May 22, 2011

Ramalan Ronggowarsito, Satrio Jinumput Sumela Atur






Ramalan Ronggowarsito, Satrio Jinumput Sumela Atur


Soeharto membuktikan ketidakbenaran ucapannya sendiri tatkala pada 21 Mei 1998 langsung menyerahkan tampuk kekuasaan (
lengser keprabon) kepada "anak emasnya" BJ Habibie yang notabene orang sipil, padahal setiap kali menjelang pemilihan umum yang mencapai enam kali berturut-turut menang dan ujung-ujungnya Soeharto terpilih lagi menjadi presiden selalu mengingatkan, "Dalam kehidupan bernegara kita membutuhkan Abri, tanpa Abri kita tidak dapat hidup bernegara dengan sebaik-baiknya, karena Abri memiliki organisasi yang paling sempurna dibandingkan organisasi sipil lainnya." 
       Fakta bicara lain, Habibie ternyata bisa...?
    Ronggowarsito telah meramalkan pemimpin Nusantara satrio piningit ketiga yakni "Satrio Jinumput Sumela Atur", seorang pemimpin yang diangkat langsung dalam masa transisi dalam rangka melanggengkan rejim sebelumnya. Pengangkatan BJ Habibie yang mendampingi Soeharto secara langsung dari wakil presiden menjadi Presiden RI yang baru, seolah tampak sudah konstitusional, hal itu berlangsung tatkala Soeharto berpidato resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden, dan sekaligus mengumumkan bahwa sebagai presiden ia menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden BJ Habibie.
    Secara demonstratif jelas Soeharto telah melanggar konstitusi, berdasarkan konstitusi pengunduran Soeharto sebagai seorang presiden Republik Indonesia harus melalui sidang istimewa MPR yakni dengan menyerahkan mandatnya dibarengi alasan ketidakmampuannya dalam menjalankan tugas sebagai presiden, demikian pula pengangkatan BJ Habibie sebagai pengganti Jenderal Soeharto idem tito melalui sidang istimewa MPR juga.
      Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto, Bapak Pembangunan, bukan tokoh sembarangan pada jamannya, beliau memiliki kekuasaan luarbiasa besarnya tidak hanya sekadar kekuasaan seorang presiden yang tunduk pada konstitusi, beliau bahkan bisa mengatur apa saja, dan membuat apapun menjadi dianggap konstitusional maupun inkonstitusional. Soeharto yang kekuasaannya demikian luarbiasa layaknya seorang raja, maka tak aneh Pak Harto mampu melakukan hal seperti disebutkan di atas dalam menyerahkan tampuk pimpinan negara Republik Indonesia kepada siapa saja yang dikehendakinya. 

