalahan itu sudah kelihatan, apalagi Jepang ini menghadapi Sekutu, termasuk Uni Soviet, yang istilahnya waktu itu “negara-negara demokrasi bersatu menghadapi negara-negara yang anti-komunis, anti-Komintern”. Perang Jepang di Asia ini sudah tergambar akan kalah. Tetapi Jepang dengan kantor beri­tanya yang bernama Domei selalu mengatakan: “Jepang menang, Jepang tidak ada kalahnya.” Ah, itu dilebih-lebihkan saja, jawab kami di Surabaya.
     Umpamanya dilaporkan Jepang perang tidak ada korban, padahal jelas korban justru ada di pihak kita. Korban yang dialami romusa ini kan langsung mengenai nasib keluarganya rakyat. Nah itulah, jadi rakyat semakin tidak percaya, masak berperang tidak ada kalahnya, masak tidak ada korbannya. Itu kalau istilah jaman Golkar sekarang ini termasuk “berita pembusukan”.
     Dalam salah satu pertemuan di Jerman ada yang mengajukan pertanyaan: “Kapan Pak Soemarsono menulis otobiografi?” Saya punya kelemahan tidak bisa menulis, praktis saya tidak pernah duduk menghadapi meja tulis, karena biasa aktif ilegal.

Suatu ketika Arief Budiman pernah bertanya pada saya:
     “Kok you nggak buat buku sendiri?”
     “Ah saya nggak ada niat bikin buku, nulis memoar. Kalau ­orang nggak biasa nulis itu nggak gampang.”
     “Ah sekarang kan gampang. Banyak orang yang ditolong dibuatkan buku.”
     “Iya, lalu menyusun dan mencetak buku itu kan butuh dana juga.”
     “O gitu, gampang saja.”
     Di kemudian hari saya didatangi seorang penulis, sebenarnya teman setahanan di penjara Salemba juga. Dia kemudian dibuang ke Pulau Buru. Namanya Hersri yang waktu saya ke Belanda dia masih bermukim di sana setelah bebas dari tahanan. Suatu ketika di Jakarta dia datang ke rumah atas permintaan Arief Budiman. Rupanya Hersri diminta oleh sponsor penyandang dana –- entah siapa -– menjumpai saya. Ia boleh dikata masih muda. Ngomong-ngomong, ia cerita soal Tiongkok. Lalu saya tanggapi, bagus ceritanya. Saya bicara teori, ia mengerti juga. Saya seneng. Saya percaya, yah boleh saja saya diwawancarai. Sampai mencapai dua puluhtiga atau duapuluh empat kaset rekaman, maksudnya sebagai bahan untuk menulis buku mengenai saya. Benar juga. Buku mengenai saya terbit pada akhir September 2002, tetapi tanpa persetujuan saya. Karena saya pernah diwawancarai mestinya saya ditanyai dulu atau mendapat kesempatan baca sebelum bukunya beredar. Tapi ini tidak. Mula-mula kesan saya cuma tidak etis saja menurut kode etik penerbitan. Ternyata tidak itu saja. Setelah saya pelajari, lho isinya kok ngalor-ngidul -– ke sana ke mari -– tanpa arah kayak begini. Ngalor-ngidul itu, nggak sesuai dengan apa yang kami omongkan bersama. Ia ada pakai dokumen-dokumen waktu saya ditahan Belanda di Semarang dan di Jakarta, lalu juga komentar dari radio Nefis dari Surabaya. Barangkali supaya kelihatan otentik, hasil kerja riset. Keterlaluan.
     Setelah merenung-renung, saya tidak menyalahkan dia. Saya yang salah, saya bodoh. Karena saya terlalu percaya pada dia. Memang dalam perjuangan sering terjadi hal semacam itu, seperti misalnya apa yang menimpa Kol. A. Latief yang percaya penuh pada Suharto. Dia percaya, tapi disalahgunakan kepercayaan itu. Buku yang beredar mengenai saya itu pada kulit muka pakai gambar saya, Soemarsono. Titel bukunya “Negara Madiun?” Wah, titel itu sendiri sudah aneh kan. Wong Peristiwa Madiun itu ke mana pun dan di mana pun saya berada, saya selalu katakan itu bukan pemberontakan -– met of zonder tanda-tanya yang insinuatif itu. Kepada siapa saja, di Negeri Belanda, di Radio Hilversum, di mana saja saya bicara tentang Peristiwa Madiun, tegas saya katakan: Itu bukan pemberontakan, di Leiden saya juga ngomong begitu.

Buku yang diedit oleh teman-teman Komisi Tulisan Soemarsono di Eropa ini ("Revolusi Agustus 1945") sumbernya dari rekaman pembicaraan atau ceramah saya yang sebenarnya. Menurut tanggapan saya susunan kalimat-kalimat, pengertian dan cerita yang ditranskrip dari rekaman itu sudah sesuai sebagaimana adanya. Saya percaya kepada teman-teman itu, karena hubungan ini merupakan satu ikatan solidaritas dari teman-teman yang ingin membantu saya. Dan saya tidak merasa perlu menambahkan apa-apa lagi pada hasil kerjasama ini, karena yang tercantum dalam buku ini sudah baik. Saya juga tahu bahwa team penyusun mencatat apa adanya tanpa menambah-nambah atau menafsirkan sendiri kata-kata yang saya ceramahkan secara spontan tanpa teks tertulis.
***
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 12:13 PM

No comments :