Aug 13, 2010

Pramoedya Ananta Toer Keluarga Gerilya

Pramoedya Ananta Toer

Keluarga Gerilya


Tangsi atau markas militer Tentara Belanda menjadi dunia tersendiri bagi anak-anak kecil dan para remaja yang kebetulan bapaknya jadi serdadu Belanda. Ibunya rata-rata Pribumi yang tidak selalu diakui sebagai anak oleh bapaknya yang Belanda totok atau peranakan. Masih untung jika anak-anak memiliki kedua orang tua dari golongan Pribumi. Walaupun terkadang malahan lebih parah lagi keadaannya karena mereka hanya hidup bersama tanpa ikatan perkawinan.
    Seorang serdadu militer Belanda yang ketika itu masa-masa revolusi fisik agaknya banyak pekerjaan bertempur menyabung nyawa. Dan bila memang sang serdadu tewas maka keluarga yang ditinggalkan di tangsi bisa kapiran. Jatah makan berupa bahan makanan bisa hilang lenyap, walaupun pada awalnya masih dicukupi oleh pihak pemerintah Belanda. Mereka sudah tidak berhak lagi tinggal di tangsi dan kalau masih suka berada di sana maka cari makan sendiri tanpa bergantung dari tangsi lagi.
    Aman bersaudara tiga atau empat adik-adik. Mereka semua adalah korban kehidupan tangsi maka hasilnya kesekian adiknya berbeda-beda bapaknya. Mengapa berbeda-beda, karena tiap kali bapaknya yang satu tewas maka sang ibu mendapat suami baru baik sah maupun tidak sah. 
    Aman sebagai anak pertama merasa lebih banyak mengalir darah Pribumi dalam tubuhnya, maka itu Aman memilih berpihak kepada Republik daripada berpihak pada Belanda. Walhasil pada suatu hari Aman pun ditangkap dan masuk penjara sebuah tangsi militer untuk menerima hukuman mati. Masa-masa revolusi kemerdekaan itu jarang sekali pengadilan mengadili para tangkapan yakni musuh-musuh Belanda. Pengadilan perang lebih praktis dijalankan, dan hukuman bagi tawanan adalah mati dan bebas bila dianggap berat dan ringan.
    Ibu Aman yang malang-melintang di tangsi sewaktu muda dan parasnya cantik itu tidak rela Aman mati di tangsi Belanda. Maka ia pun berusaha untuk membebaskan Aman dengan mengandalkan pengaruhnya di kalangan perwira militer penguasa tangsi Belanda. Akan tetapi sayang sekali kini parasnya yang dulu begitu menarik bagi lelaki itu sudah hilang dan telah termakan usia.
    Perjuangan seorang ibu yang bakal kehilangan anak yang paling disayanginya membikin otaknya berubah kurang waras. Bisa jadi ia bertingkah demikian saking terlalu banyak memikirkan anaknya yang menghadapi regu tembak senjata Belanda. Bisa jadi ia memang sedang berusaha dengan caranya sendiri. Para perwira penguasa tangsi yang dulu dikenalnya rupanya sudah meninggalkan tempat itu dan digantikan oleh perwira lain dan selalu berganti-ganti. Perang sekarang ini berbeda dengan sewaktu menaklukkan daerah-daerah yang kadang berada di luar Jawa. Sekarang ini orang Pribumi bahkan sudah menyatakan kemerdekaannya dan tentu saja tidak pernah diakui Belanda, karena Belanda menganggap segala sesuatu harus berdasarkan hukum dan tatatertib, juga untuk memedekakan diri harus melalui tahapan mengikuti hukum Belanda.
    Sebuah revolusi adalah penjebolan kekuasaan yang sah untuk digantikan penguasa baru dengan cara paksaan. Revolusi Agustus 1945 menjadi batu sandungan hubungan Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia sampai kapan pun. Dan batu sandungan itu dapat dihilangkan bila Pemerintah Kerajaan Belanda mau mengakui bahwa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Belanda masih bersikeras kemerdekaan Indonesia terjadi pada Konferensi Meja Bundar  27 Desember 1949 dengan status Uni atau gabungan bagi negara RI dan Kerajaan Belanda.

Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 9:06 PM

1 comment :

Angelina Fransiska said...

Masih bisa dapat buku asli nya ga untuk seri ini ? saya cari2 belum dapat juga..

terima kasih