       Krisis moneter pada Juli 1997 telah membuktikan betapa rapuhnya ekonomi Indonesia yang digembar-gemborkan akan mencapai tinggal landas dalam repelita keenam tersebut, bukannya tinggal landas melainkan "tersungkur" dan terpuruk karena ekonomi Indonesia tidak mandiri, akan tetapi tergantung pada lembaga keuangan maupun modal asing yang ditanam di dalam teritorial Indonesia, dan juga utang luar negeri yang rasanya manis terus dikucurkan sebesar-besarnya bagi pondasi ekonomi rejim Orde Baru berakibat fatal tatkala terjadi krisis ekonomi global.
      BJ Habibie yang ditarik Soeharto dari posisinya di luarnegeri yang mapan demi untuk membantunya mengerjakan proyek "mahal" dan untuk itulah diberikan hak menggunakan uang berapapun dana dan daya yang ia butuhkan, dana tersebut berkat booming minyak yang dimulai tahun tujuhpuluhan dan ditambah terus dari hasil minyak bumi di tahun selanjutnya sehingga terkumpul dalam jumlah yang semakin besar. BJ Habibie yang lulusan Jerman itu memang bertugas untuk meningkatkan pamor rejim Orde Baru dengan membangun industri strategis perakitan Pesawat Udara, senjata, reaktor nuklir dan sebagainya. Dari macam-macam industri strategis yang paling sukses konon ialah industri senjata ringan, sedangkan lainnya tetap tergantung pada subsidi, tidak mampu membukukan keuntungan finansial.
     Salah satu pekerjaan rumah yang ditinggalkan Pak Harto yang selalu mengganggu RI dalam politik luar negeri bebas aktif ialah masalah Timor Leste, Provinsi keduapuluh tujuh yang bergabung dengan NKRI sejak 1976, dengan ibukotanya Dili. BJ Habibie yang yakin dengan data-data sipil maupun intelijen bahwa kekuatan penduduk pendukung Indonesia jauh lebih besar daripada kekuatan yang mendukung kemerdekaan Timor Leste. Maka dengan yakin dan  percaya diri sekali Habibie mengumumkan diadakan referendum bagi rakyat atau penduduk yang berada dalam teritori Timor Leste. Opsi dalam referendum memilih Timor Leste tetap bergabung dengan Indonesia atau Merdeka. Habibie sangat yakin dengan prestasi kerja militer dan intelijen di wilayah jajahan Portugis itu telah sukses membikin rakyat sejahtera dalam kehidupannya. Apalagi berkat dukungan Abri yang punya kekuatan besar jutaan prajurit darat, laut, dan udara dengan segala macam perlengkapan perangnya yang mutakhir akan mampu menundukkan rakyat Timor Leste tetap dalam pangkuan ibu pertiwi.
    Timor Leste terpaksa dicaplok oleh Orde Baru bahkan didukung oleh Paman Sam, dengan satu alasan bahwa kekuatan komunis atau marxis yakni Fretilin, telah eksis dan memiliki kekuatan militer cukup baik. Tentu saja hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja kekuatan komunis bercokol sangat dekat sekali dengan perbatasan dengan wilayah Indonesia secara langsung. Maka dengan analisa phobia terhadap komunisme diperkirakan kekuatan komunis yang menyebar dari basis Timor Leste akan menginfiltrasi wilayah Indonesia.
   Referendum yang dilakukan Rakyat Timor Leste diselenggarakan dan dipantau langsung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa itu akhirnya dimenangkan oleh kekuatan prokemerdekaan. Dengan kekalahan prointegrasi maka Habibie sang pencetus ide referendum akhirnya dipersalahkan berbagai pihak, terutama mereka yang dengan segala pengorbanan menjalankan tugas negara dalam masa perjuangan untuk mengintegrasikan wilayah tersebut sejak 1976 yang silam, sehingga akhirnya Habibie yang memang telah diramalkan oleh pujangga Ronggowarsito hanya menerima kekuasaan dalam masa transisi dan demi melanggengkan rejim sebelumnya dalam kurun 1999-2000 akhirnya dilengserkan melalui keputusan dalam suatu sidang MPR. Walaupun demikian berkat jasa Habibie yang lebih banyak hidup di luarnegeri itu serta berpengalaman luas di ajang Internasional itu, maka Indonesia tidak lagi dikucilkan dalam tata pergaulan dunia dengan masalah Timor Leste. Dan bagi rakyat Timor Leste yang telah memperoleh kemerdekaannya maka jasa besar Habibie akan tercatat dalam sejarah mereka sendiri.
      Pengintegrasian Timor Leste ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia memang tidak sah. Seperti yang dikatakan oleh pujangga Nusantara modern yang termasyhur, Pramoedya Ananta Toer, "Pandangan saya mengenai Timor Leste ialah wilayah itu bukan bekas wilayah Hindia-Belanda, sehingga bagi Indonesia dengan alasan dan dalih apapun maka mengintegrasikan atau menguasai wilayah jajahan Portugis itu merupakan suatu bentuk penjajahan baru."

****

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 7:16 AM

No comments :