Aug 14, 2010

Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno


Pramoedya Ananta Toer ed. & Stanley Adi Prasetyo ed.

Memoar Oei Tjoe Tat

Pembantu Presiden Soekarno


Republik Indonesia terdiri dari suku bangsa yang mau mempersatukan diri berkat tokoh pemersatu ulung yang konon mempersatukan Nusantara tanpa meneteskan darah setitik pun dialah Bung Karno. Salah satu suku minoritas yang sebenarnya juga sebuah bangsa besar di Tiongkok ialah suku Tionghoa.
    Presiden Soekarno yang penuh perhatian pada orang Tionghoa yang telah menjadi penduduk Nusantara selama berabad akan tetapi masih mengukuhi tradisi leluhurnya tentu dengan cerdik mau mengangkat Oei Tjoe Tat kelahiran Semaraang yang berasal dari keluarga Tionghoa mampu dan dengan sendirinya pendidikan yang didapatkan Bung Oei atau OTT ini sangat tinggi. Ia seorang sarjana hukum yang pernah membuka biro pengacara bersama tokoh-tokoh Tionghoa terkenal lainnya sebagai pendekar hukum.
    Oei Tjoe Tat seorang petinggi Baperki dalam kapasitasnya ini ia layak untuk berada di Istana mendampingi Presiden. Dalam musyawarah mendirikan Badan Permusyawarahan kewarganegaraan Indonesia Oei Tjoe Tat namanya sejajar dengan tokoh lainnya yakni Siauw Giok Tjhan yang kemudian tampil menjadi pemuka Baperki. Tujuan Baperki jelas menjadi corong bagi keturunan Tionghoa dalam persoalan politik dan kenegaraan.
    Oei Tjoe Tat yang jujur dan tidak mau memanfaatkan jabatannya demi harta itu sangat cocok dengan Presiden yang juga orang tidak berharta. Tugas-tugas yang dibebankan kepada Oei Tjoe Tat antara lain mengunjungi daerah-daerah yang padat penduduknya dan pasti ada komunitas Tionghoa yang besar. Di Kalimantan Barat, Singkawang penuh dengan penduduk Tionghoa yang rata-rata ekonominya kurang mampu. Kedatangan seorang wakil Pemerintah Pusat bahkan wakil pribadi Presiden Soekarno yang nyata-nyata orang awak itu tentu membawa dampak yang positif bagi Republik yang belum kokoh itu.
    Oei Tjoe Tat terpilih menjadi Pembantu Presiden Soekarno bukan tanpa pertimbangan mentah malahan sebaliknya Oei Tjoe Tat menjadi orang yang dipercaya Presiden dalam peristiwa Gerakan September 1965 untuk mengumpulkan jumlah korban di daerah-daerah yang terjadi perang saudara antara golongan komunis dan golongan agama. Oei Tjoe Tat yang cukup luwes itu akhirnya menyimpulkan sekian kali lipat jumlah korban dari hasil laporan yang diberikan pejabat setempat. Jutaan korban orang-orang yang tewas itu perlu dihitung tanpa menggolongkan dari kelompok mana mereka berasal. Karena dapat dipastikan hampir 90 persen tentu orang-orang yang dianggap komunis.
Memoar Oei Tjoe Tat
    Konfrontasi dengan Malaysia dan lain-lainnya sebagai kebijakan Soekarno itu ternyata tidak selalu berjalan mulus. Ada pihak lain terutama dari kalangan sesama militer yang mencoba membangun kekuatan sendiri demi kelak membawa keuntungan diri di masa depan. Kelompok semacam inilah yang dengan lihai dideteksi dan dapat diakali oleh Oei Tjoe Tat dalam rangka menyampaikan tugas-tugasnya yang dibebankan oleh Soekarno yang sangat dihormatinya.
    Prahara politik dengan terjadinya Gerakan September 1965 membawa imbas dahsyat bagi siapa saja termasuk aparat pemerintah dan pejabat pemerintahannya mulai dari tingkat rendahan hingga seorang menteri. Oei Tjoe Tat bukan saja terlempar dari jabatannya dan tidak mendapatkan sepeserpun uang pensiun, juga tidak mendapatkan penghargaan apapun dari pemerintah lanjutan yang menggantikan Orde Lama yakni Orde Baru. Orde Baru lebih jauh lagi bertindak melarang Buku "Memoar Oei Tjoe Tat" ini.

****

tulisan bersinggungan
Subowo bin Sukaris
Hasta Mitra Updated at: 11:16 AM

3 comments :

seonggok buku said...

saya ingin sekali membaca buku ini, namun sampai saat ini saya belum juga bisa mendapatkan buku ini. dimanakah saya bisa mendapatkan buku ini? apakah hasta mitra selaku penerbit ada keinginan untuk mencetak kembali buku ini? sekali lagi adakah info yang bisa saya dapat agar saya bisa mendaptkan buku ini?

Subowo bin Sukaris said...

Terimakasih atas komen bung Seonggok Buku, mengenai buku Memoar Oei Tjoe Tat yang terbit 27 tahun yang silam (1987) itu memang belum pernah mengalami cetak ulang lagi sejak itu. Setahun terakhir (2008) menjelang wafatnya pendiri terakhir Trio Hasta Mitra, Joesoef Isak, memang ada rencana mencetak ulang “Memoar Oei Tjoe Tat” (OTT). Akan tetapi sayang sekali belum terlaksana hingga saat ini. Dan mengingat cetakan terakhir mengalami tenggang waktu yang begitu lama sejak itu, maka saat ini tidak tersedia stok buku OTT tsb pada Hasta Mitra. Oleh karena itu saran kami ialah mencari di kios kecil atau yang menyediakan buku antik atau semacam itu. Berikut ini sekadar contoh situs yang menawarkan buku OTT yang bung ingin baca. Salam.
Jogyabuku:Memoar Oei Tjoe Tat”

Anonymous said...

harga buku terbitan Hasta Mitra mahal2, khususnya buku semacam ini, bisa sampai 500ribu. adakah solusi dengan menerbitkan kembali?