Sep 15, 2010

Moscow-Peking Konflik


Konflik Moscow - Peking dalam Partai Komunis Indonesia

mbah subowo bin sukaris

Benarkah D.N. Aidit berpihak pada Peking sementara ketua comite central yang lain Bung Njoto berpihak pada Moscow? Sehingga Moscow dan Peking menjadi pilihan sebagai salah satu kiblat bagi Partai Komunis Indonesia di masa 60-an.
    Di masa itu yang terjadi sebenarnya adalah Bung Njoto sedang jatuh cinta pada wartawati Rusia, sebut saja Nina. Hubungan kedua sejoli itu sangat mengganggu ketua comite central D.N. Aidit dalam menegakkan disiplin partai. Partai dengan tegas melarang pimpinan tinggi dan anggotanya beristri lebih dari satu, juga mengharamkan perceraian tanpa alasan apapun. 
    Njoto yang berpenampilan intelek itu memang seorang yang jenius, dia menguasai segala macam ilmu pengetahuan dan dapat diajak bicara mulai dari musik hingga lukisan, sampai teori marxisme yang rumit. Bahkan Njoto dikenal sebagai ghost writer bagi Bung Karno karena gaya tulisannya sangat mirip dengan Bung Karno. Sebagai penulis handal Njoto yang sering menulis pidato Bung Karno bila diminta oleh Sang Pemimpin Besar Revolusi itu.
    Perkenalan Bung Njoto dengan wartawati Rusia sejak di Moscow, Nina, yang disebut belakangan ini amat piawai berbahasa Indonesia bahkan juga mahir berbahasa Jawa ngoko dan kromo. Entah si Nina ini agen KGB atau Khong Guan Biscuit tidak pernah ketahuan, karena Rusia tidak punya tradisi membuka arsip intelijennya duapuluh lima tahun kemudian sejak peristiwa seperti yang dilakukan Amerika Serikat.
    Mudah ditebak Njoto yang luwes ini pun tertarik Nina yang istimewa itu,  Nina berpenampilan biasa saja untuk ukuran Rusia yang terkenal gudangnya gadis cantik. Begitulah kira-kira yang sedang terjadi bahkan lebih dari itu Njoto berniat menceraikan istrinya dan selanjutnya menikahi si Nina.
    D.N. Aidit pun turun tangan dan melalui pihak-pihak lain berusaha untuk membujuk Njoto agar mengurungkan niatnya itu. Sehingga akhirnya setelah berbagai cara ditempuh dan tidak mempan, maka sang ketua pun memanggil Njoto dalam sidang politbiro yang dihadiri oleh semua petinggi Partai. Njoto diberi ultimatum untuk tunduk pada disiplin partai atau dipecat sebagai anggota Partai.
    Cerita pun berkembang menjadi penuh air mata haru tatkala Njoto memutuskan tunduk pada Partai dan meninggalkan cewek Rusia itu. Dan jatuh keputusan lain sang Ketua yakni menskors Njoto  sebagai salah satu Politbiro yang terdiri dari lima orang itu, Lukman, Njoto, Oloan Hutapea, Sudisman, dan D.N. Aidit.
  Tatkala G30S meletus status Njoto bukan salah satu anggota Politbiro comite central Partai Komunis Indonesia. Njoto sedang menjalani sanksi Partai sehingga tidak terlibat apapun mengenai keputusan dan tindakan Partai yang bermuara pada G30S tersebut. 
    Njoto tewas di Jakarta dibantai oleh Angkatan Darat tanpa melalui sidang pengadilan, demikian pula dengan D.N. Aidit tewas ditembak aparat militer pada 23 November 1965 di sekitar Boyolali, Jawa Tengah, dalam masa pembersihan komunis 1965-1966.
    Itulah yang sebenarnya terjadi dan oleh awam disebut konflik Moscow-Peking, yang nyatanya cuma isu belaka dan yang benar ialah konflik cinta petinggi partai....
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 5:48 PM

No comments :