Sep 6, 2010

Max Havelaar 100 tahun


Banten 100 Tahun sejak Max Havelaar

Ir. Djoko Sri Moeljono

mbah sghriwo

Pramoedya Ananta Toer dan Ir. Djoko Sri Moeljono sama-sama musuh Orde Baru, mengalami nasib sama ditahan oleh militer dengan tuduhan terlibat pemberontakan 30 September 1965. Di masa itu semua yang pendukung Soekarno dan simpatisan PKI adalah korban yang masuk dalam daftar perburuan oleh militer angkatan darat yang menyebut dirinya Orde Baru.
    Kedua orang di atas menjalani nasib sama yakni sebagai orang tahanan politik yang dikaryakan atau dipekerjakan paksa oleh aparat militer yang sedang menjaga  dan menahannya tanpa melalui persidangan. Pramoedya Ananta Toer mengalami kerja paksa di Pulau Buru untuk membangun infrastruktur bagi sawah-sawah yang baru dicetak lahannya, sedangkan Ir DS Moeljono mengalami nasib menjadi romusha di daerah Banten, Jawa Barat, sebagai tenaga untuk membangun, dan memperbaiki jalan-jalan negara di daerah sekitar Labuan atau Malingping, dsb, di ujung sisi pantai barat pulau Jawa.
    Di dalam kamp tahanan Pramoedya menghasilkan karya-karya besar yang disebut Buru Kwartet dan beberapa judul lainnya yang sangat berbobot tinggi nilainya, sedangkan DS Moeljono yang mendapatkan gelar insinyur di  Uni Sovyet, di perguruan tinggi atau salah satu universitas di kota Moskwa menghasilkan karya tulis yakni catatan harian mengenai pengalaman langsung sebagai pesakitan yang dipekerjakan oleh tentara nasional Republik Indonesia.
    Untuk mengelabuhi aparat militer yang sangat ketat dan tidak kenal ampun itu DS Moeljono menulis buku hariannya dalam huruf Rusia dan bahasa Rusia di samping bahasa lainnya yang dikuasainya dengan baik. Hasilnya kini dapat disebut sebuah dokumen sosial yang sangat penting dan bakal dapat dibaca generasi muda Nusantara yang peduli sejarah bangsanya.
    Korupsi di kalangan militer yang mempekerjakan para Tapol memang terjadi di Banten dan Pulau Buru. Apapun bentuk korupsi itu yang jelas merugikan negara secara langsung maupun tidak langsung. Jatah tapol di Banten maupun di Buru tidak semuanya diberikan utuh akan tetapi sudah disunat oleh pihak militer, dan seterusnya.
    Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya menulis dengan teliti apa saja perbuatan militer mulai dari pangkat rendah hingga komandan kamp memperkaya diri mereka, dan korban-korban dari para tahanan yang disebabkan ulah militer di Buru. Pramoedya sendiri dipukul dengan popor senjata pada kepalanya yang mengakibatkan ia kurang dapat mendengarkan suara dengan jelas.
    DS Moeljono melengkapi Nyanyi Sunyi Pramoedya dengan 100 tahun sejak Max Havelaar, antara Max (1865) dan DS Moeljono (1965) terentang masa waktu 100 tahun sama-sama terlibat dalam peran masing-masing soal kerja paksa di daerah Banten yang satu di masa kolonial Belanda dan yang lainnya di jaman Orde Baru.
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 6:26 PM

No comments :